ZETH

Aku tidak akan bercerai. Setidaknya, bukan dalam waktu dekat ini. Mana mungkin cerai, aku belum nikah. Tapi Ros bilang dia akan bercerai. Lalu dia akan menikah dengan Kun yang juga akan segera menceraikan istrinya.

Oh Ros. Harusnya aku bilang saja padamu. Kun tidak akan pernah menceraikan istrinya. Ceritanya tentang prahara rumah tangga itu pasti mengada-ada. Hal apa lagi yang paling bisa membuatmu merasa benar melakukan kesalahanmu bersamanya?

***

Aku duduk di bawah pohon kelapa di belakang bungalow yang kami sewa. Hari hampir tegak siang, tapi di sini teduh, dan angin laut sejuk berhembus. Istri Miv sedang pergi bersama anak mereka ke rumah orang tuanya. Miv menawariku untuk menghabiskan akhir pekan bersamanya di sini, dan aku setuju.

Miv merebahkan kepala di pangkuanku, berbaring miring menghadap lautan. Matanya pejam, tapi mulutnya bicara sesekali disela hela nafas panjang dan dalam. Kubiarkan Miv berkesah. Wajahnya tampak kusut terbelit masalah. Yang ada dalam diriku hanyalah keinginan untuk meringankan bebannya. Tapi aku ini ternyata seorang keparat. Yang ada justru tumbuh kebencianku pada istri Miv. Aku tahu ini tidak benar. Aku paham ini sudah tidak pada tempatnya. Tapi begitulah kenyataannya.

”Aku lelah, Zeth. Ini sungguh jauh dari bayanganku. Di mataku dulu, saat kami pertama bertemu, Rin adalah sosok yang rapuh dan labil. Membuatku ingin melindunginya. Kisah hidupnya membuatku iba. Dia menderita sejak masih kecil. Aku yakin itu yang membuatnya tumbuh jadi gadis canggung yang tertutup.

”Aku jatuh cinta padanya seiring rasa iba atas kepedihan hidupnya. Saat itu aku berjanji, tidak boleh ada lagi yang menyakitinya. Aku ingin dia bahagia, dia berhak bahagia.

”Siapa sangka setelah kami menikah, sikap lemahnya itu membuatku terpenjara? Sensitifnya luar biasa. Aku berbuat kesalahan sedikit saja, dia akan menangis, menderita seolah dunia ini mau kiamat.”

”Kesalahan?” tanyaku.

”Apa saja. Hal-hal sepele. Misalnya aku lupa membelikan pesanannya. Dia akan berkata aku sengaja lupa. Atau aku tidak memikirkannya. Atau aku menyepelekannya. Lalu dia akan menangis sejadi-jadinya. Tidak meraung-raung atau histeris. Tapi tangisnya bisa berhari-hari, seolah kesalahanku itu tidak termaafkan.

”Jika aku pulang terlambat sedikit saja, dia akan mengira aku mampir ke mana-mana, atau pergi dengan perempuan lain. Selingkuh di belakangnya.”

Aku mendehem kecil.

”Dulu sebenarnya tidak, Zeth. Sama sekali tidak terpikir. Tapi lama-lama aku jadi tidak tahan. Rin terlalu banyak peraturan yang menurutku tidak masuk akal. Dengan tangisnya yang sedikit-sedikit meledak itu, dia mengendalikan aku. Kupikir sama parahnya dengan perempuan yang benar-benar berteriak pada suaminya, seperti iklan aki abal-abal di televisi itu. Aku merasa tidak dihargai jadi laki-laki. Aku sudah tidak tahan.”

Miv bangkit lalu duduk di hadapanku.

”Sampai aku bertemu kamu. Aku bukan bermaksud menyanjungmu, kamu juga jangan jadi besar kepala. Aku hanya bicara apa adanya. Kamu membuat aku merasa dihargai”

Aku diam saja, tidak tahu harus menanggapi apa. Aku tahu Miv sudah beristri jauh sebelumnya. Dan memang kedekatanku dengan Miv berawal dari curhatnya tentang pertengkaran-pertengkaran kecil dengan istrinya.

”Aku tidak pernah melakukan apa-apa padamu. Aku hanya mendengarkan ceritamu. Komentar juga tidak pernah,” kataku akhirnya.

”Setidaknya kau mau mendengar, dan itu membuatku merasa teringankan”

Andai saja aku bisa membuatnya lebih ringan, Miv. Andai saja aku yang mendampingimu, dan bukan perempuan yang menggunakan air mata sebagai pengganti pecut untuk mengendalikan suaminya…

***

Miv adalah rekan kerjaku, beda departemen. Kami sering bertemu saat makan siang. Kadang dia bersama teman-temannya satu departemen, kadang sendiri. Aku juga. Saat kami sama-sama sendiri itu lah kami sering makan satu meja. Tadinya obrolan hanya basa-basi pengisi suasana, karena aku juga tidak terlalu mengenalnya.

