surat kepada mbakyuku.

aku aduk-aduk lagi memori tentangmu — tentang kita. yang pada suatu masa berada dalam hawa udara yang sama. ketika apa yang kau ungkapkan menampar-namparku dan membuatku bertanya: dari mana kau tahu?

‘you are not alone,’ katamu

maka aku terbelalak ketika kau hadapkan padaku kenyataan yang tidak kubayangkan.

‘aku tidak seperti itu,’ kataku
‘kau munafik’

entahlah.

***

lalu mbakyu, aku ingat saat itu. ketika kita pertengkarkan apa yang bagimu sebenarnya sama saja meski bagiku beda. dan apa yang bagiku sebenarnya sama hanya kita meletakkannya berbeda.
aku tahu kau menangis, merasa salah, berdosa, dan mengajakku ikut merasakannya. maafkan aku jika saat itu aku belum bisa. aku sedang berada dalam kenyamanan luar biasa. kau katakan padaku keputusanmu yang menurutmu harus dilakukan meskipun pahit, yang membuatmu menangis dan aku tidak tahu harus berkata apa. senyummu palsu dan tawamu imitasi. aku percaya kau benar-benar menderita, aku percaya semua yang kau kata, aku percaya memang itu keputusanmu.

‘mbakyu, kenapa sakitnya tidak bisa hilang?’ tanyaku padamu, ketika pada akhirnya aku pun harus melakukannya.
‘ayolah, kamu bisa. kamu harus kuat’

tapi kenapa itu saja yang kau katakan? kenapa kau menghindar setiap aku ingin bicarakan?
aku mengira itu adalah kesalahanku yang mencoba ikut campur urusanmu. hei, tapi aku tidak begitu. bukankah kau sendiri yang menyeretku ke sana? mungkinkah ini sisa dari pertengkaran kita, yang tidak membiarkan semuanya kembali sama seperti sebelumnya?

***

mbakyu, begitu lama aku mengacuhkanmu dan sibuk dengan diriku sendiri. sampai suatu hari aku melihatmu dalam keadaan yang menohokku.

kau munafik, pikirku saat itu.

lalu aku mencoba menenangkan diri. melihat mengapa tak seorang pun menganggapmu begitu. mengapa semua berbahagia untukmu, sedang aku masih bingung harus bagaimana? aku diliput perasaan marah karena merasa kau tipu. iri pada kebahagiaanmu. kecewa akan ketidaktahuanku. rantai mana saja yang telah hilang dari mataku?

***

mbakyu. kau, seperti katamu bukanlah manusia sempurna. yang masih mengumpat dan mencela. aku juga. jika aku meminum ramuan Dr. Henry Jekyll, kuyakin, Mrs. Hyde atas diriku akan lebih tinggi besar dari apa adanya aku.

dalam kepenasaranku aku mencari. mengaduk lagi tentangmu, tapi kutahu kau tak biarkan. dan tak akan ada apa pun untuk kutemukan. jadi ya sudah, pikirku. lupakan. tapi mbakyu, maaf. aku masih ingin katakan ini padamu: kau munafik.

Advertisements

6 thoughts on “surat kepada mbakyuku.

  1. seperti biasa,
    ini cerita khas seorang Latree,
    dan saya harus membaca berulangkali untuk mencari inti cerita ini
    😀

  2. Jadi ini cerita Latree…selama ini cuma saya dengar dari sahabat

    Salam kenal yaa… saya baru belajar jalan nie, mohon bimbingannya 🙂

  3. jangan biarkan dia terbang sendirian. jangan biarkan dia berjalan tanpa tau arah. tetaplah kau bs mendampinginya. jangan bosan tuk selalu berucap. jangan bosan tuk selalu bertengkar dgnnya. jangan bosan tuk selalu menengadahkan do’a utknya.

    Nah looo…..sok tau bgt nich….. 🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s