Kontrasepsi Kontra Laki-laki

Beberapa saat setelah melahirkan adalah sangat jamak seorang ibu ditanya, “KB apa?” Namun pernahkah pertanyaan serupa diajukan kepada si bapak? Apa yang salah dengan kampanye yang dilakukan BKKBN sehingga sampai saat ini masih lebih terpatri di benak orang banyak bahwa ber-KB adalah urusan perempuan?

Tak usahlah memikirkan permasalahan jumlah penduduk Indonesia atau bahkan dunia. Tidak usah memikirkan kematian ibu yang salah satu penyebabnya adalah terlalu sering hamil. Dalam lingkungan internal keluarga pun, saat ini orang cenderung berpikir lebih panjang jika mau punya banyak anak. Biaya hidup cenderung meningkat. Bukan sekadar pemenuhan sandang pangan, melainkan sampai ke pemenuhan pendidikan.

Suatu pagi saya berkeliling kantor menanyai satu per satu teman-teman saya. Siapa yang ber-KB di antara setiap pasangan dan memakai alat kontrasepsi apa. Dari 20 orang yang saya tanya, hanya salah seorang suami mereka yang berKB. Lalu saya googling ke mana-mana. Hasilnya, jumlah akseptor KB pria di berbagai daerah masih di bawah 5%.

Efek Samping
Pengendalian kehamilan dengan non-alat menuntut kemauan dan disiplin kuat dari kedua pihak. Sanggama terputus masih memungkinkan sebagian sperma masuk ke rahim. KB kalender kurang efektif dilakukan perempuan dengan siklus haid tidak persis teratur.

Ada banyak macam alat kontrasepsi bagi perempuan. Pil yang harus diminum setiap hari, suntik bulanan atau tiga bulanan, dan alat kontrasepsi implant (ditanam di dalam tubuh), yaitu susuk dan spiral (IUD), yang sekali ditanam ke dalam tubuh akan bekerja dua hingga lima tahun.

Apa pun alatnya, semua bertujuan mencegah pertemuan sel telur dan sperma dengan cara berbeda-beda. Dan, semua punya efek samping. Pil, susuk, dan suntik yang bekerja secara hormonal menyebabkan mual, pusing, dan sakit kepala.  Terkadang disertai breakthrough bleeding (gangguan haid yang ditandai dengan kemunculan perdarahan berupa bercak/flek pada bagian kewanitaan). Pemakai IUD akan mengalami haid lebih sakit dan lama.

Satu-satunya alat kontrasepsi bagi pria adalah kondom. Cara kerjanya sangat jelas: menampung sperma sehingga tak dapat masuk ke dalam rahim.
Efek samping penggunaan kondom adalah mengurangi sensitivitas kulit karena tidak bersentuhan langsung, sehingga mengurangi sensasi saat berhubungan seksual.

Jika tidak mau direpotkan dengan berbagai alat dan efek sampingnya, ada pilihan kontrasepsi bedah. Tubektomi bagi perempuan dan vasektomi bagi laki-laki.

Pilihan dan Konsekuensi
Baik laki-laki atau perempuan, dengan berbagai alasan, umumnya masih takut jika harus melakukan kontrasepsi bedah. Akhirnya pilihan jatuh pada pemakaian alat dengan konsekuensi menanggung efek samping. Para ibu rela berpusing mual karena hormon dalam tubuh mereka dimanipulasi. Sebagian lagi rela menjalani haid yang lebih sakit dan lebih lama karena memakai IUD. Padahal, menstruasi tanpa menggunakan IUD pun cukup membuat tidak nyaman bagi perempuan, bahkan sejak masa menjelang haid. Beberapa perempuan mengalami sakit di atas rata-rata, terkadang sampai pingsan atau opname karena tidak kuat menahan sakit.

Sebagian laki-laki rela memakai kondom, Namun sebagian lain tidak suka menanggung efek sampingnya: kehilangan kenikmatan bercinta. Pilihan kontrasepsi yang lebih banyak bagi perempuan seolah-olah mengukuhkan anggapan bahwa birth control adalah urusan (atau tanggung jawab?) perempuan. Hanya sebagian  kecil laki-laki yang peduli berkontrasepsi. Selebihnya merasa cukup dengan mengantar istri ke dokter kandungan atau bidan untuk bersuntik, pasang susuk, IUD, atau sekaedar minta pil KB.

Pilihan ber-KB semestinya menjadi kesepakatan bersama pasangan suami-istri. Bukan hanya karena kesadaran istri yang berusaha supaya tidak hamil lagi. Saya mengagumi almarhum pakde saya. Beliau buta huruf dan tidak pernah bersekolah. Ketika anaknya sudah tujuh orang — jumlah yang sebenarnya masih wajar pada masa itu, dengan sukarela dia minta divasektomi. Itu dia lakukan tahun 80-an. Ketika saya tanya kenapa dia memilih cara itu, dia menjawab, “Kasihan budemu.”