Tapi makin lama aku merasa nyaman bersamanya. Waktu itu kami sedang makan siang berdua di pujasera dekat kantor. Entah kenapa aku bisa bercerita padanya ketika dia iseng bertanya kenapa aku masih melajang.

”Aku sudah tidak perawan, aku jadi takut dekat dengan laki-laki”

Miv sama sekali tidak terkejut. Tidak juga bertanya kenapa aku tidak perawa lagi, atau kenapa itu membuatku takut dengan laki-laki.

”Dulu aku pernah hampir menikah. Aku sudah dilamar. Bahkan tanggal pernikahan sudah ditentukan.”

Aku menunggu Miv bertanya ’kenapa tidak jadi?’, tapi dia diam saja.

”Aku punya beban yang kutanggung di pundakku, yang hanya bisa lepas jika aku jujur pada calon suamiku. Aku mau dia tahu sejak awal, bukan menemukannnya di kemudian hari lalu menyesal. Itu bakal menyakiti semua orang, termasuk aku sendiri”

”Cerita tentang hal itu?”

”Tentang ketidak perawananku, ya. Dan aku lega aku bercerita”

”Dia tidak bisa menerima?”

Aku mengangguk, ”Dan aku sudah siap, meskipun akhirnya sakit juga. Aku tidak mengerti kenapa perempuan harus perawan saat akan dinikahi. Toh aku tidak meminta calon suamiku harus perjaka. Dan sayangnya, keperjakaan tidak bisa dibuktikan, seperti kau bisa lakukan pada keperawanan dengan melihat selaput dara.”

Kami terdiam cukup lama. Membiarkan makanan di piring kami dioksidasi paparan udara. Laparku hilang. Entah Miv, tapi dia juga berhenti makan.

”Setelah itu aku tidak mau lagi. Daripada berharap hanya ntuk berakhir dengan sakit hati. Jadi biar saja, sendiri ada enaknya juga kok.,” aku mencoba tersenyum, pahit.

”Bagaimana kalau ada yang mau menerimamu apa adanya, tidak peduli dengan hal itu?”

Aku menggeleng, ”Aku tidak mau mencari tahu apakah masih ada yang mau.”

”Tidak kamu cari, tapi kalau nanti dia datang sendiri?”

“Tidak akan kubiarkan ada yang masuk ke hidupku sampai sejauh itu”

Miv tidak menyahut, hanya melanjutkan makan yang pasti sudah tidak enak karena terlalu lama diaduk-aduk tak karuan sambil mendengarkan aku.

“Miv, kamu tidak ingin tahu kenapa aku tidak perawan lagi?”

“Kamu akan menceritakannya sendiri tanpa kutanya, kalau kamu memang mengijinkan aku tahu”

***

Sampai detik ini aku belum menceritakannya pada Miv. Aku menunggu, tapi dia tetap tidak pernah bertanya. Aku ingin menceritakan padanya tentang apa yang dilakukan kakak tiriku sewaktu aku masih SMP dulu. Aku ingin dia tahu bahwa aku diperkosa. Aku ingin dia tahu bahwa itu bukan salahku, bahwa aku bukan menyerahkannya dengan sadar kepada siapa pun.

Aku ingin menangis di dadanya, mengatakan padanya meskipun Ibu akhirnya sudah bercerai, dan kakak tiriku itu dipenjara, tapi rasa sakit yang ditorehkan tidak pernah meninggalkan aku. Aku ingin menumpahkan kepedihan yang tidak bisa leluasa kubagi kepada siapa saja karena banyak orang masih menganggap itu aib – dan itu membuatku semakin sakit.

Tapi aku tidak mau Miv menganggapku sedang mencari simpatinya. Aku tidak mau Miv melihatku sebagai sosok yang butuh perlindungan seperti dulu dia melihat Rin. Karena memang sama sekali bukan itu yang kubutuhkan. Aku cukup kuat untuk bisa bertahan hidup waras sampai sekarang. Tapi jika Miv merengkuhku, aku ingin dia melakukannya karena dia membutuhkan aku. Meskipun aku tahu, aku hanya akan jadi pengisi ruang hampa yang telah diciptakan istrinya.

***

”Zeth…”

”Ya?”

”Jika aku bercerai dengan Rin, kamu mau menikah denganku?”

2 thoughts on “ZETH

  1. Itulah lika-liku kehidupan, semoga saja yang seperti ini tidak kejadian.. seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Baghdad… Iraq.. ya, Iraq yang sedang bergolak itu😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s