SUICIDE : Potret Kekalahan Perempuan

ditulis oleh Gema Yudha; penyair, penonton film, pembaca yang malas, dan sesekali menulis.

Judul Buku : Suicide
Pengarang : Latree Manohara
Editor : Dwicipta/Agunghima
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri, Yogyakarta
Cetakan Pertama : Agustus 2009
Tebal Buku : xiv + 112

Karya sastra adalah sebuah karya fiksi. Seluruh aspek yang ada di dalamnya diberdayakan untuk membangun sebuah dunia imajiner. Mulai dari narasi, dialog, tema, plot hingga tokoh-tokohnya. Semuanya diupayakan agar yang hadir kemudian terasa seolah-olah benar dan nyata.

Seolah-olah, karena kebenaran dalam sastra punya acuan tesendiri yaitu imajinasi. Kita tidak bisa mengatakan apa yang disuguhkan dalam sebuah karya sastra adalah fakta-yang menyiratkan “sesuatu yang sesungguhnya”. Rene Wellek dan Austin Werren dalam bukunya Theory of Literature, mengatakan bahwa fakta adalah rangkaian ruang dan waktu terjadinya sebuah peristiwa. Bisa dikatakan bahwa fakta adalah peristiwa itu sendiri.

Pernyataan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih jauh bahwa semua yang diceritakan ulang, baik lisan atau tulisan, atau juga gambar dan film, akan jatuh menjadi fiksi. Peristiwa yang kembali disajikan ulang tidak akan membeberkan keseluruhan peristiwa itu sendiri, pasti ada detail-detail yang hilang.

Dalam dunia jurnalistik pun kebenaran berdiri dalam pondasi yang rapuh. Dia akan sangat mudah tergelincir dalam kubangan dusta. Hal ini bisa terjadi karena himpunan data, posisi angle yang diambil si wartawan, atau data yang diberikan narasumber. Himpunan fakta dan data yang tersedia tidak serta merta menjadikan kenyataan yang dikabarkan, atau diceritakan ulang, menjadi sebuah kebenaran. Makanya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya Elements of Journalism mengatakan kebenaran dalam jurnalisme bersifat fungsional. Dia akan jatuh dalam dusta, tapi justru posisi ini yang mengharuskannya merevisi kembali fakta dan data yang disampaikan.

Charles Dickens, melalui Vincent Crummles, tokoh dalam novel ketiganya, Nicholas Nickleby mengatakan “art is not truth, art is a lie, that reveals the truth.” Sastra adalah dusta, yang mengungkap kebenaran. Jadi kebenaran dalam sastra adalah kebenaran yang ditemukan oleh pembacanya. Kebenaran itu tidak berada dalam tubuh sastra, tapi kita harus melampauinya untuk menemukan kebenaran itu. Maka referensi pembaca akan sangat penting dalam membaca.

Namun demikian, kita tak bisa juga serta merta mengatakan apa yang ditulis oleh seorang sastrawan adalah sebuah dusta. Sebab mungkin saja apa yang dituliskannya merupakan sebuah kebenaran dari apa yang diambil dalam kehidupan nyata. Apalagi jika kita mengingat Aristoteles dan Plato yang pernah berfatwa bahwa sastra adalah tiruan kenyataan.

Proses peniruan seorang penulis bukanlah penjiplakan, melainkan seperti sebuah metaphysical mirror (metamir). Primo Levi, seperti dikutip dalam Adam’s Rib: Fictions and Realities, sebuah esai Nadine Gordimer yang dimuat dalam bukunya Writing and Being, menyatakan bahwa kaca metafisik atau metamir, keluar dari hukum optik. Dia mereproduksi imaji anda seperti yang terlihat oleh orang yang berdiri di depan anda.

Dia melampaui kerja kaca biasa. Melihat lebih jauh dari apa yang tampak dari objeknya. Seperti orang yang berada di hadapan anda, orang itu bisa saja membaca pikiran anda, arti gerak tubuh, mata, atau kemungkinan-kemungkinan yang bahkan tak mungkin ada pada anda sekalipun, pada objeknya sendiri.

Keutuhan Dunia Imaji Latree

Latree manohara, dalam buku kumpulan cerpen berjudul “Suicide” ini tampaknya juga berusaha menampilkan apa yang dia lihat dengan metamir yang dimilikinya. Dia menyuguhkan apa yang terlihat dalam kehidupan sehari harinya sebagai pegawai negeri sipil, ibu rumah tangga, istri, anak, sahabat,
untuk kemudian diolah menjadi sebuah dunia imaji yang berbentuk cerpen.

