Sadha dan Runti

Ini kisah tentang cinta kami. Cinta yang tak terbebaskan. Bukan hanya orang tua kami tak menyetujui, tapi juga masyarakat di sekitar kami…

***

Namaku Runti. Umurku 18 tahun. Aku anak ketua adat di desa kami. Ayahku sangat dihormati. Orang paling ditakuti, melebih Mbah Rogo, dukun desa. Setiap perkataannya adalah peraturan. Setiap kehendaknya adalah perintah. Dan tak ada yang berani membantah.

Ibuku sudah meninggal ketika melahirkan aku, dan aku anak satu-satunya. Ayah tidak menikah lagi. Tapi Ayah punya wanita semacam selir di pinggir desa. Sesekali aku diajak menemuinya. Ibu Sekar. Aku menganggapnya seperti ibuku sendiri, pun aku dianggap seperti anaknya. Ayah tidak menikahinya, karena jika telah menjadi istri, ayah takut Ibu Sekar akan menganggapku anak tiri dan menjadi jahat…

Di balik bukit di selatan desa kami, ada sebuah desa lagi. Diam-diam aku sering ke sana, sendiri. Tak ada yang tahu. Oh, ada, tentu saja. Mak Nah, yang merawat aku sejak bayi. Awalnya dia ngotot menemani. Tapi lama kelamaan aku dilepaskan, dia percaya aku bisa menjaga diri.

Diam-diam, karena Ayah tidak mengijinkan aku…

… menemui Sadha. Lihatlah pria gagah itu. Yang sekarang berdiri sepuluh langkah di hadapanku. Dia dua tahun lebih tua dariku. Putra tetua adat desa itu. Senyumnya masih sama seperti setahun yang lalu, pertama kali kami bertemu ketika dia sedang berburu. Aku sedang berkeliling saja, mengajak Cemplon kudaku jalan-jalan.

Kini dia adalah kekasihku. Yang menemani aku berkuda ke tempat-tempat baru. Memanah kelinci, lalu kami bakar dan dimakan berdua. Mendengarkan aku bercerita. Atau aku yang mendengarkannya. Membangun mimpi di tengah badai panas yang sudah sejak awal kami masuki.

***

Karena kedua Ayah kami adalah seteru. Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Simpang siur cerita mengenai mereka. Kupikir sebagian orang yang kutanya hanya mengarang saja, demi membungkam rasa penasaranku. Ada yang bilang ayah-ayah kami sedang saling menjatuhkan, mencari muka di depan Adipati. Yang lain bilang awalnya cuma masalah perempuan. Tak mungkin ibuku. Mungkin ibu Sadha, yang menurut Sadha lebih tua dari ibuku. Masih hidup dan cantik hingga sekarang. Tapi ada yang bilang mereka berdua sebenarnya saudara kandung. Permusuhan mereka adalah tentang warisan. Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi memang aneh, aku tidak pernah mengenal sosok kakek atau nenek.

”Jauhi gadis itu, atau kau akan mati sebagai batu”

Begitu kata Sadha, bagaimana Ayahnya mengancam, ketika Sadha bercerita bahwa dia jatuh cinta kepadaku. Sadha mengira bahwa kami mungkin akan bisa merukunkan dua orang, bersama seluruh penduduk dua desa, yang telah turun temurun bermusuhan. Tak disangka bahwa justru ancaman itu yang didapatkannya. Aku tidak ragu itu bisa terjadi. Ayah-ayah kami sakti. Kutukannya mandi.

Dan Ayahku, mengatakan bahwa jika aku tetap berkeras menjalin cinta bersama pemuda itu, aku akan mati disambar petir…

***

Malam ini hujan deras bukan main. Aku sedang tidur di pangkuan Mak Nah, di kamarku.

Tok.
Tok.

Dua butir kerikil dilempar ke jendelaku yang tertutup rapat.
Kupandangi Mak Nah. Dia menggeleng.
”Jangan dihiraukan’
”Mungkin kah itu Sadha, Mak?”
Mak Nah menggeleng, ”Itu bukan kebiasaan kalian kan?”

Aku berdiri mengintip ke celah jendela. Malam. Gelap. Hujan deras. Badai. Tidak kelihatan apa pun.

Lalu terdengar suara burung hantu. Burung hantu berkuku di dalam hujan?

”Itu Sadha, Mak”
Mak Nah ikut berdiri, ikut mengintip, ”Tidak kelihatan apa-apa, bagaimana kamu tahu itu Sadha?”
”Aku tahu”
Aku membuka pongge yang mengunci daun jendela. Mak Nah menahan tanganku sambil menggeleng, ”Jangan, Runti”
Tapi aku menepiskan tangannya, dan membuka jendela. Titik air tempias menerpa wajahku. Aku sedikit menjulurkan badan, mencoba melihat lebih tajam. Dan kutemukan sosok itu. Basah kuyup berdiri di dekat pohon sukun.
”Sadha…” desisku.
Sadha melangkah mendekatiku, ”Runti. Ayah mengusirku, karena aku berkeras mencintaimu. Maukah kau pergi bersamaku?”
”Sadha….”
”Tak mengapa jika kamu tak mau. Aku akan pergi mengembara sendiri. Mungkin menemuimu nanti, suatu masa. Aku…”
”Sadha, bawa aku”
”Runti…!” Mak Nah terpekik pelan.
”Biarkan kami, Mak.”

Mak Nah ingin membekaliku beberapa lembar baju, tapi aku menolak. Aku melompat dari jendela, disambut Sadhu.

Petir menggelegar, begitu tangan kami bertaut.

”Runti, pikirkan lagi…” bisik Mak Nah.

Kucium pipinya, dan kukatakan kami akan baik-baik saja.

***

Kami pergi berjalan kaki. Hujan dan angin semakin menjadi. Kilat dan petir seperti ribuan pecut yang disabetkan terus-terusan. Rasa dan terdengarnya semakin dekat di dada di telinga. Tapi aku dan Sadha terus berjalan saja.

”Sadha, bisakah kita istirahat sejenak? Aku lelah…” Kataku setelah entah berapa ribu langkah.

Sadha mengajakku berhenti di sebuah gubug kecil di tepi jalan yang kami lewati. Malam ini gelap gulita. Tapi kilat memberi terang dalam kejap kejap yang menghentak.

Kami duduk di bale-bale reyot di gubug itu. Basah kuyup dan menggigil. Sadha mendekapku, kami menggigil bersama. Kuusap leleran air hujan yang mengalir dari rambut ke wajahnya. Dalam kesadaran tentang ketakberdayaan dia memelukku erat. Matanya danau. Bisiknya lirih, “Katakan kau cinta padaku.”

“Aku mencintaimu, Sadha”

Pejam mata. Hangat nafas di wajahku. Ciuman Sadha membakar gigilku.

TAAARRRRRR!

Petir maha besar menyambar gubug tempat kami berteduh. Aku hangus. Sadha menjadi batu.


*cerita nggambus yang muncul ketika ngiyup saat hujan super deras kemarin sore*

Advertisements

5 thoughts on “Sadha dan Runti

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s