Bom di Ruang Keluarga (Jimat Kalimasada)

Bom di Ruang Keluarga

Jimat Kalimasada

2010

diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus dan Cipta Prima Nusantara

***

Tujuh cerpen di buku ini, pernah dimuat di Harian Suara Merdeka. Semua ditangkap oleh Jimat Kalimasada dari kejadian sehari-hari di sekitarnya. Bisa jadi, sebagiannya juga terjadi di sekitar kita.

‘Bom di Ruang Keluarga’, yang menjadi judul kumcer ini, merupakan sebuah wujud keprihatinan tentang efek dahsyat televisi yang bisa terjadi di setiap ruang keluarga di rumah kita. Mungkin  bukan cuma bom. Tapi juga penangkapan teroris, banjir, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan… Pernahkah kita rasa? Waspada? Atau abai begitu saja?

‘Garis Mata Pisau’, seperti pisau, bermata dua. Menurutku ini cerita tentang kegigihan luar biasa yang muncul dari keputusasaan yang tak kalah hebatnya. Ada dendam yang membuat sanggup melakukan sesuatu yang tampak tak masuk akal. Menguras energi yang sebenarnya bisa digunakan untuk banyak hal yang lebih masuk akal. Tapi siapa yang bisa mengerti?

‘Pelor Kebosanan’ dan ‘Surat Cinta di Pucuk Pisau’ sepertinya mewakili depresi manusia masa kini. Yang tidak sanggup menahan, tak tahu ke mana berpaling, entah pada siapa berpegang. Hilang arah. Adakah kita menjadi salah satu bagiannya?

‘Kabut di Daun Jendala’, ‘Kehamilan Anggur’, ‘Perpisahan dari Senja’ dan ‘Senja Lewat Begitu Saja’ adalah pertanyaan tentang keabsurdan cinta. Mencari batas kesetiaan dan pengkhianatan. Memilah keindahan dan kepedihan. Mencari sejati dan kepalsuan. Mempertanyakan kekuatan pernikahan. Di mana kita berdiri?

***

Maka bagiku buku ini telah menjadi bom di rak buku. Yang sekali waktu berubah belati. Begitu banyak keprihatinan berceceran di kehidupan. Tapi kita bersikap seolah dunia ini baik-baik saja. Atau berpura begitu. Menutup mata, dan merasa lebih baik tidak melihat kenyataan menyakitkan.

Agak mistis bagiku, bahwa sebagai seorang lelaki yang Pak Guru, ternyata Jimat lebih banyak juga menyoroti soal cinta (antara lelaki-perempuan); meskipun penyajiannya tegas berbeda satu dan yang lainnya. Kukira bahasan cinta adalah spesialisasi penulis perempuan. Barangkali aku yang salah. Dan menakjubkan bagiku, bahwa ke-empatnya bercerita tentang pengkhianatan. Di mana kesetiaan diletakkan? Begini kah kondisi ‘cinta’ terbaca di mata Jimat? Atau, ini kah sebenarnya yang menjadi sumber segala belati yang berceceran itu?

***

Tutur bahasa Jimat, bagiku, pelan dan datar. Kau seperti mendengar seorang bicara sambil diam menatap ke satu arah – atau mungkin pandangan kosong. Dari awal sampai akhir. Membiarkan kau menemukan sendiri di mana harus kau letakkan keras-lemah tekanan dan tinggi-rendah suara. Tapi begitu lah dia menenggelamkanmu.

Advertisements

3 thoughts on “Bom di Ruang Keluarga (Jimat Kalimasada)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s