Tiap penulis memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan gagasannya, dalam membentuk sebuah “dunia lain” yang berdasarkan pada apa yang dialami dan atau ditangkap oleh inderanya. Inilah tugas seorang penulis, membentuk sebuah dunia lain yang utuh, sehingga apa yang ada di dalamnya benar-benar merupakan sebuah kesatuan, yang memiliki konsekuensi logis terhadap dunia nyata yang dia atau pembacanya saling hidupi.

“Please deh Cin”, salah satu dari 13 cerpen dalam “Suicide” ini, tampak diusahakan Latree agar terlihat menjadi sebuah dunia yang utuh. Menceritakan kisah cinta Cin Larasati dengan R. Sambodo, seorang wartawan “pengembara”. “ kemana pun aku mengembara, kepadamu juga akhirnya aku akan kembali” mungkin kata-kata Sam itu bisa memberikan gambaran tentang cerita itu.

Memang cerita ini, dan sebagian besar cerita lainnya, tidak dijalin dengan rumit. Alur atau gaya bahasanya sederhana saja. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening untuk dapat memahami persoalan apa yang tengah disuguhkan Latree. Mungkin juga terkesan klise, tapi Latree cukup pandai meletakkan kejutan-kejutan dalam ceritanya.

Cerita ini terdiri dari delapan bagian. Prolog dibuka dengan percakapan penuh cemburu Cin Larasati pada Sambodo. Cin merasa Sam tak bisa menjaga cinta kepadanya. Buktinya terlihat dari sms-sms yang masuk ke handphone Sam. Dan Cin memang tahu itu. “ dia terlalu sentimental, peka. Dan dia mudah jatuh cinta.”

Keduanya sama-sama mengerti apa yang saling diinginkan, apa yang harusnya tak dilakukan. Tapi keduanya tak bisa berbuat apa-apa. Bagi Cin, “aku tahu akan beginilah keadaannya, entah sampai kapan.”

Bagian kedua,pertemuan pertama, menceritakan pertama kali Cin bertemu dengan Sam pada acara launching novelnya yang sepi pengunjung. Kekecewaan Cin, yang berlanjut dengan sepinya peminat novelnya, hingga tiba-tiba muncul resensi yang menaikkan tingkat penjualan novel Cin, yang pada bagian selanjutnya diketahui yang menulis resensi itu adalah Sam.

Bagian ketiga hingga keenam menggambarkan peningkatan kedekatan hubungan mereka. Pengenalan pribadi masing-masing, menjalin hubungan, dan akhirnya menikah. Di bagian selanjutnya baru muncul masalah. Satu persatu perempuan lain masuk dalam kehidupan Sam, yang membuat hidup Cin tak nyaman. Lalu ditutup dengan seluruh bagian pertama yang mengisyaratkan terjadinya perputaran masalah yang sama.

Sesungguhnya cerita ini menarik, tapi saya curiga karena Latree ingin membentuk sebuah dunia imaji yang utuh, yang memberikan alasan, punya hubungan sebab akibat yang kuat, dia terjebak pada detail-detail cerita yang sebenarnya tak perlu. Dan ketika bermain detail-detail itu, dia masuk ke dalam dunianya sendiri, hingga sepertinya dia lupa sedang bercerita pada orang lain.

Misalnya saja ada bagian ketiga, Terjebak di Kericuhan, menceritakan keadaan ketika Cin dan Sam bertemu lagi untuk yang kedua kalinya. Mungkin Latree bermaksud menyampaikan bagaimana kedua tokohnya bertemu kembali dan kemudian menjadi dekat. Sayangnya Latree mengambil awalan yang terlalu jauh.

Pada bagian ini Cin ada di halte, menunggu bis sepulang bekerja. Tiba-tiba ada sekelompok massa yang sedang berdemo mengarah ke tempatnya berdiri. Latree menceritakan pendemo itu berteriak, kata-kata yang dinyanyikan, polisi yang berusaha membubarkan, hingga akhirnya tokohnya terkena lemparan batu dan pingsan.

