Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

Hari ketujuh #15HariNgeblogFF

======================================

: kasih

seperti guguran daun di musim kemarau
begitulah telah kau buat aku
luruh di teduh matamu
kering, merindu sejuk senyummu

‘aku

Sepucuk surat dilipat.
Mungkin ini memang era digital. Tapi puisi tak tergantikan. Dan surat yang ditulis tangan adalah barang mahal.

***

Kulirik jam tangan, pukul lima seperempat. Bergegas kurapikan tasku dan setengah berlari ke parkiran. Kuraba saku jaketku.

DEG.

Surat itu tak ada. Sialan. Kemarin aku lupa memberikannya. Sekarang di mana? Sambil berusaha mengingat aku menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung.

***

Pintu tidak dikunci. Niar sedang duduk di ruang tamu, membaca novel yang kami beli minggu lalu. Kakinya bersilang menumpang di meja.Β  Tuhan, amplop kuning gading itu tergeletak di meja, dekat dengan tumitnya. Kuhampiri Niar, ingin mencium keningnya, seperti yang selalu kulakukan setiap tiba di rumah. Tapi kali ini tangannya menepis wajahku.

“Niar, kenapa…”
“Surat siapa itu?”

Aku duduk di sebelahnya, merangkul bahunya yang tiba -tiba menjadi kaku.

“Jadi kamu menemukannya…”
“Dari siapa?”
“Kamu sudah baca?”

Niar mengangguk.

“Di situ tertulis dari siapa?”
“Dari ‘aku’. Tapi jelas itu bukan dari aku”
“Tentu bukan. Karena itu buat kamu”
“Buat aku? Jangan konyol. Dari siapa?”
“Dari aku”
“Jangan bohong. Itu bukan tulisanmu”
“Masa?”

Niar mengambil blocknote kecil dari sakuku, lalu membuka halaman sembarang. Aku tertawa.

“Sayang… Kalau aku meliput dan wawancara dengan menulis seindah yang di surat itu, kapan selesainya? Aku bisa ketinggalan berita…”

Kuambil pulpen dari sakuku. Perlahan kutuliskan di blocknote itu:

Jangan marah dong sayang, surat itu buatmu. Suer…

Niar memandangi tulisan itu beberapa saat. Aku berharap dia tersenyum. Tapi masih saja dia cemberut.

“Apa-apaan kamu nulis puisi begitu buat aku? Kenapa juga ngga langsung kamu kasih ke aku?”
“Aku sudah lupa kapan terakhir kali menulis puisi buatmu. Tiba-tiba saja ingin. Dan memang aku ingin kamu menemukannya sendiri. Kupikir kamu akan langsung mengerti. Ternyata malah cemburu begitu…”

Akhirnya senyum itu mengembang. Dan sebuah pelukan. Dan cium hangat di pipi.

***

Kutulis satu puisi lagi. Kulipat rapi. Dan kupastikan kali ini kuberikan pada Resti sebelum pulang, agar tak ditemukan istriku lagi.

=======================================

Temukan Β tulisan seru yang lainnya, daftarnya ada di sini

Advertisements

15 thoughts on “Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

  1. oh.. pesan moralny, klo mu ngasih sesuatu buat slingkuhan jgn pake nama, jd klo ktauan gampang ngelesny hihi..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s