the soul

Aku teringat kata-kata Wing Sentot di konser kecilnya Sabtu lalu, bagaimana dia merasakan bedanya menyanyi di ruang rekaman dengan menyanyi live. Menyanyi di ruang rekam seperti robot. Asal menyanyi dengan nada yang benar. Menyanyi di depan penonton lebih memberi jiwa. Interaksi dengan penonton membuat menyanyi serasa hidup.

Aku teringat lagi sewaktu akan tampil di IAIN Walisongo bersama Atisejati. Pada saat tes sound dan latihan sesaat sebelum acara, kepalaku blank. Lirik lagu banyak yang hilang. Bahkan alur musik lepas. Tapi pada saat tampil, semua berjalan lancar nyaris sempurna. Di akhir acara mas Leak bertanya kenapa bisa begitu. Kujawab, kekuatan penonton memberi energi lain.

***

Kamis malam kemarin, bersama Ibit, Babahe dan teman-teman KPJ, kami melakukan proses rekaman album BLAKOTANG (yang akan diluncurkan bersama dengan kumpulan gurit Babahe dengan judul yang sama). Musik direkam berulang-ulang. Ipin mengaku spaneng, dan itu membuat dia beberapa kali melakukan kesalahan. Aku sendiri, menyanyi sambil mikir. Karena hanya ada musik kosongan. Suara Ibit dan Babahe direkam terpisah. Tidak ada pegangan untuk harmonisasi suara. Takut salah. Takut jelek.

***

Kita lihat saja bagaimana nanti ketika harus menyanyi di saat acara peluncuran BLAKOTANG. Kuyakin lebih rileks. Dan berjiwa.

Advertisements

12 thoughts on “the soul

  1. yutub? hehe.. sabar ya dev. lagi cari prosedur nih :))

    om warm… aku pengen pentas di yogya. bikinin acara gih. nanti kau jadi bassisnya, tinggal ku kirim materi aja sebelumnya. gimana πŸ˜€

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s