Di Ujung Ketulusan

*menemani Violetkecil berduet hari ini. senang bisa berpartisipasi di hari ke-2 #20HariNulisDuet, meskipun mungkin tidak bisa ikut sampai full…*

===================================================

Yora menjejakan kaki di tanah lembab yang dingin. Udara pagi itu lumayan menusuk dan dia harus segera menemui seseorang sebelum matahari terlalu tinggi. Langkah kaki kecilnya berpadu dengan waktu yang terus berdetak. Dinding kaku putih yang terlewati seakan sebuah siluet yang tidak nyata. Pintu yang terpampang di depannya adalah satu-satunya hal yang nyata.

Dibukanya daun pintu dengan perlahan. Seorang wanita paruh baya masih terlelap. Nafasnya yang satu-satu membuat Yora lagi-lagi tercekat. Yora tersenyum ketika melihat keadaan wanita itu sedikit lebih baik. Ia memandangi wajah pucat yang lelap. Tidak ada lagi tawa dan senyuman di sana.

“Ibu, aku merindukanmu,” bisik Yora lembut

Aku ingin tersenyum. Aku ingin menjawab bisiknya. Aku ingin mengatakan bahwa setiap pagi aku menunggunya. Hidup seperti mati di sini. Pucat di tembok, pucat di jendela. Pucat di langit, pucat di sprei. Pucat di wajah perawat yang berusaha tersenyum dalam kelelahan. Sepi di kamar. Sepi di koridor. Sepi di malam dan siang. Sepi aku.

Aku ingin memeluk Yora. Seperti kulakukan setiap hari sejak dia terlahir di dunia. Aku ingin berbincang bercengkerama. Seperti kulakukan setiap hari sejak dia terlahir di dunia. Aku ingin menyuapinya. Seperti masih kulakukan sesekali hingga… hingga… hingga…

“Ibu, apa kabar Ibu hari ini? Yora datang lagi, tidak terlambat kan bu?”

Yora terdiam. Ia masih memandangi wajah pucat ibunya. Matanya memanas. Air mata semakin mendesak. Hatinya terus menjerit perih dengan lantang. Ia sangat merindukan Ibunya. Sosok paling tegar yang sekarang terbaring. Sosok paling tulus yang memberinya arti kehidupan. Sosok yang paling ia rindukan.

“Ibu, siang ini Yora akan mengikuti wawancara kerja. Ibu, doakan Yora berhasil ya…”

Dadanya semakin sesak. Saat seperti ini, ia ingin Ibunya memeluknya erat, mengusap rambutnya dengan lembut dan membisikan kata-kata sayang.

“Ibu, Yora sekarang berusaha jadi anak Ibu yang mandiri. Yora tidak lagi manja Bu…”

Yora kalah. Air matanya menetes pelan. Ia benci ini. ia tidak ingin menangis di hadapan Ibunya. Ia tahu Ibunya merasakan kesedihan yang sama ketika setetes air mata merember dari ujung mata yang terpejam itu.

“Ibu,” gumam Yora lirih.

Kau hidupku, Yora. Matahariku. Yang memberi kehangatan dalam beku. Rembulanku. Memberi terang dalam gelap. Semua yang kulakukan hanya tentangmu. Tak pernah tentang aku sendiri. Semua yang kuinginkan hanya untukmu. Tak pernah untuk aku sendiri. Usah kau minta. Doaku selalu selalu terlantun meninggi. Bahkan dalam pejam sunyiku setiap hari.

Kau hidupku, Yora. Maafkan aku yang tak lagi bisa berbuat apa-apa buatmu. Maafkan aku yang telah menyusupkan kematian dalam kehidupan kita…

Yora mengusap air mata dari sudut mata Ibunya. Kulit pucat itu masih sama lembutnya. Yora menunduk. Air matanya sendiri masih terus merember keluar.

“Ibu, maafkan Yora. Yora gak akan nangis lagi.”

Sesak, perih, menghimpit, mendesak. Yora mengusap air matanya dan mencoba tersenyum. Ia meraih tangan kurus sang Ibu. Tangan yang selalu menuntunnya dengan hangat.

“Ibu, cepat sembuh ya dan kita bisa pergi ke mushola bersama. Yora kangen suara Ibu saat mengaji…”

Gumaman Yora terhenti karena suara ketukan di pintu. Dua orang perawat dan seorang dokter masuk. Yora tersenyum pada mereka. Ia merapatkan diri ke dinding. Andai bisa ia ingin menyatu dengan tembok itu. Ia selalu mendengar kata-kata mereka tentang kondisi Ibunya. Dan Yora tahu, pagi ini juga sama. Ia tidak berkata apapun hingga hanya dia dan Ibunya di ruangan itu.

