baby blues isn’t that scary.

Mungkin aku yang keterlaluan, menganggap orang lain berlebihan. Ini postingan juga sekedar berbagi pengalaman, seperti yang lain. No hurt feelings, bukan bermaksud mendiskreditkan ibu dengan pengalaman yang berbeda.

Seorang teman merasa semakin takut punya anak setelah membaca postingan tentang babyblues. Menurutnya itu mengerikan. Ditambah lagi, katanya, dia melihat beberapa sahabatnya juga mengalami baby blues ketika punya bayi. And it’s horrible, katanya.

***

Rasa dan pikir orang memang berbeda-beda. Tapi yang ‘horrible’ menurutku adalah, ketika seorang perempuan menjadi takut punya anak karena membaca pengalaman orang lain yang mengalami ‘baby blues’. Baby blues adalah keadaan di mana kondisi kejiwaan seorang ibu yang baru saja melahirkan menjadi labil, mudah menangis, dan terkadang disertai depresi ringan. Hal ini dapat dialami 75-80% ibu melahirkan. Jika berlangsung lama, dapat menjadi postpartum depression. (Sumber: wikipedia, FamillyDoctor.org).

Aku sendiri belum pernah merasa mengalaminya, meskipun sudah berkali-kali melahirkan (buset, berkali-kali). Ketika anak pertama lahir, tidak ada waktu buat baby blues. Aku sibuk melindungi bayiku dari perawatan tradisional yang ingin dilakukan embah-embahnya. Iya, setelah melahirkan anak pertama (yaitu Mbak Ibit), selama sebulan aku tinggal di rumah mertua. Karena kultur di desa mertua masih sangat tradisional, perawatan bayi pun masih serba tradisional. Misalnya, tali pusat dibungkus dengan tumbukan kunyit, katanya supaya busuk dan cepat lepas. Hahaha, mengerikan ya, dibikin busuk. Padahal mestinya kan dibiarkan saja sampai kering dan lepas. Atau ketika Mbak Ibit baru berumur beberapa hari, ada yang nyolong  mau nyuapin, katanya lapar karena nangis terus. Yaaaa…… bayi kan bisanya nangis. Dia lapar, dia haus, dia kegerahan, dia ngantuk, dia pengen digendong, dia pipis, dia digigit semut; bisanya ya nangis aja. Dan kalaupun dia lapar, makanan bayi yang baru lahir adalah ASI. Sistem pencernaannya baru ‘belajar’ bekerja, kok mau dikasih makanan padat. Kasihan kan? Yang bikin perjuangan makin berat, bukan cuma embahnya aja yang ingin menerapkan perawatan bayi cara mereka, tapi juga tetangga-tetangga. Kupingku ini harus tahan mendengar kata-kata yang serba negatif karena aku tidak mau menuruti mereka.Jadi stress ketika pertama kali punya bayi bukan karena melek malem, bangun nyusuin atau ganti popok. Itu mah seru. Yang capek justru menghadapi orang-orang dewasa di sekitar bayi. Aku tahu, maksud mereka baik, ingin ikut menjaga dan merawat bayi dengan cara yang mereka tahu. Hanya saja cara mereka itu tidak benar, menurutku. Perlawananku itu sempat jadi isu nasional di desa. Ya, namanya juga di desa, berita apa saja mudah tersebar ke mana-mana. Tapi efek baiknya, setelah itu banyak ibu muda yang mengikuti hanya memberikan ASI sampai 4 bulan (waktu itu WHO bilang ASI eksklusif adalah 4 bulan. Mulai menjadi 6 bulan kalau tidak salah setelah 2003).

***

Melahirkan kedua, kalau mau dibikin stress, mestinya bisa lebih stress lagi. Meskipun embah-embah sudah nyerah tidak lagi ngotot bertradisional, mengurus dua bayi sekali gus (yaitu Ar dan Ir) bukan hal ringan. Melek malamnya jelas dobel. Di hari-hari awal, mungkin sampai dua minggu, rasanya malah aku ngga tidur sama sekali. Habis gantiin popok yang ini, merem bentar, yang itu gantian pipis. Merem bentar, yang ini minta minum, merem bentar, yang satu lagi gantian minta minum. Ada Ibu-ku yang menemani melek-melek. Kasihan juga. Lalu Ibuku menyarankan, setiap kali yang satu selesai netek, bangunin aja yang satunya, tetekin sekalian. Jadi meleknya cukup satu kali. Dan setelah jam sembilan malam, Ar dan Ir aku pake-in diaper. Supaya berkurang melek gonta-ganti popok. Lumayan.

