three cups of tea (greg mortenson dan david oliver relin)

Three Cups of Tea
Greg Mortenson & David Oliver Rein
Penguin Books, USA, 2007
(Terjemahan: Dian Guci, Penerbit Hikmah, 2009)

Selalu ada hikmah dibalik apa yang sering kita anggap sebagai musibah. Bahkan ketika kita cuma bisa terbaring di kasur tanpa bisa melakukan apa pun, sebenarnya pasti ada hikmahnya… (Sok bijak)

Sungguh menakjubkan aku bisa menyelesaikan enam ratus sekian halaman dalam dua minggu. Yaya.. Orang lain mungkin cuma butuh 2 hari atau 2 jam. Tapi mengingat prestasi terakhirku yang butuh 2 bulan untuk menyelesaikan 120 halaman, ini sungguh luar biasa…

*********

Gagal dalam menaklukkan puncak kedua tertinggi di dunia. Tersesat. Terluka. Berjalan tertatih selama tujuh hari menuruni gunung. Kehilangan 15kg berat badan.

Greg Mortenson menemukan hikmah dari ‘musibah’ yang menimpanya, di desa Korphe, tempat dia diberi pertolongan. Desa terpencil yang telah membuatnya berjanji pada penduduk, dan dirinya sendiri, untuk membangun sekolah bagi anak-anak di sana.

Butuh lebih dari sekedar kemauan dan keajaiban, seorang diri mewujudkan janji. Aku mengikuti sepuluh tahun perjalanan Greg mencari dana. Blusukan ke daerah pedalaman Pakistan dan Afghanistan. Menyusuri sisi tebing dan jurang di celah pegunungan paling garang. Aku tidak bisa mengingat dengan baik nama-nama desa dan pemukanya. Juga orang baik dan tidak-baik yang mengiringi perjalanan perjuangannya.

Tapi aku bisa merasakan keputusasaannya ketika 586 surat permohonan dana tidak memberi hasil yang menggembirakan. Atau persiapan 200 kursi untuk presentasi hanya dihadiri kurang dari 10 orang yang terlihat bosan. Aku bisa merasakan gairah ketika tiba-tiba ada yang memberikan dua belas ribu dolar. Aku merasakan semangat berbelanja setumpuk bahan bangunan. Letih. Cemas. Gelisah.

Aku tidak pernah bisa membayangkan kengerian perang Taliban dan Mujahidin yang dicampurtangani Rusia dan Amerika. Juga nama Osama yang dibawa-bawa. Tapi perang membawa kehancuran dan penderitaan. Bom tidak pilih sasaran. Desa yang hancur. Keluarga yang mati; sebagai mujahid atau sekedar korban. Hidup seperti apa?

Aku hanya satu dari (kuyakin) jutaan manusia di dunia yang hanya bisa merasa iba. Dan Greg, adalah satu dari sebagian kecil saja, yang berbuat sesuatu. Terjun ke sana. Merasakan diculik. Dirampok. Menyelinap di antara ranjau dan desing peluru. Diancam.

Seorang ‘kafir’ yang bisa dicintai oleh muslim berbagai aliran di pemukiman terpencil. Aku tidak ingin menyusupi otakku dengan prasangka apa pun atas apa yang dilakukan Greg Mortenson.

Aku lebih suka menilai yang dilakukan Greg seperti apa yang dilakukannya. Memberdayakan manusia, terutama perempuan, dan menaikkan martabat mereka. Usahanya menunjukkan bahwa mestinya agama bukan menjadi alasan permusuhan, karena sebenarnya semua agama mengajarkan perdamaian.

Kalau menyebut Greg ‘pahlawan’ dianggap berlebihan, baiklah kita sebut dia inspirasi. Tapi sejauh apa kita akan bergerak dengan menjadikannya inspirasi?

*********

Apa yang bisa kita perbuat untuk orang yang membutuhkan pertolongan? Jika pun bukan di belahan lain dunia, di sekitar kita saja.

Aku tahu, aku juga masih belum berbuat banyak. Huh, malu.

2 thoughts on “three cups of tea (greg mortenson dan david oliver relin)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s