tumbal

aku ingat pernah baca novelnya sydney sheldon, tapi lupa yang judulnya apa dan ceritanya bagaimana. yang aku ingat dengan pasti adalah, tokoh utamanya adalah seorang wanita yang menjadi duta besar di negara entah mana.
entah apa pertimbangan sang penguasa, yang menetapkan wanita itu menjadi duta besar. awalnya wanita itu tidak bersedia. alasannya, tentu saja, keluarga. suaminya tidak mengijinkannya. yang terjadi beberapa saat kemudian, suaminya yang dokter, tiba-tiba mendapat panggilan darurat jam 02.00 dini hari. ketika sedang perjalanan menuju TKP, di sebuah perempatan dia ditabrak oleh sebuah truk besar, yang katanya supirnya mabuk, sampai meninggal.
si wanita yang kini sendirian menjadi tidak punya alasan lagi untuk tidak menjalankan tugas menjadi duta besar. done.

itu novel.
bagaimana dunia nyata? adakah?
munir?
orang-orang hilang yang lain?

bagaimana di keseharian kita?
pernah nemu yang begini dalam bentuk yang lebih sederhana saja?
misalnya tiba-tiba kau dijauhi oleh temanmu, karena kau tidak disukai oleh orang yang dapat membantu kenaikan karir temanmu itu..

atau pernahkah kau sendiri menjadi ‘tumbal’, yang ‘dibuang’ karena keberadaanmu mengancam eksistensi seseorang?
misalnya di kantor, tiba-tiba kau ‘dikotakkan’ karena dengan kedudukan dan akses yang kau punya sebelumnya kau bisa membahayakan posisi seseorang…

atau mungkin kau harus melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan hatimu?
misalnya kau harus meninggalkan kekasihmu, karena orang tuamu memaksamu menikah dengan pria lain yang mereka pilihkan, yang kaya raya dan bisa membantu kesulitan keuangan keluarga…

jika kau yang harus melakukannya, karena alasan apa pun, sanggupkah kau menjadikan seseorang, terlebih yang kau cintai, sebagai tumbal?

8 thoughts on “tumbal

  1. hidup itu pilihan. pilih satu jalan dari begitu banyak jalan. tidak bisa pilih lebih dari satu jalan, kecuali jika menemukan jalan dengan beberapa pilihan bersekutu di dalamnya. tapi…, adakah jalan seperti itu?

  2. mbak aku nang kantor kerep jadi tumbal ki… pas enek masalahe nggolek rewangan… pas bar ta rewangi nek enek sing salah njur nyalah ke aku… tapi sing njaluk rewangan langsung cuci tangan… *affuuuuuuuuuuuu *curcol

  3. Aku kira, aku sdh benar menjadi tumbal utk anak2ku…dan kemudian sadar, ketumbalanku malah menyeret mereka menjadi tumbal no 2 & 3….

    *memaksakan kata ‘ketumbalan’ masuk di kambes Bhs Indonesia :D*

  4. @bangsat: udah tau gitu besok-besok jangan mau lagi
    @nanik: menjadikan diri ‘tumbal’ untuk orang yang dicintai adalah hal yang sangat bisa dimengerti. I would do that too. Tapi menjadikan orang yang kita cintai sebagai tumbal… Sanggup?

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s