Semuanya masih sama. Sunyi. Sepi. Pucat.

“Ibu, Yora percaya ada keajaiban dalam ketulusan yang selalu Ibu berikan.  Yora ingin keajaiban itu datang saat ini.”

***

“Kita gugurkan saja…”

Seperti petir menyambar. Nora tidak pernah menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Yoga. Mulutnya seketika terkunci. Lidahnya mati. Pita suaranya putus.

“Maafkan aku, Nora… Tapi aku tidak bisa menikahimu. Aku… aku belum mengaku kepadamu bahwa.. bahwa aku…”

Nora tidak ingin mendengar. Tidak ingin menduga. Tapi hatinya tidak bisa dilarang merasa.

“Aku sudah menikah, Sayang. Aku punya keluarga. Aku mencintaimu. Aku bukan tidak ingin bertanggung jawab. Aku… “

Malam penuh kembang api melintas lagi. Ketika langit bertabur bintang menjadi atap padang rumput. Bulan yang malu melihat dua insan terlena. Kepasrahan jiwa. Ketulusan cinta. Dalam bisik buai kata. Dalam sentuh mengaduk gelora. Ketika hati ingin lari tapi kaki seperti tertancap di bumi.

“Atau… atau… ah Sayang. Aku tahu pasti berat jika harus menggugurkannya. Kamu ingin menjaganya? Iya.. aku juga mau… bagaimanapun ini darah daging kita. Baiklah… begini saja…”

Nora masih diam. Dia tahu ini cuma akan menjadi tipuan lain seperti tipuan Yoga di masa lalu; yang baru disadarinya.

“Kamu jaga dia. Besarkan. Rawat. Tapi aku minta maaf sebelumnya. Aku… aku tidak bisa menjadi ayah baginya…”

Air mata Nora mulai mengalir. Ditepisnya tangan Yoga. Nora menatap menusuk mata Yoga. Bertanya bagaimana bisa…

“Aku akan ikut bertanggung jawab, Nora. Aku akan menanggung semua kebutuhanmu sebelum dia lahir. Juga aku akan menanggung semua kebutuhan setelah dia lahir… Tapi aku tidak ingin dia melihat aku. Aku juga tidak akan melihat dia. Aku takut tidak sanggup. Aku…”

Cukup.

Nora meninggalkan Yoga tanpa sepatah kata pun. Tidak perlu lagi bicara. Tidak ada gunanya.

***

“Ibu, keajaiban itu pasti datang, kan?” gumam Yora.

Yora menunduk dalam.  Dunia yang ia kenal hanya satu, Ibunya. Ia ingin berteriak, memberontak akan takdir hidup yang ia jalani. Yora hanya memiliki Ibu, satu-satunya sosok yang menjadi penopangnya. Dan sekarang, ia harus tegar sendiri. Demi sang Ibu dan dirinya sendiri.

Yora menangis lagi. Semua perih kian menusuk tanpa ampun. Yora menggenggam tangan Ibunya dengan kuat. Bahkan, dalam genggaman tangan dingin itu, Yora bisa merasakan ketulusan seorang Ibu. Seakan mengalirkan energi yang menguatkannya. Yora semakin menangis. Tapi, sebenarnya Yora tidak menangis seorang diri.

Aku mungkin memang perempuan bodoh. Yang telah percaya mulut lelaki pendusta. Mempercayakan hati pada tangan yang salah. Tapi sudah kubayar. Sudah. Setidaknya aku berusaha. Aku mungkin memang perempuan bodoh. Meskipun telah membawamu menghilang, di sudut hati paling dalam masih saja aku berharap dia datang membawa penyesalan. Tapi kutahu dia tidak akan pernah ada lagi.

Yora. Maafkan aku. Kurasa hanya satu hal yang bisa kulakukan kali ini. Satu hal yang tidak akan lagi menyulitkanmu. Aku tahu kau akan baik-baik saja. Kau akan lebih baik sendiri. Karena aku hanya akan menjadi penghambat laju harimu. Selamat tinggal…

***

Di balik pintu, seseorang menangis dalam diam…

Advertisements

4 thoughts on “Di Ujung Ketulusan

  1. nathalia, yora adalah anak yoga dan nora. tentu saja dia sempat lahir, tuh dia nungguin ibunya sakit sampai mati 🙂

    cup cup teh anny, ini cuma fiksi 😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s