Lenyap

Itu suara pintu mobil dibanting. Jantungku beresonansi dengan dentamnya.

Aku tidak mendengar mobilnya datang. Suara mesinnya pasti halus. Mobil mewah yang anggun. Hanya yang seperti itu yang cocok menjadi tunggangan perempuan elegan kelas atas.

Aku sudah menunggu kedatangannya. Aku tahu dia akan datang sore ini. Karenanya kubiarkan pintu depan terbuka.

Itu derit pintu pagar berkarat. Kubayangkan tangannya akan segera ditiup-tiup atau dilap tisu basah – membersihkan debu yang menempel. Itu suara hak tinggi yang kesulitan berjalan di pelataran yang kutebari kerikil, yang menghubungkan pintu pagar dengan teras rumahku.

Itu perempuan yang tetap akan datang meski tidak kutunggu. Berdiri di depan pintu. Dengan terusan ungu tanpa lengan yang berhenti di atas lutut. Melambai ditiup angin  yang lewat , memperlihatkan pahanya yang masih muda dan kencang. Tas di bahunya itu pasti bermerk, aku tak tahu apa. Dan gelang yang ngrempyang di pergelangan tangan kirinya,  mungkin nilainya cukup untuk ditukar dengan rumah ini. Dandanannya lengkap tapi halus sempurna. Sesempurna wajah mungilnya.

“Hai. Akhirnya kamu datang. Masuk dan duduklah.”

“Tak usah basa-basi. Aku tidak akan sudi mengotori bajuku dengan debu menjijikkan yang bertabur di kursimu.”

“Terserah. Tapi aku tidak mau menemanimu berdiri. Aku merasa kamu akan bicara banyak. Lama. Aku duduk saja, jika kamu tidak keberatan.” Kuraih rokok di meja. Mengambil sebatang yang kuselipkan di bibirku. Kusulut.

“Kamu memang perempuan tak punya hati. Lihatlah dirimu. Tak merasa bersalah sama sekali. Bisa-bisanya kamu pikir aku akan bicara dari hati ke hati denganmu, menyuruh aku duduk.”

Kutiup asap pertama.

“Dan lihatlah dirimu yang sok bisa membaca pikiran orang. Kenapa kamu pikir aku pikir kamu akan bicara dari hati ke hati? Aku tahu jalan pikiranmu, bocah. Dan aku tahu semua kebencian serta semua pikiran buruk di kepalamu. Jadi katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Aku dengarkan, jika itu akan membuatmu lega. Kamu mungkin ingin aku menjawab atau menanggapi. Tapi itu terserah aku. Kamu tidak memerlukannya, kalau kamu pikir bisa menebak yang ada di kepalaku.”

Dia melangkah ke sisi utara. Menghampiri biola yang tersandar begitu saja.

“Perempuan munafik. Sok suci. Sok baik. Mencari muka di depan semua orang. Mengelabui mata dengan sandiwara.”

Kutiup asap kedua.

“Sebagai pemusik kamu istimewa. Setiap penampilanmu disanjung. Cih!,” dia meludahi biolaku. “Aku mau tahu. Kalau mereka tahu siapa sebenarnya kamu, apakah mereka masih menganggapmu malaikat pengalun musik dewa. Apakah mereka masih akan terpukau…”

…dan seperti dawai biolaku yang mendayu, kau bisikkan berjuta kata cinta di telingaku. ‘Aku dipenuhi cemburu pada lelaki yang ada di dekatmu…’ Yang meyakinkan aku bahwa aku akan selalu memiliki cintamu, apapun yang terjadi. Cinta yang tak akan pernah terlupakan. Cinta yang akan tetap saling memiliki. Walau tak akan bisa memiliki…

Dia maju selangkah. Dekat ke tripod lukisanku.

“Perempuan tak tahu malu. Tak punya moral. Mengganggu suami orang. Dia sudah menikah. Dengan aku! Kenapa masih juga kamu usik?“

Kutiup asap ketiga.

“Sebagai pelukis kamu ternama. Setiap pameranmu dipuja. Cih!,” dia meludahi lukisanku yang tinggal menunggu kering sebelum sentuhan akhir. “Aku penasaran. Jika mereka tahu siapa sebenarnya kamu, apakah mereka masih memanggilmu kuas ajaib yang menyapu dengan hati. Aku ingin tahu…”

…dan seperti kuasku yang menari di atas kanvas, bibirmu menyapu seluruh tubuhku. Memuja. Mengharap. ‘Seperti cintaku yang selalu haus untuk menyentuhmu…’  Yang mengajakku untuk berpeluk sepanjang hari, setiap hari. Kelembutan yang tak ingin kau selesaikan. Biar berlama keindahan itu. Karena berakhir adalah akhir. Sedang kau tak ingin gelora itu berakhir…

Dia berdiri di hadapanku. Menatap penuh benci kepadaku.

“Perempuan iblis menyaru malaikat. Tapi kamu tahu aku tidak akan segan mengungkap. Kamu tahu.”

Aku tahu yang akan dilakukannya. Kutiup asap ke empat. Tepat di hidungnya. Dia terbatuk. Tersedak ludah yang disiapkan di kerongkongannya.

“Pulanglah. Jaga suamimu baik-baik. Jangan pernah sekali pun kamu kecewakan dia. Karena jika itu terjadi, kamu akan berurusan denganku.”

Masih terbatuk dia pergi. Kubiarkan dia berlalu dalam kemenangan di benaknya. Tapi sebelum ia melangkah keluar pintu, kuserukan padanya, “Ingatlah. Jika dia pandai, itu aku yang mengajarinya.”

Kutiup asap kelima, mengaburkan sosoknya.

Itu perempuan yang barusan mencaci maki aku. Masih berdiri terdiam di depan pintu, membelakangi aku. Sedang memikirkan kata-kata untuk disemburkan lagi kepadaku. Tak kubiarkan.

“Dan jika ia khusyuk mencumbuimu, itu aku yang ada di khayalannya.”

Perempuan itu melangkah pergi tanpa berkata-kata lagi. Kupastikan sebelum masuk ke mobilnya dia mendengar yang kuteriakkan, “Dan jika dia mengerang dalam orgasmenya, itu aku yang memenuhi dadanya!”

Kutiup asap ke enam ke udara.

Pada akhirnya, menjadi jahat dan menjadi pengecut telah bersaudara. Seperti maling teriak maling. Aku mungkin tidak mengaku telah menjadi maling. Tapi setidaknya, aku tidak menuding orang lain sebagai maling untuk menjaga nama baikku.

Kutiup asap ke tujuh.

Yang sekejap menuliskan namamu. Lalu lenyap melarut di udara.

Advertisements

2 thoughts on “Lenyap

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s