Dari ‘dalam’ Tembok.

Bukan dari sebaliknya. Aku yakin.

***

Malam ini hawa panas luar biasa, rasanya. Aku lelah, ngantuk, dan satu-satunya yang kuinginkan adalah tidur pulas. Tapi tidak bisa. Keringatku terus mengalir meskipun kipas angin sudah kuputar di angka paling kencang. Dan aku merelakan diri bersiap di serbu nyamuk, hanya mengenakan celana kolor sepahaku tanpa yang lain. Heran. Padahal sore tadi kota ini sempat diguyur hujan walaupun tidak deras. Kaos yang semula kupakai, dan kulepas karena tidak tahan gerah, masih kupegang. Alih fungsi menjadi lap keringatku.

Kuberanikan membuka jendela yang menghadap belakang kamarku, walaupun tanpa teralis. Berharap ada angin yang bisa mendinginkan sungup kamarku. Tapi sepertinya memang sedang tak ada angin sama sekali.Aku melongokkan separuh badan keluar jendela. Gila, bahkan di luar pun hawanya hangat. Ada bulan hampir penuh, tapi mendung menutup lebih dari separuh luas langit yang tertangkap batas pandang mataku.

Aku kembali ke kasur sambil melirik jam. Hampir tengah malam dan aku belum bisa terpejam, padahal besok aku harus siap jam empat pagi. Trunks akan menjemputku habis subuh untuk pergi ke Yogya. Katanya mungkin malah dia mau sholat shubuh di sini saja.

Kusambar koran entah kapan yang tergeletak di atas meja, kukibaskan mencoba menambah angin, menguapkan keringat yang keluar dari pori-pori sekujur tubuhku. Not bad. Tapi kalau begini caranya, bagaimana aku akan tidur? Terpikir untuk mandi, tapi malasnya…

Kutempelkan badan ke tembok, berharap permukaannya dingin – dan mengajak badanku ikut mendingin. Tidak berhasil. Tembok juga hangat, seperti udara di luar dan di dalam kamar yang sama hangatnya. Tapi aku merasa lebih nyaman.

Dalam terpejam, sunyi, dan telingaku yang menempel di tembok. Tiba-tiba kudengar suara tangis anak kecil. Perempuan. Ah entah, mungkin juga laki-laki. Suara kanak-kanak cenderung mirip, berfrekuensi tinggi. Mula-mula terdengar sayup, jauh. Lalu terasa semakin dekat – dekat – dekat. Kubuka mata dan kuyakinkan aku tidak bermimpi. Tentu saja aku tidak bermimpi, maksudku, seharusnya. Aku belum tidur sama sekali, sedang setidaknya perlu setengah tidur untuk sebuah mimpi jaga.

Kujauhkan kepala dari tembok dan suara itu menghilang. Kulekatkan telinga lagi dan aku bisa mendengarnya lagi. Kucoba mendengarkan lebih seksama. Suara tangis anak itu semakin nyata terdengar. Seperti tangis yang sudah berjam-jam, isak yang menyesakkan dan mengguncang badan. Aku menunggu suara itu mengatakan sesuatu, tapi hanya isak itu berkepanjangan. Dekat sekali. Ya Tuhan, apakah anak itu menangis di balik tembok kamarku?

Tanpa pikir panjang aku melompat keluar jendela dan berlari ke samping rumah – ke sebalik tembokku. Tak ada apa pun. Halaman samping, ataulebih pantas di sebut gang karena lebarnya yang kurang dari dua meter, lengang dari tempat aku berdiri hingga ke halaman depan.

Aku berjalan perlahan ke arah depan, mencoba berdiri di titik yang kuperkirakan tempat kudengar suara tangis tadi. Memasang telinga, tapi tidak ada suara itu. Bahkan suara binatang kecil malam pun tak ada. Aku mendekat ke tembok pembatas dengan rumah sebelah yang melebihi tinggiku. Menempelkan telinga, mungkin suara itu dari balik tembok sana. Tapi nihil, tidak ada apa-apa juga.

Sejenak aku diam. Heran pada diriku sendiri yang setengah telanjang di tengah malam berdiri di luar rumah. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, tapi tiba-tiba sayup kudengar suara tangis kecil itu lagi. Celingukan aku mencari dari mana arahnya. Halaman depan terlalu jauh dari tempat aku berdiri, dan halaman belakang sudah kulewati – tidak ada siapa-siapa. Aku mendekat ke tembok kamarku, suara itu… di situ. Di dalam kamarku?

Cepat aku berlari kembali ke jendela, tapi kamarku kosong seperti ketika kutinggalkan. Perlahan aku melompat masuk. Mengendap seolah berusaha tidak membuat suara, aku tempelkan telinga ke tembok lagi, mendengarkan lagi. Suara itu masih di situ. Aku lari keluar lagi, tapi tidak ada apa-apa, seperti tadi. Kudengarkan di tembok, ada suara itu. Aku masuk lagi, tapi kamar kosong. Aku mendengarkan ke dalam tembok, ada suara itu.

Entah berapa kali aku keluar masuk mencari. Tapi suara itu kudengar di dalam tembok. Di ‘dalam’. Bukan di sebalik tembok, yang berarti di luar kamar kalau aku sedang di dalam, atau di dalam kamar ketika aku sedang di luar. Dari dalam tembok, aku yakin.

Di kasur, aku menempelkan telingaku ke tembok. Masih mendengarkan suara itu. Suara dari dalam tembok. Tangis yang semakin menyesakkan.

Tiba-tiba terdengar yang kutunggu-tunggu. Suara itu berkata, “Keluarkan aku, tolong…”

gambar dikutil dengan semena-mena dari web ini

Advertisements

9 thoughts on “Dari ‘dalam’ Tembok.

  1. saya malah fokus pada bagian make kolor dan melepas kaos
    ini yg cerita lelaki apa cewek sih ? 😀

    *persis kelakuan saya di kamar yg panas ini *
    :mrgreen:

  2. @wahyu: eh… ya pokoknya cerita aja lah…
    @warm: persis pertanyaan Ibit. dan jawabanku sama untuk kalian berdua: terserah mau dianggep itu laki atau perempuan 😀

  3. @escoret: ngikutin kok, ga nimbrung aja 😀
    @kis: please do.
    @angel: biasa aja ah 😉
    @anny: ga tau apa itu, nanti biar keluar sendiri deh…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s