Nyanyian Penggali Kubur – Gunawan Budi Susanto

Nyanyian Penggali Kubur
Gunawan Budi Susanto (Kang Putu)
Agustus 2011
Gigih Pustaka Mandiri

Kenapa di undangan launching buku ini beberapa waktu lalu, tidak disebutkan ini buku apa?

Mungkin kau sebut ini adalah kumpulan cerpen. Seperti yang dikatakan penulisnya: dia telah mengubah catatan fakta menjadi sepenuh fiksi. Tapi Kang Putu, njenengan gagal.

Di mataku, apa yang ditulis Kang Putu sama sekali bukan fiksi. Aku merasakan semua kemuraman dan kepedihan di setiap kata yang dituturkan. Leherku selalu dicekik di setiap cerita. Dan mataku dipaksa menahan air mata (karena aku membaca buku ini di kantor, di jalan, di warung, di mana saja).

***

Aku lantas teringat masa SD. Menonton film G30S-PKI adalah wajib, sampai beberapa tahun beruntun. Gratis. Buat anak miskin yang tak terbayangkan bisa masuk bioskop, awalnya aku bersemangat. Ternyata aku tidak suka film itu. Sama sekali tidak mengerti kenapa anak SD diwajibkan menonton film yang diwarnai kekerasan dan sadisme.

Tapi saat itu, sungguh berhasil misi pembuat film (bukan sutradara atau siapa, tapi orang yang ingin film itu edar ditonton orang banyak bahkan dengan gratisan). Tertanam di benakku bahwa PKI itu jahat, kejam, sadis, musuh. Masih lagi di tahun-tahun berikutnya, setiap tanggal 30 September film itu diputar di TVRI. Aku, tentu saja ogah menonton.

***

Meskipun pada akhirnya terkuak, bahwa sejarah yang selama ini dijejalkan di kepala kami, anak-anak, melalui pelajaran Sejarah dan film itu, tidak benar; masih belum terbayangkan bagaimana kejadian sebenarnya.

Aku mendengar bahwa banyak dari mereka yang ditangkap dan dibunuh dengan tuduhan menjadi antek PKI, sebenarnya tak tahu apa-apa. Hanya para petani yang aktif berkumpul di kelompok tani. Perempuan yang aktif berorganisasi mengembangkan diri. Dan celakanya, anak turun mereka dicap sebagai keturunan PKI dan dipersulit dalam banyak hal di kehidupan.

Ah entahlah. Pelajaran sejarah di sekolah tidak pernah menarik buatku. Dan nilaiku tidak pernah lebih dari tujuh. Mungkin itu yang membuat aku abai pada sejarah yang nyata atau rekaan tentang PKI dan segala macamnya.

Buku ini membuka mata dengan cara yang berbeda.

***

Dari tujuh cerita di dalam buku ini, satu yang kusuka. Tidak, aku bukan suka isi ceritanya. Semua isi cerita di buku ini bukan sesuatu yang layak disukai. Suka itu, maksudku… Ah. Pokoknya paling dalam menusukku: Mbok Nah, Tong dan Sayur Bayam. Karenanya aku memilih judul ini untuk dibaca di ‘Melawan Lupa’, tanggal 30 September lalu.

Aku, tanpa sadar, mungkin seperti Kang Putu. Tidak percaya berita, dan lebih percaya fiksi. Karena sungguh, dalam fiksi ada kejujuran yang tidak terbantahkan.

Advertisements

13 thoughts on “Nyanyian Penggali Kubur – Gunawan Budi Susanto

  1. Kunjungan silaturahmi petang hari sahabat di kata dan rasa..
    Terima kasih telah berbagi referensinya sahabat…kalau melihat gambar sampul bukunya cukup menegangkan sepertinya jalan cerita serta isi bukunya itu

  2. Apapun tulisan Bapak Gunawan, aku napsu mbaca, lha saya jadi penggemar dia sejak lama …. kekayaan kosa kata nya yang membuat suka…….

  3. selepas membaca buku ini, jujur saja aku mengakui kebenaran opini kang putu kalau dia lebih mempercayai fiksi ketimbang fakta. 7 cerpen dalam “Nyanyian Penggali Kubur” makin membuktikan hal itu. betapa kekejian dan kebiadaban terasa lebih terang dan nyata diungkap dalam fiksi ketimbang dalam liputan berita. saya tunggu kedatangan mbak latree hari minggu, 11 Desember 2011 di Balai Kesenian Remaja Kendal. salam budaya!

  4. Pingback: ibu, bapak di mana? « kata dan rasa

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s