Perempuan haid setiap bulan. Mereka yang hamil sembilan bulan. Mereka pula yang melahirkan. Jadi, kenapa masih mereka yang setelah itu harus minum pil setiap hari, suntik setiap satu atau tiga bulan, atau pasang susuk atau IUD setiap lima tahun ñ dan merasakan efek sampingnya? Tidak bisakah laki-laki berbuat lebih banyak untuk berbagi beban dengan perempuan dalam masalah reproduksi?

(Rubrik Perempuan, Suara Merdeka 4 Mei 2011)

Advertisements

8 thoughts on “Kontrasepsi Kontra Laki-laki

  1. Rupanya perlu kampanye lebih luas lagi untuk KB bagi laki2, agar kesadarannya muncul dan mau berbagi beban itu bersama sama

  2. “Pilihan ber-KB semestinya menjadi kesepakatan bersama pasangan suami-istri.”

    Jadi siapa dan bagaimana cara ber-KB tidak harus diseret ke ranah gender. Kalau laki-laki mau vasektomi, sudah pasti kecil jumlahnya. Kalau laki-laki berkondom, ya kemungkinan besar tidak melaporkan penggunaan kondomnya. Bahkan ditanya pun mungkin tidak mau menjawab, karena penggunaannya tidak selalu proper.

    Tidak semua tindakan KB istri dilakukan karena suami tidak mau ber-KB. Jika istri ikhlas melakukan, silakan. Jika tidak ya jangan dipaksa. Gitu aja kok repot.

  3. Pengambilan data akseptor (yg biasanya dilakukan melalui PKK atau posyandu) adalah dg mencantumkan siapa dan bagaimana berKB. Jd jika menggunakan kondom pun tetap dilaporkan.

    Jika memang si istri yg berKB krn kesepakatan bersama, tentu sama sekali tidak masalah. Tapi yang banyak terjadi adalah si istri dg inisiatif sendiri melakukannya karena merasa itu adalah urusannya, dan begitulah yg lebih tertanam di benak orang banyak. Bahkan bidan pun setelah pasca melahirkan akan bertanya kepada ibu, ‘ibu, setelah ini akan berKB apa?’

    Tidak banyak suami yang berinisiatif ikut terlibat dalam penentuan pilihan berKB.

    Tidak ada yang sedang berusaha menyeret ke arah gender.

  4. 1. saya pakai kondom tapi tidak lapor. saya juga bisa bilang ada begitu banyak pasangan seperti ini.

    2. kalau bicaranya adalah peserta resmi KB, bisa jadi mbak-e benar. masalahnya bukan hanya di pemilihan kontrasepsi saja. Sebagian besar peserta resmi KB masih keluarga ‘tradisional’, di mana keputusan mutlak di tangan suami/laki-laki.

    3. bias gender bisa saja terjadi ketika mulai dipilah-pilah dan dibandingkan tugas, peran, hak dll antara perempuan dan laki-laki.

    4. laki-laki memang seperti itu, makanya saya suka perempuan.

  5. 1. Coba tanyakan, mungkin istri sampeyan yang ditanyain oleh petugas posyandu di dasa wisma atau pkk. Dan, njenengan barusan lapor ke aku :p

    2. Itu dia, aku mencoba njawil keluarga yang masih tradisional, supaya pendapat istri bisa diakomodir.

    3. Bukan dipilah2. Tapi memang kondisi laki dan perempuan itu beda. Hal-hal tertentu memang harus dibahas secara terpilah. Hanya hal-hal tertenntu. Masalah reproduksi adalah salah satunya.

    4. Aku tetep suka laki-laki.

  6. 1. Pasangan saya tidak kenal posyandu dan pkk, mbak-e, jadi tidak pernah ditanyai bidan, dan tidak ber-KB. Mbak-e beruntung dapat laporan.

    2. Njawil keluarga tradisional ya mesti turun ke posyandu-posyandu, jangan cuma lewat koran, apalagi internet. Parahnya, bakal susah buat nyuruh laki-laki vasektomi. Paling banter bisa diajari pakai kondom dan ngempet, karena itu pilihan yang termudah.

    3. Karena kondisinya berbeda, pilihannya pasti beda. Pilihan untuk laki-laki cuma sedikit. Vasektomi? Hm…, pasti serem buat laki-laki. Makanya yang tugasnya melahirkan bukan laki-laki.

    4. Kita tidak sama berarti.

  7. yang pasti saya tidak berdo’a minta anak sedikit saja atau banyak sekalian 😉

    vasektomi dan tubektomi tidak dianjurkan dalam islam karena merubah fungsi dan pemberian yang telah diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Sama seperti mentatto tubuh maupun menghapus tatto, bahkan diharamkan untuk pilihan KB yang seperti ini.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s