Tidurlah, tidur.

Ini sudah hari ketujuh Karyo tertidur, tanpa bangun. Sejak hari kedua tidurnya itu, Karyo dibawa ke rumah sakit dan diinfus. Ini dilakukan karena berdasarkan hasil cek up, Karyo memang hanya benar-benar tidur.
Inung istrinya, sudah khawatir Karyo meninggal. Berulang kali dia meraba sendiri nadi suaminya. Tapi masih berdenyut seperti biasa. Dia mendekatkan wajah ke hidung Karyo, masih ada nafas teratur – nafas tidur. Tapi usaha apa pun yang dilakukannya tidak berhasil membangunkan Karyo.
Dari cara lemah lembut menyentuh wajahnya. Lalu menggoyang pelan hingga mengguncang. Menawarkan aroma secangkir kopi di depan hidung. Mengusap dengan tangan yang dibasahi agar terasa dingin. Memercikkan air, bahkan hingga mengguyurkan seember. Karyo tetap lelap.
Ketika sudah sehari semalam, Inung tidak bisa lagi menahan paniknya. Sambil terisak dia mendatangi Karso, kakak Karyo yang tinggal berpunggungan rumah dengan mereka. Karso melakukan lagi semua yang sudah dilakukan Inung, tapi tetap tak ada hasilnya. Akhirnya dia menuruti keinginan Inung, membawa Karyo ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Karyo diperiksa lagi. Dibuka matanya, diraba nadinya, diukur tekanan darahnya, diperiksa jantungnya. Semuanya normal. Dokter sampai mencoba kejutan listrik tapi Karyo tetap tidak membuka mata. Lalu segala kabel yang Inung tidak mengerti meskipun sudah dijelaskan, dipasang di tubuh Karyo. Gerakan matanya dipantau. Kata dokter itu bisa untuk mengira-ngira, sedang mimpi apa dia. Tapi matanya tenang, grafiknya datar tak ada naik turun sama sekali. Karyo tidak bermimpi.
Jadi tidur apa ini?

***

“Bangunkan suamiku, bangunkan!” Inung berteriak-teriak histeris di depan Ranti.
“Aku tidak bisa, Mbakyu…”
“Kamu harus bisa. Ini sama saja pembunuhan. Suamiku hidup tapi seperti batang pohon pisang tak bernyawa. Bernafas, berdetak jantungnya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bangunkan Ranti, bangunkan… tolong aku” Inung berubah dari berteriak menjadi menghiba.
“Maaf sekali Mbakyu. Aku benar-benar tidak bisa. Cuma Mas Tejo yang bisa membangunkan Kang Karyo. Aku tidak bisa berbuat apa-apa…”
“Tapi bagaimana Mas Tejo mau membangunkan Kang Karyo kalau dia sendiri sudah mati? Bagaimana…!!” Inung histeris lagi.

***
Tahlilan tujuh hari kematian Tejo menjadi agak rusuh. Semua bingung.
Beberapa bulan terakhir Tejo mempelajari hipnotis. Karyo telah dengan sukarela menjadi bahan uji coba. Tejo memberikan sugesti pada Karyo untuk tidur dalam sedalam-dalamnya, dan hanya Tejo yang bisa membangunkannya. Tak disangka, Tejo meninggal tiba-tiba karena serangan jantung, sebelum sempat membangunkan Karyo…

Advertisements

9 thoughts on “Tidurlah, tidur.

  1. @cyperus: bangunlah, bangun…
    @pakguru: saya juga kurang tahu pak, beneran ada atau tidak. sebenernya ini saya maksudkan jadi cerita humor, kok malahnya jadi tragis gini ya 😀

  2. @queeny: ini ide ringan aja sih menurutku. humor malah. ga tau kenapa jadinya tragis begini…
    @escoret: bikin apaaa…?

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s