Kau Terlahir Terlalu Cepat (Lambat)

Padang rumput yang di langitnya bersinar matahari terang namun sejuk. Luas tak berbatas sejauh mata memandang. Bantal. Boneka. Bunga dandelion mekar di mana-mana. Bijinya beterbangan menjadi mainan bayi-bayi.

Musik lembut. Wangi lembut. Angin lembut. Tawa bayi bercanda satu dengan yang lainnya.

Sepasang bayi bermain bersama. Saling jatuh cinta. Merangkak. Berguling. Mencakar pelan. Bayi laki-laki memetik dandelion kering, meniupnya ke udara. Bayi perempuan tertawa mengejar. Lalu keduanya menjatuhkan diri di tumpukan boneka beruang dan kelinci.

Satu persatu bayi merangkak ke antrian. Bayi perempuan di barisan perempuan. Bayi laki-laki di barisan laki-laki.

Sepasang bayi terpisah, menuju antrian masing-masing.

“Kita harus pergi,” kata bayi laki-laki.
“Aku mencintaimu”
“Kita akan bertemu lagi”
“Aku akan menunggumu”
“Aku akan menunggumu”

***

Di dunia bayi-bayi lahir setiap hari. Di rumah.Di rumah sakit. Di dukun bayi. Di pesawat. Di pinggir jalan. Di atas becak. Di kamar mandi.

Bayi-bayi diinginkan. Disambut hangat. Air mata dan tawa bahagia. Berlimpah cinta dan kasih sayang.

Bayi-bayi tak diinginkan. Dibunuh sebelum terlahir. Atau dibuang setelah berhasil bertahan hingga lahir. Beruntung ditemukan, atau mati kedinginan dan kelaparan.

Orang-orang menginginkan bayi laki dan perempuan, tapi tidak bisa meminta, apalagi menentukan. Kenyataan lebih banyak lahir bayi perempuan.

***

Padang rumput yang berbeda. Matahari dan angin yang sama lembutnya. Tak ada musik. Hanya suara angin dan detak jantung kita. Sesekali hela nafas menyela.

Kau berbaring di sebelahku. Tidak ada boneka yang akan kita timpa bersama. Tidak akan lagi kita merangkak atau berguling bercanda. Tapi ada dandelion kering yang kutiup ke udara.

“Kamu tidak mengejarnya?”
“Biar mereka terbang dan jatuh ke mana angin membawa. Tidak akan kubelokkan, atau kuhentikan. Setiap biji dandelion akan jatuh di tempat yang ditakdirkan baginya untuk tumbuh dan berbunga…”
“Seperti kita”
“Bertemu tapi tidak seperti yang kita harapkan ketika kita berpisah di antrian”
“Setelah 24 tahun aku mencari, baru aku menemukanmu”
“Ya, dan kamu terlahir 10 tahun terlambat”
“Tidak. Kamu yang terlahir 10 tahun terlalu cepat”

14 thoughts on “Kau Terlahir Terlalu Cepat (Lambat)

  1. @teh anny: ngiklan? hehe…

    @layungwengi: makasih🙂

    @depz: rrrr… ya begitu lah😀

    @daeng iplu: makasih…

    @yessi: ntah. tapi di sini aku justru mempertanyakannya kan?

  2. ahhhh kangennnnnn banget dengan mbak latree. selama ini aku udah terlalu lama mati suri.

    tulisan mbak masih saja indah… tiba2 aku ingin juga meniupkan dandelion😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s