***

Melahirkan yang ketiga (semoga yang terakhir), stressnya beda lagi. Selama masih masa cuti sih asik aja. Setelah mulai kerja baru lah timbul perasaan ngga tenang, karena ninggal bayi dari pagi sampai sore. Kadang sampai malam. Bayi ke empatku ini (yaitu Dek Aik) sungguh istimewa. Aku ngga ingin menyalahkan embaknya yang menjaga selama aku bekerja. Pengennya menyalahkan diriku sendiri aja, tapi katanya itu juga tidak baik. Jadi aku terima saja keadaan bahwa tumbuh kembangnya terlambat, dan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mengejar keterlambatan itu.

Setelah diperiksa oleh dokter spesialis tumbuh kembang, ternyata Dek Aik mengidap flek a.k.a TB. Jangan mengira ini diagnosa terburu-buru. Dokternya sudah melakukan semua tes terkait dengan diagnosa itu,  mulai dari darah, rontgen dan manthoux. Selain pengobatan penyakitnya, Dek Aik aku bawa ke fisioterapis tumbuh kembang. Banyak lah, yang dilakukan terapisnya  untuk merangsang kekuatan kaki, tangan, punggung, pinggang, leher. Kadang ngga tega melihatnya, karena anaknya sampai nangis-nangis. Ngga nyaman pasti. Selalin itu kami ajak Dek Aik berenang. Aku juga bela-belain beli bola karet gede untuk melatih kekuatan punggungnya tiap hari. Supaya lebih intensif, karena terapi cuma dua kali seminggu. Alhamdulillah di umur 19 bulan akhirnya Dek Aik bisa berjalan. Terlambat, tapi masih normal. Tahap selanjutnya adalah terapi wicara. Setelah ngocehnya sempat ilang ketika dia konsentrasi belajar berjalan, sekarang sudah mulai ramai lagi. Mudah-mudahan bisa lancar seperti terapi fisiknya.

***

Susah makan?

Semua anakku susah makan. Tapi aku sendiri pun susah makan. Dan katanya nafsu makan yang baik atau buruk itu menurun secara genetis. Jadi aku sadar penuh, mengenalkan makanan akan menjadi perjuangan tersendiri. Peganganku sejak awal cuma sebuah buku menu untuk bayi, yang resepnya sederhana dan gampang dibikin. Aku tidak terlalu fokus pada variasi makanan, tapi lebih fokus pada kesabaranku sendiri ketika menyuapi mereka. Ketika mereka benar-benar tidak mau makan, kadang aku menyerah. Melepas satu kali waktu makan dan menggantinya dengan susu. Atau kalau masih mau, aku berikan roti.

***

Aku bukan ibu yang sempurna. Jauh dari sempurna malah. Tapi aku justru tidak ingin memaksa diri menjadi sempurna, mengikuti semua apa yang dikatakan buku, majalah ibu-bayi, siaran televisi, dokter, teman, atau apa pun. Menurutku, justru obsesi untuk menjadi sempurna itu yang bikin kita stress, ketika ternyata banyak hambatan untuk mewujudkannya. Semua bacaan, saran dan masukan bagus untuk referensi. Tapi setiap bayi istimewa. Cuma ibunya yang bisa mengenali karakteristik masing-masing bayi. Ibu yang bisa memilah dan memilih mana yang bisa diterapkan untuk bayinya, dan mana yang tidak.

Aku bukan orang teoritis. Aku selalu beranggapan praktek sering jauh dari teori. Meskipun kita perlu tahu setiap teori, paham, agar tahu apa yang harus dilakukan ketika praktek tidak sesuai dengan teori. Jadi aku juga tidak akan bicara poin-poin bagaimana agar terbebas baby blues pasca melahirkan.