Bagi saya adegan demo ini sungguh tidak perlu karena tidak memiliki korelasi erat dengan awal dan akhir cerita, tapi sebagai sebuah bagian cerita dia terbentuk secara utuh dan dapat berdiri sendiri. Kalaupun bagian ini akan dipertahankan, saya kira cukup ketika Sam datang menolong Cin yang hendak pingsan. Perhatikan monolog Cin ketika melihat para pendemo datang. Bagi saya disini Latree telah kehilangan fokusnya, “…aku sendiri tidak suka kenaikan BBM. Ongkos angkutan pasti naik dan berikutnya tentu harga semua barang. Sedang gajiku sebagai guru di sekolah swasta masih seperti semula…”

Contoh lain, dalam cerpen “Suicide”. hal ini muncul di bagian deskripsi gedung ketika Vi hendak bunuh diri. Vi menggambarkan keadaan yang dia lihat. Tempat dia berdiri, ruang-ruang di sekitarnya, pencahayaannya, tapi kemudian tergoda mengomentari perilaku seorang perempuan yang kesulitan memarkirkan mobilnya. Saya agak susah menerima kenyataan Vi masih bisa mengomentari hal seperti itu dalam kondisi stress yang menyebabkannya ingin bunuh diri. Untung ini muncul sedikit saja.

Latree memiliki kemampuan deskripsi cukup bagus dan keinginan kuat untuk menyajikan dunia imajinernya secara utuh. Tapi saya kira dia kurang lincah memainkan irama gerak alur ceritanya. Ada bagian yang seharusnya ditulis dengan cepat, ada yang lambat sehingga cukup untuk menceritakan
detail-detail yang penting dalam bangun cerita tersebut. Saya kira irama gerak cerita ini penting dimainkan agar sebuah cerita tidak jatuh membosankan.

Potret Kekalahan Perempuan

Sebagai seorang perempuan (yang sudah menikah), Latree menggunakan metamirnya untuk menangkap persoalan-persoalan perempuan dan pernikahan untuk dituangkan dalam cerpen-cerpennya. Namun tokoh-tokoh dalam cerpen Latree bukanlah perempuan yang berani berjuang mengepalkan tangannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, untuk menentang apa yang dianggap mengekang dirinya.

Berbeda dengan penulis perempuan yang menempatkan tokohnya sebagai sosok yang berani melawan, semacam Djenar Maesa Ayu, atau Ayu Utami, tokoh perempuan dalam cerpen Latree adalah sosok perempuan yang penurut, pasrah, dan nrima.

Pada “Menunggu” tokoh Latree adalah seorang perempuan yang, atas nama cinta, rela menjadi istri simpanan seorang pengusaha kaya yang sangat sibuk. Dia bisa berada di beberapa kota dalam sehari. Ketika itu si pengusaha berada di kota yang sama dengan Dina, istri simpanannya, untuk keperluan bisnis. Menurut jadwal setelah selesai meeting dia punya beberapa jam untuk bertemu Dina sebelum kembali ke kota asalnya.

Bertemu beberapa jam atau beberapa menit sungguh berharga bagi Dina yang sangat sulit mendapatkan waktu dari suaminya. “Penantian berhari-hari kadang harus cukup terbayar dengan satu atau dua jam bersama. Dan Dina menerima semua itu.” Penantian Dina waktu itu juga cukup lama, tapi akhirnya pertemuan yang diharapkan tak bisa didapatkan. Dina akhirnya berada pada keharusan menerima keadaan itu.

Baik si pengusaha maupun ibu Dina sudah mengingatkan konsekuensinya menjadi istri simpanan. Dina tahu dan dia menerimanya dengan menutupi seluruh kepedihan atas kondisi yang dia terima. Dina bertahan dan mengatakan “Kalau bukan karena cintaku yang besar kepada Juna, aku akan menyebut semua kemauanku untuk bertahan ini sebuah kegilaan”

Pada cerpen “Please deh Cin” juga demikian. Cin bukanlah tokoh yang berani berontak menentang sikap Sam yang senang berpetualang. Tokoh-tokoh cerpen Latree dalam buku ini adalah tokoh perempuan yang kalah. Perempuan yang lemah di satu sisi, tapi kuat di sisi lainnya.

Cerpen “Suicide” lebih parah lagi menempatkan tokohnya dalam keterpurukan. Bercerita tentang Vi yang berusaha bunuh diri berkali-kali karena cinta pada lelaki yang dicintainya tak bisa terpenuhi. Pertama karena orang tua Rahman, lelaki yang dia cintai, mengirim anaknya itu ke Amerika sebagai usaha untuk memisahkan cinta mereka.

Awalnya hal ini tak terlalu menjadi penghalang karena mereka tetap berhubungan tanpa sepengetahuan orang tua Rahman. Tapi kemudian, penyebab kedua, suatu hari Vi diperkosa sehingga dia merasa dirinya tak pantas hidup. Apalagi komunikasi dengan Rahman semakin berkurang dan akhirnya hilang—walaupun akhirnya diketahui hal ini terjadi karena orang tua Vi menganggap hubungan dengan Rahman akan memperburuk keadaan.

