tentang kucing (1): Tesi

kucing itu binatang yang sensitif, perasa. punya sifat yang macam-macam seperti manusia.

kucing pertama yang aku punya waktu aku masih kecil. namanya Tesi. namanya mungkin mengingatkan kita pada pelawak Tesi yang nama aslinya Kabul. tapi Tesi-ku gagah. kucing jantan yang tampan. dan istimewa. dia lebih suka makan nasi campur kelapa parut daripada ikan asin. kalau dia sedang main di kebun, lalu mendengar suara orang memarut kelapa di dapur, pasti langsung datang. di mana pun dia berada, selama masih bisa dengar, kalau aku teriak ‘teeesiiiii….’ dia akan datang.

ada kebiasaan Tesi yang lucu. dia suka duduk santai di atas tivi, sambil nonton tivi😀

dulu kami punya kolam lele di belakang rumah. suatu hari kami panen lele, kolamnya dikuras. ada berember-ember lele. semuanya disimpan di dapur dan ditutup tampah. pagi hari, kami mendapati tampah-tampah terbalik, dan beberapa ember nyaris kosong. lelenya lompat. sibuklah kami memunguti lele yang bertebaran di lantai dapur. Tesi, waktu itu membantu. iya. ternyata beberapa lele tersesat ke kolong lemari. Tesi mengeong berkali-kali, rupanya mau ngasih tahu, dia nemu lele di kolong.

Tesi juga tidak pernah buang air sembarangan di dalam rumah. meskipun malam hari dia boleh tidur di dalam rumah (semua kucing kami boleh sih…) dia tetap akan keluar kalau mau pipis. kami juga bikin pintu kucing di dinding samping dapur. cuma lubang kecil buat dilewati kucing. selama kucing tidur di rumah ‘belakang’ dia akan leluasa keluar masuk rumah.

suatu malam Tesi tidur di rumah ‘depan’. pintu penghubung rumah depan dan rumah belakang ditutup kalau malam. tengah malam Tesi pingin buang hajat, tapi tidak bisa keluar. maka dia mengeong di dekat Bapak yang waktu itu sare di drpan tivi, dekat pintu. Bapak dengar, tapi males bangun. Tesi terus mengeong, Bapak tetep males. lama-lama Tesi tidak sekedar mengeong. dia membangunkan Bapak dengan mencakar-cakar pelan jari kaki Bapak yang tertutup sarung. Bapak masih males dan Tesi ditendang pelan supaya tidak mengganggu. Tesi balik lagi. kali ini tidak cuma mengeong dan mencakar, dia juga menggigit pelan jempol kaki Bapak. Bapak menyerah, bangun dan membukakan pintu…

Tesi rupanya pencemburu berat. suatu hari adikku memungut kucing dari tetanggaku. kucing itu cantik dan walaupun kucing jawa, tapi bulunya lebat dan lembut. kami memberinya nama Orko. ternyata Tesi tidak suka dengan kehadiran Orko. bukan menunjukkan ketidaksukaan dengan memusuhi Orko, Tesi memilih pergi…

aku dan adikku berusaha mencari Tesi, bahkan sampai bikin sayembara. barang siapa menemukan Orko, aku hadiahi uang seribu rupiah. untuk usiaku, di masa itu, seribu rupiah senilai dengan sekitar lima puluh ribu bagi anak sekarang. banyak kan? memang ada yang datang membawa Tesi. aku tahu itu Tesi. maka kuberikan hadiah sayembaranya. tapi Tesi benar benar sudah tidak mau tinggal. dia langsung pergi lagi, dan tak pernah kembali…

(bersambung…)

One thought on “tentang kucing (1): Tesi

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s