and I am destroyed: review DESTROY, SHE SAID (Marguerite Duras)


Aku sudah diperingatkan. Blurb di sampul depan buku ini berkata “Novel Duras kebanyakan eksperimental, dengan kesamaran plot tertentu, namun memiliki atmosfer yang luar biasa bagus”. Oh ini menarik sekali. Eksperimental pasti lebih menarik dari yang biasa aja. Seperti aku akan lebih memilih Avril Lavigne ketimbang Mandy Moore atau Jessica Simpson…

Aku sudah diperingatkan. Terjemahan Jalasutra sering membingunkan. Tapi dari pengalaman beberapa kali membaca, setiap ada kalimat yang membingungkan aku bisa membayangkan kalimat aslinya dalam Bahasa Inggris. Dan sedikit banyak mengerti maksudnya. Jadi kupikir ini bukan masalah besar. Tapi aku lupa, novel ini aslinya ditulis dalam Bahasa Prancis…

Destroy, She Said
Marguerite Duras
Penerbit Jalasutra
xvi + 150 halaman

***Aku membaca buku ini dua kali, dan masih belum mengerti benar kejutan yang ingin disampaikan Duras.

Di awal membaca, aku malah sulit mengerti apa yang dibicarakan. Apalagi membayangkan suasana. Tapi aku terus membaca, ingin menemukan pola bercerita yang sedang dipakai. Baru setelah lebih dari 20 halaman, aku menangkap bahwa Duras mencampurkan narasi dan deskripsi di dua tempat yang berbeda tapi terjadi dalam waktu yang sama. Telat banget. But it’s OK. Aku balik ke awal dan mulai menikmati kekacauan yang disajikan Duras.

Aku merasakan kesamaran yang makin ke belakang makin jelas di pengenalan tokohnya. Lagi-lagi mungkin aku yang lambat menangkap. Tapi baru setelah sepertiga jalan, baru aku mengerti relasi antar tokoh dalam buku ini.

Harusnya novel ini sepi, bahkan suspend. Tapi aku baru merasakan sebatas sepi. Mungkin karena aku lebih menghabiskan energi untuk memilah-milah percakapan, tokoh, waktu dan tempat yang campur aduk itu.

***

Di sebuah hotel di tepi hutan, Elisabeth Alione yang makin ke belakang namanya semakin pendek menjadi Elisabeth, lalu Elisa, sedang dalam sebuah upaya terapi yang disarankan oleh dokternya: menyendiri. Begitu yang disampaikan kepada penghuni hotel lainnya: Max Thor yang penulis, Allisa istri Max Thor, dan Stein kekasih Allisa.

Bernard Allione, suami Elisabeth Allione , berkunjung seminggu sekali bersama anak gadis mereka. Elisa sebenarnya punya anak lagi, tapi meninggal ketika masih bayi. Kejadian ini lah yang membuatnya ‘sakit  jiwa’  sehingga perlu menenangkan diri menyepi.

Max Thor dan Stein berada di hotel yang sama di waktu yang hampir bersamaan dengan Elisa. Allisa baru datang beberapa hari kemudian. Sejak kedatangan Allisa, Elisa memecahkan kebisuannya sendiri dan mulai berbincang dengan Allisa — kemudian Sten dan Max Thor. Sejak itu lah kemudian tersibak bahwa Elisa pernah terlibat skandal dengan seorang dokter. Tapi dokter itu pergi dari desa mereka, dan skandal menguap.

Elisa yang semula mulai merasa nyaman dengan trio kekasih itu, tiba-tiba mulai merasakan ketakutan dan meminta Bernard untuk menjemputnya lebih awal dari yang dijadwalkan. Ketakutan Elisa berhubungan dengan ajakan Allisa untuk berjalan-jalan ke hutan. Ketika Elisa memutuskan untuk meninggalkan hotel itu lebih cepat, Stein, Max dan Allisa berusaha mencegahnya, dan terus mengajak Elisa pergi ke hutan walau sebentar. Tapi Elisa berkeras pergi.

Bagian terakhir cerita ini lah yang pasti menjelaskan passion yang disimpan Elisa terhadap Allisa. Ada suara kerusakan yang gaduh. Kegaduhan yang membuat dua pria itu lega. Sepertinya itu yang diharapkan oleh Stein dan Max untuk terjadi. Aku sudah membaca ulang bagian ini dan tetap masih belum mengerti.

***
Kata Duras, ada paling tidak sepuluh cara membaca buku ini. Dan aku baru melakukan 2, itu pun yang satu adalah baca tabrak lari.

Mungkin aku akan membaca lagi buku ini. Mungkin juga tidak. Novel ini sudah difilmkan. Bahkan penulisnya sendiri mengakui bahwa dia lebih mengenali filmnya ketimbang novelnya. Jadi mungkin sebaiknya aku menonton filmnya saja. Tapi di mana?

***

Hey. Tiba-tiba aku menangkap sesuatu. Kerusakan itu. Kekejaman. AH!

7 thoughts on “and I am destroyed: review DESTROY, SHE SAID (Marguerite Duras)

  1. kayaknya ‘berat’ ya mbak? jarang aku nerusin baca kalo halaman pertama udah gak mudeng… hmm… btw tak minjem ya.. haha..😀

  2. @sanjione: ati-ati, ikan koi kan habitatnya air tawar😀

    @elafiq: ringan kok, tipis, kecil😀
    Boleh dipinjem. ambil aja kapan sempat…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s