Halo, Aku dalam Novel – nuril basri

Judul: Halo, Aku dalam Novel
Penulis: Nuril Basri
Penerbit: Gagas Media, 2009
Tebal: vi + 301 halaman

*********************

dulu, sebelum memulai menulis cerpen pertamaku, aku hanya menulis dua alinea yang kupasang di MP-ku. aku malah minta seorang teman yang sudah sering menulis cerpen untuk melanjutkannya. tapi rupanya dia beralih hobi ke fotografi, jadi alinea yang kutawarkan itu merana cukup lama.

waktu itu kupikir, menulis cerpen adalah hal yang sulit. tapi akhirnya kucoba juga. ternyata bisa, entah itu jadi bagus atau jelek.

sekarang, banyak teman menyarankan agar aku mulai menulis novel. duh. kebayang kesulitannya akan berlipat ganda dibanding menulis cerpen. lebih banyak tokoh, lebih banyak konflik, dan katanya, sebaiknya lebih dulu membuat kerangka. itulah susahnya, aku (hampir) tidak pernah membuat kerangka sebelum menulis.

tapi membaca novel ini aku gemas. di awal kelihatannya jelas awalan ceritanya. pemuda Pram sekolah di Amerika atas tuntutan orang tuanya yang kaya raya. jurusan yang dijalani tidak sesuai dengan hasrat Pram yang ingin jadi penulis. tapi Pram tetap saja berangkat demi memuaskan (bukan membahagiakan) orang tuanya.

sambil menjalani kuliahnya di negeri orang, Pram mulai menulis novel. di sini lah asiknya novel ini. cerita antara Pram sebagai Pram dituturkan berselang-seling beriringan dengan novel hasil tulisan Pram. kepribadian Pram yang tertutup dan cenderung acuh pada sekitarnya, retak di tokoh utama novelnya yang sengaja dia ciptakan jauh dari sempurna, Halo.

jadi begitulah cerita berjalan. Pram yang sempoyongan menghadapi kebosanannya menjalani kuliah dan teman-teman yang menyebalkan. hari-harinya menenteng lap top dan lebih sibuk menuli novelnya ketimbang peduli pada hal lain.

di dalam novel Halo menjalani kisah yang serba ajaib dan serba seketemunya. dari bekerja menjaga toko sampai terdampar di hutan, bertemu lalu berkawan dengan gerombolan perampok. tokoh-tokoh muncul seperti ciluk ba serba tiba-tiba. jalan cerita membelok ke sana kemari tidak karuan. setting tempat berpindah pindah melompat lompat.

terus terang aku bilang novel ini semrawut. jalan ceritanya nabrak nabrak. dan novel di dalam novel ini, lebih semrawut dan nabrak-nabrak lagi. ketika Pram kemudian dihantui tokoh-tokoh novelnya, aku berharap akan ada sesuatu di kelanjutannya. tapi tidak. bahkan ketika menjelang bagian akhir, yang kuharapkan ada kejutan, ternyata tidak juga. kebingungan Pram tentang nyata atau tidaknya orang-orang di sekelilingnya entah untuk apa. penjelasan atas pengakuan Pram tentang mengapa dia menutup diri, karena merasa suka menciptakan tokoh halusinasi? itu menarik. tapi tidak ada hal istimewa yang terjadi karena keunikan yang diderita Pram itu.

in the end, aku bisa mengerti apa yang coba disampaikan Nuril Basri. kenapa Pram menyebut Halo – aku dalam novel. karena Pram maupun Halo adalah jiwa yang merasa sendiri dan tidak bahagia, lalu mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri-sendiri. well, kalau benar begitu, maka petualangan Halo lebih seru dari pencarian Pram yang berputar di sekitar kampus dan apartemen.

satu hal yang menarik adalah bagaimana Pram menulis novelnya sambil jalan. tidak peduli tokoh-tokoh hadir pating bedunduk. tidak peduli jalan cerita nabrak-nabrak. toh akhirnya jadi. perkara novel yang ditulis Pram itu bagus atau jelek, setidaknya Pram sudah mencoba mewujudkan obsesinya untuk menulis. dan mungkin, seandainya suatu saat aku menulis novel, aku akan mencoba metodenya yang tanpa bikin kerangka. tapi aku musti ekstra hati-hati supaya tidak nabrak-nabrak… 😀

aku ingin bilang novel ini jelek. tapi jangan-jangan aku yang tidak bisa menilai mana novel jelek mana novel bagus.  karena lukisan Affandi, yang bagiku jelek karena ajrut-ajrutan begitu, ternyata nilai seninya tinggi.

10 thoughts on “Halo, Aku dalam Novel – nuril basri

  1. Pingback: Halo, Aku dalam Novel – nuril basri « kata dan rasa - Kumpulan Cerpen

  2. Keren juga yah, bisa (berani?) membuat Novel gaya unik, tak peduli dengan alur, tokoh, atau apapun.

    Menurut saya, itu keren. Ada novel dalam novel. Inspiratif. memberi semangat dan gambaran, “Berkaryalah, apapun hasil karya itu”. Apalagi buat saya yang sama sekali gak mudeng cerpen apalagi novel ini.

    Hanya punya mimpi bisa berkarya saja.

    Oh ya, ceritanya kok ada yang dari menjaga toko, sampe terdampar dihutan. itu kan sayaaaaa😀

  3. zulhaq, definisi keren tiap-tiap orang emang beda ya😀
    om warm, kau pasti akan lebih pusing dariku kalo ngomongin kerangka. ya kan ya kan ya kan?

  4. dari sedikit review yg saya baca, saya jadi tidak tertarik utk membacanya. dari jdul sih menarik. tetapi setelah membaca penuturan postingan ini. jadi memang kurang menarik. Thx jadi saya tak perlu membelinya🙂

    Kalo novelnya dah jadi, saya ikutan di bagi yach🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s