Tokoh-tokoh yang dibentuk Latree adalah tokoh perempuan pesakitan yang kalah dan tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keadaannya. Tapi kalau kita cermati lagi mereka adalah perempuan-perempuan yang kuat, kukuh dan teguh memegang apa yang diyakininya. Mereka tidak melawan dengan tindakan-tindakan konkrit yang bisa merubah keadaan atau, apalagi, bertindak destruktif. Mereka melawan dalam diam.

Tokoh-tokoh perempuan itu memang cenderung pesimis, murung, berpandangan suram dan muram. Tapi dalam keadaan yang seperti itu saya menangkap betapa keras kepalanya mereka, betapa harapan, optimisme, yang mungkin hanya sekedar, dapat menyala terjaga hingga membuat mereka mampu bertahan—dalam hal ini demi mendapatkan cinta dari orang yang dicintai.
Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, mengatakan bahwa bunuh diri adalah sebuah pengakuan si pelaku bahwa dia tidak mengerti dan kalah oleh kehidupan. Tokoh-tokoh dalam cerpen Latree saya kira mengerti hidup yang mereka jalani sangat menyakitkan, tapi mereka bertahan untuk mendapatkan apa yang diharapkan meski itu sangat kecil.

***

Latree Manohara menuliskan 13 cerpen yang ada dalam buku ini dengan ringan, dengan cara popular sehingga tak ada kesulitan untuk memahami jalan cerita dalam buku ini. Sebagai sebuah karya sastra, saya kira dia sudah memenuhi syarat menghibur dan memberi manfaat—walaupun tiap orang akan berbeda soal manfaat yang dicari, tapi saya yakin buku ini cukup menghibur.
Saya sepakat dengan pernyataan Dwi Cipta dalam kata pengantar buku ini yang mengatakan “ Tokoh Latree Manohara mungkin tak sehebat Wei Hui, namun ia memiliki kejujuran pandangan dan intensi pengejaran hal-hal fundamental yang ingin ia dedahkan dalam prosa dan puisi atau bahkan dalam kehidupan nyata.”…” Bukankah kesaksian yang jujur tidak jarang menghancurkan sebuah argumentasi yang cerdas dan rumit namun dibuat-buat?”

Latree Manohara tidak sedang menggurui, memberi tahu yang benar dan salah, atau mengajak pembacanya merubah suatu keadaan. Dia hanya menulis, menyampaikan apa yang dia lihat dengar dan rasakan melalui metamirnya, tanpa tendensi apapun. Tapi dengan cara ini, pembaca seperti disuguhi potret yang membuatnya tertawa, menangis, gregetan, merasa malu, kadang seperti ditampar. Dia dengan lirih mengatakan bahwa ada, mungkin banyak, keadaan yang menyakitkan yang kita tak ingin mengakuinya. Soal nanti pembacanya akan memperbaiki keadaan atau tidak, itu bukan masalah.

* diterbitkan di majalah hayamwuruk.

Advertisements

16 thoughts on “SUICIDE : Potret Kekalahan Perempuan

  1. yg jelas, saya belum bisa bikin cerita panjang dan sedikit berat kayak Suicide

    apalagi bikin resensi yang teramat berat gini
    bisa pingsan saya
    🙂

  2. saya terdiam, kembali tertawa, termenung, ngakak lagi, ketika membaca bagian “Plis deh cin…” Berasa ada kesamaan yang terjadi dalam hidup saya. Berasa karakter cowoknya, entah pernah saya alami, atau terjadi pada cewek yang pernah saya kenal. Sang pengembara…pokoknya berasa pernah mengalami.

    Dan satu lagi, “Kondom”. saya suka pesan moralnya. cara menahan godaannya. Menyediakan kondom, yang akhirnya itu yang membuat tersinggung, dan akhirnya lagi mereka gak jadi melakukan hubungan itu. Keren.

    Kenapa kondom harus dibikin berasa buah? soalnya kalo berasa ikan, repot. amis tambah amis wakakakakakk

  3. mba latreeeee…. baca ini saya jadi inget lagi.. 😀

    dari dulu pengen pesen buku ini sama tanda tangannya mba La.. 😀

    jadi inget lagi…

    *siap-siap bikin surat cinta buat mba Latree* :mrgreen:

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s