karena bayi adalah sumber rasa iba

Bayi itu makhluk lembut dan tak berdaya. Hanya bisa menangis untuk meminta. Adalah ibu yang mengerti tangis mana yang mengatakan dia haus, lapar, popoknya basah, digigit semut, gerah, atau sekedar ingin digendong dan disayang. Melihat bayi membuatmu ingin melindungi, mencintai, mencurahkan kasih sayang dan rasa iba.

Aku benci pada perempuan-perempuan yang membawa bayi ke pinggir jalan, berpanas hujan di traffic light, mencoba menguras iba pemakai jalan dengan bayi di gendongan. Aku marah melihat perempuan yang sengaja mencubit bayinya supaya menangis agar orang makin iba. Aku muak melihat perempuan yang sengaja menunjukkan teteknya yang lempet memaksa memasukkan puting ke mulut bayinya yang ogah.

Aku…

Aku…

Aku kehabisan kata-kata sopan untuk mengatakan, betapa kejamnya perempuan-perempuan yang tega memaparkan bayi pada terik matahari, angin, dingin, hujan, asap knalpot; untuk mengemis meminta sekeping dua yang akan menumpuk di kantong yang digendong bersama dengan bayinya.

Aku ingin sejenak turun dan bertanya ke mana hatinya. Atau mungkin aku tak akan bisa berkata apa-apa. Karena aku ingin merebut bayi di gendongannya. Lalu menampar mukanya, menjambak rambutnya, dan memaki sepuasnya.

Tapi lihatlah. Aku hanya bisa mengibaskan tangan tanpa memandang ketika dia menadah padaku. Menggerutu. Lalu pergi.

Aku bahkan tidak sanggup mengambil gambarnya. Jadi gambar kupinjam dari sini

Advertisements

12 thoughts on “karena bayi adalah sumber rasa iba

  1. lagi-lagi soal ini,
    ah saya ga bisa komen lebih banyak selain..
    karena sedih aja ga bisa memberi apa2 😐

    dan soal kejamnya mereka itu, juga ga bisa komen,
    hidup emang pilihan yg berat kadang ,
    banyak rahasianya yg ngga aku tahu 😐

  2. kalau melihat pengemis yang membawa bayi entah kenapa aku malah ga merasa iba mbak, yang ada malah rasa yang bercampur aduk antara kesal, marah dan ga bisa berbuat apa2 yang tiba-tiba nyumpel di dada 😦

    entahlah cuma apa ga ada jalan lain selain ngajak anaknya berkeliaran di jalan begitu

  3. memang kita ga tahu alasan orang melakukan sesuatu, cuma bisa menduga.
    pasti ada yang bisa dilakukan untuk cari uang tanpa menyiksa bayi. tapi konon katanya, di antara bayi yang diajak ngemis itu adalah sewaan. yang menyewakan bayi aja bisa dapat 3 juta sebulan. nah yang nyewa penghasilannya berapa? itu di atas penghasilanku yang pegawai negeri goongan ti…

    ah sudahlah. ini juga cuma tulisan keprihatinan.

  4. Sama…saya juga selalu berusaha tidak melihat bayinya kalau ada ibu-ibu yang menggendong bayi buat meminta-minta di perempatan jalan…kalau saya lihat, saya khawatir tidak tega dan memberi uang yang sebetulnya tidak mendidik ‘sang ibu’.

    Apalagi sekarang semua cara dilakukan demi mengais rezeki, padahal rezeki yang penuh berkah seharusnya kan dicari dengan bersusah payah bekerja, bukan sekedar menengadahkan tangan buat meminta-minta.

    Apakah saya kurang empati?
    Entahlah, melihat foto ini di jalan-jalan raya juga selalu membuat perasaan saya juga prihatin…
    😦

  5. Ketika melihat pemandangan ibu pengemis gendong bayi, saya pun terasa enggam melihat, karena dilema, antara mau kasih dan perasaan kesal sm si ibu, jadinya tersimpan terus dalam hati tak tau apa yg harus dilakukan dalam situasi spt itu, inginnya si ibu itu cepat berlalu.

  6. kadang sih saya mikirnya “kok tega ya?” jangan jangan itu bukan bayinya, soalnya terkadang juga mereka sengaja meminjam bayi untuk meminta belas kasihan kita. Saya justru sedih klo ada ibu yang membawa anaknya untuk diajak minta minta, karena saya pribadi pasti ingin mencarikan tempat paling nyaman untuk buah hati tercinta 🙂

  7. Kadang dengan sengaja para pengemis itu membawa anaknya yang masih kecil. Dengan harapan akan mendapatkan uang yang banyak dari hasil meminta-minta. Sungguh kasian sama anak tersebut,, dia dikorbankan hanya karena recehan uang, dan yang mengajaknya tak pernah peduli dengan apa yang diderita anak-anak kecil tersebut.
    Sungguh iba melihatnya….

  8. ah ternyata kita sama, cuma bisa mbatin. ada yang bisa kita lakukan? apa gitu, tindakan nyata *halah*

    @wempi: lah kamu di mana?
    @depz: mungkin emang ga perlu berkata-kata, tapi berbuat sesuatu gitu.

  9. Selalu dilematis kalau membahas masalah ini.. mau ngomong apa-apa juga gimana gitu.. 😐
    Kita tersentuh, kita iba, dan itulah yang dimanfaatkan oleh para pengemis. Mengais rasa iba kita.. Dilema, dilemaaa.. 😦

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s