The Brethren – John Grisham

Penulis              : John Grisham
Penerbit            : PT Gramedia
Tahun               : 2000
Tebal                : 496 halaman

Novel lama, terbitan tahun 2000 tapi baru sempat baca. Dapetnya juga di tukang loak.

Seperti biasa, mengingat basic John yang seorang pengacara, keruwetan di novel ini banyak berkisar tentang hukum di Amerika sana. Aku jelas tidak paham, wong hukum Indonesia aja aku juga ngga paham paham amat. Jadi segala detil tentang hukum tidak terlalu aku perhatikan.

The Brethren, atau ‘Majelis’yang diceritakan di buku ini, adalah kelompok yang terdiri dari tiga mantan hakim yang menjadi narapidana di Trumble, sebuah penjara berpenjagaan keamanan rendah di suatu daerah di Florida. Sebagai ‘Majelis’ mereka menangani perselisihan di antara para napi di penjara itu dan menerima bayaran ala kadarnya untuk itu.

Tapi selain aktivitas mereka itu, mereka punya kesibukan lain yang sebenarnya lebih penting buat mereka. Mereka mengirimkan surat kepada pria-pria kaya raya usia 40-50an, yang sebenarnya homo tapi malu mengakuinya kepada dunia. Dengan memasang iklan baris di majalah alternatif pria dewasa, mereka mencari sasaran. Berperan sebagai Percy dan Ricky, sosok imajiner usia 20an berkulit coklat berbadan atletis yang sedang berada di pusat rehabilitasi pemakai narkoba. Dibantu pengacara mereka, Trevor Carson,  Majelis berhasil menjerat banyak korban dan memeras beberapa pria kaya. Trevor mengurus pengiriman surat menyurat mereka, dan juga penyimpanan uang hasil pemerasan di rekening gelap di Bahama.

Di bagian lain cerita, Teddy Maynard pentolan CIA sedang menyiapkan seorang kandidat presiden, dan memastikan Aaron Lake, si kandidat, menang. Pamrihnya adalah kucuran anggaran negara untuk militer, empat kali lipat dari yang dianggarkan saat ini.

Sungguh sebuah kebetulan bahwa Aaron Lake, sebelum dikatrol namanya oleh Teddy, telah terjerat iklan yang dipasang Majelis. Setelah menjadi calon presiden, Aaron yang memakai nama alias Al Konyers, lebih berhati-hati menjaga kerahasiaan surat-menyuratnya dengan Ricky. Tapi Teddy dengan kaki tangannya mengetahuinya. Dengan kelihaian CIA Teddy berhasil mempelajari aktivitas Majelis, dan mengajak Trevor bekerja sama  – dengan imbalan tentunya. Teddy harus tahu apa yang harus dilakukan terhadap para hakim itu agar jagoannya aman dari aib.

Sebuah kebetulan lain, justru ketika Aaron Lake memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan Ricky, surat ‘putus’-nya kepada Ricky katutan surat yang ditujukan kepada orang lain dengan nama asli Aaron, dan tulisan tangan yang sama dengan yang ditujukan kepada Ricky. Sang Majelis yang akhirnya mengetahui identitas asli Al Konyers merasa mendapat tangkapan besar, dan memutuskan untuk mengabaikan korban-korban lain. Trevor juga dipecat, karena dianggap minta bayaran terlalu banyak, dan dikhawatirkan justru akan mencuri uang mereka.

Trevor yang kecewa, dan sekaligus merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran anak buah Teddy di hari-harinya, akhirnya melarikan diri. Uang bayaran dari Teddy berhasil dipindahkannya ke bank lain. Tapi toh akhirnya dia ketahuan, dan ditembak mati.

CIA lalu menanam orangnya di Trumble untuk berkawan dengan Majelis. Berbekal kedekatan Teddy dengan Presiden Amerika berkuasa, itu adalah skenario untuk mengeluarkan ketiga mantan hakim yang menyebut diri mereka Majelis itu. Perjanjiannya adalah mereka, menyerahkan semua bukti tentang korespondensi dengan Al Konyers, menghilang ke luar negeri dan berhenti mengganggu Aaron. Mereka setuju, dan itulah yang terjadi. Dan Aaron menang.

Di akhir cerita, diceritakan Majelis ternyata melakukan lagi tipuan yang mereka lakukan di penjara dulu. Dan ternyata, Wilson Argrow, orang yang pernah ditanam CIA di Trumble, masih mengawasi mereka.

Di sinilah aku merasa cerita menjadi mentah.

Jika memang Grisham ingin bercerita tentang ‘The Brethren’, kenapa aku merasa cerita tentang pencalonan presiden itu lebih heboh? Penyelesaiannya terasa terlalu sederhana dan biasa saja, untuk kelas ‘ancaman bagi seorang kandidat presiden’dan berbagai taktik ‘mengerikan’ yang secara rahasia dijalankan CIA di seluruh dunia.

Dan jujur, ‘melihat’ para mantan hakim itu melenggang bebas bikin aku muak. Aku bayangkan mereka lebih pantas mati secara tragis, menjadi bagian kekacauan yang diciptakan Teddy di berbagai belahan dunia. Ah… ini sih subyektivitas yang terlalu 😀

Whatever, aku merasa The Brethren tidak sedahsyat novel John Grisham yang kubaca jaman kuliah dulu seperti The Firm atau The Chamber. Bagus tapi bukan hebat. Cenderung ringan dan sekedar hiburan, bukan thriller. Entah, mungkin juga cuma standarku yang bergeser…

Advertisements

One thought on “The Brethren – John Grisham

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s