siang yang panas itu

ketika matahari baru sedikit bergeser dari tepat di atas ubun-ubun. di tengah keriuhramaian pawai. mata-mata takjub memandang para peserta pawai. kamera-kamera tak henti menangkap gambar berbagai warna.

aku masih hilir mudik ke sana kemari, mencoba mencari hal lain yang lebih menarik dari peserta pawai itu sendiri. kau berdiri di depan spanduk pawai, mencoba mengambil gambarmu sendiri berlatar belakang itu. tanganmu cukup panjang, tapi tak cukup panjang rupanya.

“boleh saya bantu ambil gambarnya?” tanyaku
kau tersenyum dan ulurkan kameramu padaku. ah, terlalu canggih dibandingkan senjata yang kubawa — handphone.
“gimana caranya…”
dan kau tunjukkan.

jepret, dan “terima kasih.”

***

sore itu, di antrian yang tak terlalu panjang dalam belanjaan tak terlalu banyak. kau di kasir sebelah. aku mencoba mengingat di mana pernah melihatmu. kau memandangku seperti sedang melakukan hal yang sama.

aku tahu kita pernah bertemu dan bicara, tapi tak ingat kapan di mana. aku tersenyum ragu, kau balas ragu. lalu kau pergi lebih dulu, memandang sekilas kepadaku. sebelum benar-benar berlalu.

hey, sudah ingat kah kau?

Advertisements

11 thoughts on “siang yang panas itu

  1. La….
    akhirnya setelah sekian lama mencoba, aku nulis lagi. tapi karena ga sanggup melanjutkan blog yg dulu, skg pindah ke lain hati deh ^.^

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s