celaka

‘Maafkan keponakan saya…’
Aku tersenyum mengangguk.
‘Maafkan adik saya’
Kusalami uluran tangannya.
‘Maafkan cucu saya’
Aku mengangguk.

***

Ibu terbaring merintih. Kaki kanannya patah. Jidat dan pipinya memar. Kepalanya harus datar tak berbantal atau dunia akan berputar lalu muntah.

Aku belum, dan tak akan menyampaikan padanya bahwa orang yang bergandeng tangan dengannya menyeberang jalan tak tertolong.

***
Kuletakkan sekotak kue di meja perawat UGD, sekedar tanda terima kasih atas segala kesibukan menlong Ibu, dan menjaga barang bawaan Ibu sebelum aku dan saudara-saudaraku tiba. Di ruang tunggu masih kulihat keluarga anak yang menabrak Ibu dan teman menyeberangnya. Seorang remaja dengan luka di pundaknya ada bersama mereka. Sepertinya sedang bersiap pulang.

Aku berlalu tak melihat ke arah mereka. Aku tak mau menemui anak itu. Dan bagus, hanya bibi dan neneknya yang datang menemui kami minta maaf. Sebaiknya begitu. Jangan sampai anak itu datang minta maaf kepadaku. Karena aku tidak akan tahan untuk tidak memaki dan memukulinya sampai lebih remuk lagi.

Lebih baik kusimpan energiku untuk mengurus Ibu.

8 thoughts on “celaka

  1. Aku juga gak suka liat anak yg belum umurnya udah bawa2 kendaran. Kebanyakan dari mereka belum punya behavior yg mateng buat mengerti bagaimana tanggungjawab membawa kendaran ya.. kesel😦

    Semoga Ibu mbak Latree segera sembuh🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s