Virtual Love don’t Come Real

Kubaca lagi sms dari Mas Irwan, ‘kutunggu ya sayang. kl udah sampai telp atau sms ya :-*’

Kurang dari satu jam lagi, seharusnya aku sudah sampai ke kota yang kutuju. Aku akan langsung menuju kampus tempat Mas Irwan mengajar. Hari ini katanya dia akan di kampus sampai siang. Jadi lebih baik ketemu di sana, lebih mudah. Tentu saja.

Dalam hati aku masih tidak percaya. Kekasihku seorang dosen di jurusan Arsitek di kampus ternama. Aku memang belum bercerita kepada Ibu atau Ayah tentang Mas Irwan. Tapi setelah ini, setelah pertemuan ini, aku pasti akan memohon restu mereka…

Angkot yang kunaiki sudah sampai di tempat yang kutuju. Sengaja dari tadi aku tidak menelpon  Mas Irwan untuk minta jemput di halte, seperti yang dia sarankan kemarin. Aku ingin membuat kejutan.

Jantungku berdegup membaca papan yang ada di depanku. ’Jurusan Arsitektur’. Gemetar aku langkahkan kaki ke arah gedung megah itu. Sejenak aku ragu, apakah aku harus langsung mendatangi ruang dosen atau bagaimana. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di bawah pohon di parkiran, lalu menelpon Mas Irwan.

’Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area, coba lah beberapa saat lagi.’

Mungkin sedang mengajar, jadi handphone-nya dimatikan. Kutunggu setengah jam dan kuulangi. Tapi nada suara yang muncul tidak berubah. Aku sms, dengan harapan nanti dia akan baca ketika handphone-nya dihidupkan lagi, ’mas, telpon aku ya…’

Satu jam, kutelpon lagi. Dan tetap belum bisa. Aku mulai panik. Sambil menenangkan diri aku pergi ke kantin. Aku juga belum sarapan dari pagi. Ada baiknya aku makan dan minum dulu sambil menunggu.

Tapi ternyata aku tidak bisa mengendalikan kegelisahanku. Berkali-kali aku mencoba menelpon Mas Irwan lagi. Tapi tetap saja tidak aktif. Makanan yang dihidangkan pemilik kantin cuma kuaduk-aduk tak karuan. Aku hanya bisa minum terus-terusan. Sudah lewat jam dua siang, dan aku belum bisa menghubungi Mas Irwan.

Setelah membayar aku beranikan diri pergi ke ruang dosen. Mugnkin handphone Mas Irwan ketinggalan di rumah dalam keadaan mati. Aku berharap ada yang bisa membantuku mencari Mas Irwan.

’Selamat siang…,” ucapku ragu di depan pintu.

Seorang pria tinggi besar yang sedang duduk menghadapi mejanya memandangku, membalas sapaku, ’Selamat siang. Cari siapa Mbak?’

’Eh… Saya, mencari Pak Irwan’

Laki-laki itu berdiri mendekat, ’Irwan siapa ya?’

’Irwan, dosen di sini…’

’Dosen Arsitek?’

Aku mengangguk.

’Di Universitas ini?’

Aku mengangguk lagi.

Laki-laki itu mengajakku masuk dan mempersilakan aku duduk. Dia juga duduk di dekatku.

‘Di sini tidak ada dosen yang bernama Irwan, Mbak..’

‘Tidak mungkin’

‘Maaf. Tapi memang tidak ada. Kalau boleh tahu… Mbak ini siapanya?’

Aku pacarnya. Pacar Irwan. Kami berkenalan lewat Facebook. Aku tinggal di kota lain, kuliah di sana. Selama hampir satu tahun  ini kami berkomunikasi dengan Facebook dan telepon. Mas Irwan sudah beberapa kali mengunjungi aku. Menginap di kosku. Bercinta denganku…

‘Tadi pagi dia masih membalas sms saya, Pak. Dia janji mau ketemuan di sini siang ini. Lalu nanti saya akan diajak ke rumahnya…’

Air mataku mulai tak terbendung lagi.

‘Di mana rumahnya, katanya?’

‘Di perumahan dosen, tidak jauh dari kampus’

‘Mbak, tidak ada perumahan dosen dekat kampus ini…’

***

Aku pulang dengan bis terakhir. Air mataku masih belum bisa berhenti mengalir. Dan aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan setelah ini…

Advertisements

7 thoughts on “Virtual Love don’t Come Real

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s