(bukan) karena iri (?)

I/

Jaman cilikan dulu, aku pernah masuk ke rumah seorang teman yang (di mataku) kaya raya. Ada sebuah grand piano di ruang tengah. Ketika kutanya siapa yang main, kata temanku ‘tak ada’. Piano, buat pajangan! Aku yang waktu itu merasa cukup bahagia bisa main recorder dan harmonika, sungguh mengiri habis (sekali gus pengen marah) pada yang bisa beli piano tapi cuma buat pajangan.
 

II/

Bapakku punya 3 buah HP. Semua dibeliin anaknya. Tiga? Iya. Yang satu buat telpon dan sms-an. Yang satu buat dengerin mp3. Yang satu buat moto. Sebenarnya ketiga hal itu bisa dilakukan dengan satu HP saja, tapi memang Bapak maunya pisah-pisah gitu.

Beda dengan Ibu. Ibu ngga mau dibelikan HP yang banyak fitur. Yang penting bisa buat telpon dan sms. Ngga masalah walau layarnya monochrome.
 

III/

Pernah kubaca cerita di blog, lupa di mana. Ibu si empunya blog itu melek gadget. Setidaknya dia bisa buka internet dan baca-baca portal berita. Suatu saat, di sebuah pertemuan (arisan?), si Ibu sedang asyik membaca berita lewat HPnya. Seorang temannya bertanya:

‘Lagi sms anaknya ya Bu?’

‘Lagi baca berita’

‘Di HP? Wah harus HP canggih pasti ya?’

‘Enggak. Semua HP asal bisa buat internetan pasti bisa buat baca berita ini’

‘Tapi HPku ngga bisa…’

‘Lha HP-mu itu lebih canggih dari punyaku. Kamu kan suka make buat fesbukan..’
 

IV/

Betapa seringnya kita melihat, orang yang memakai gadget canggih tapi tidak tahu bagaimana memanfaatkannya (secara optimal). Bahkan kata Titut, seorang temanku yang dosen dan sedang belajar di Australia sana, ada orang yang tidak mau ketinggalan model gadget terbaru, hanya karena itu model baru — tanpa tahu apa fungsi dan kelebihannya.

Betapa seringnya kita, ketika menemui hal seperti itu lantas menjadi sinis dan berkata (kurang lebih) ‘Sayang sekali, gadgetnya canggih tapi yang make gaptek. Mendingan kaya punyaku ini deh, biar sederhana yang penting bisa dimanfaatkan dengan maksimal.’
 

V/

Berani sumpah, yang ngomong begitu itu, tanpa unsur iri sama sekali, dan hanya ada bersyukur dengan yang ada di tangannya?

Aku tidak. Karena jika aku sampai ngomong begitu, pasti ada sedikit terlintas di kepalaku: benda itu pasti bisa dimanfaatkan lebih optimal di tanganku.
 

VI/

Andai piano itu diletakkan di ruang tengah, di rumahku, pasti akan menjadi lebih dari sekedar pajangan

6 thoughts on “(bukan) karena iri (?)

  1. @Nathalia. ngga sekeren itu lah, tapi setidaknya dipakai gitu😀

    @fenty…. kamu ini, bener juga ya.. :))
    tapi jaman cilikan kan aku masih ikut Bapak. rumah ndesa biar jelek tapi luas. grand piano masih bisa masuk. mau ke dapur ya ngga masalah. wong dapur rumah ndesa itu segede rumahku sekarang :))

    @Gusti dan Ramli, begitulah…

    @Warm: aku jadi temenmu ya😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s