Yang aku tahu, kunci kesuksesan ibu mengurus bayi ada di ibu sendiri. Sangat menyenangkan jika lingkungan bisa mendukung. Tapi bagaimana jika lingkungan justru memberatkan? Bohong kalau aku bilang punya bayi itu tidak capek. Jelas capek. Apalagi jika tidak ada yang membantu. Hanya sendirian mengurus rumah dan bayi. Jangan pamer ke aku soal begini ya. Sejak awal aku mengurus Mbak Ibit sendirian. Aku sempat setahun sendirian mengurus rumah, dan Mbak Ibit yang belum tiga tahun, dan Ar Ir yang baru belajar jalan. Aaaargh…. kesannya jadi pamer ya. Bukan bermaksud begitu. Cuma ingin berbagi pengalaman. Bahwa apa pun keadaannya, ayo kita hadapi, ayo kita nikmati.

Tentu saja aku ngga mungkin berhasil sendirian. Dulu jaman bayinya Mbak Ibit, memang full aku yang mengurus. Suamiku sedikit sekali ikut bantu. Dan aku tidak keberatan. Dia capek kerja dari pagi sampai malam. Terima kasih padanya, ketika lahir si kembar, dengan kesadaran tanpa kuminta dia ikut membantu sebisanya. Dan rupanya sejak itu dia merasa bahwa mengurus bayi itu menyenangkan. Jadi ketika lahir Dek Aik, dia tetap ikut mengurus. Rrrr… kecuali nyuapin😀

****

Baby blues mungkin bisa menyerang 75-80% ibu yang baru melahirkan. Kalau begitu aku termasuk yang 20-25%, dan aku bersyukur. Baby blues mungkin kedengarannya mengerikan, dan aku tidak tahu apakah hal ini bisa dihindari. Terus terang aku sendiri tidak pernah berpikir bakalan kena baby blues. Ngga mau, karena kedengarannya tidak menyenangkan, merepotkan.

Aku juga ngga ingin ibu-ibu (dan calon ibu) yang lain terkena baby blues. Kasihan. Ngga ada salahnya baca atau mendengar cerita teman-teman yang mengalaminya. Tapi mestinya itu menguatkan kita untuk menyiapkan diri, bukan justru menjadi takut akan mengalaminya. Selalu ada positif negatif dari segala hal. Kenapa kita tidak pikirkan yang positif-positif aja?

Bayi itu lucu. Bayi itu lembut. Bayi itu cantik. Tawa bayi itu merdu. Tangis bayi itu indah. Tatap mata bayi itu membuatmu merasa kau orang paling berarti baginya di dunia. Menyentuh dan bermain bersama bayi itu surga.

Capek ngganti popok, menyusui, menyuapi, memandikan? Nggak akan terasa berat jadinya.

***

Baby blues isn’t that scary. Don’t be afraid.
Kalau membaca tentang pengalaman baby blues bikin ngeri, gimana kalau diganti dengan membaca pengalaman seru dan menyenangkan punya bayi?😉

10 thoughts on “baby blues isn’t that scary.

  1. Halooo, makasih ya udah mampir di blog saya🙂 Eh saya setuju banget dgn postingan mbak. Terutama poin yg ini:

    “Tapi mestinya itu menguatkan kita untuk menyiapkan diri, bukan justru menjadi takut akan mengalaminya. Selalu ada positif negatif dari segala hal. Kenapa kita tidak pikirkan yang positif-positif aja?”

    Bener banget. Jika ada pengalaman negatif, sebaiknya tidak membuat kita takut. Malahan, harus kita pikirkan dari sudut pandang yang positif yaitu: semangat! Ayo, kita semangat melepaskan diri dari masalah itu. Orang lain bisa aja membantu, tapi kalau dari kita sendiri nggak ada kemauan untuk menyelamatkan diri, percuma aja.

    “Yang capek justru menghadapi orang-orang dewasa di sekitar bayi.” Hahaha, ini bener juga ya😀

  2. aku pernah mengalami ini ditambah dengan keadaan rumah tangga yang hancur🙂
    tapi kekuatan cinta seorang ibu pada anaknya insya Allah akan mengalahkan segala ketakutan

  3. @yuyuk: kalau sesekali kita capek, lalu merasa lelah, kesal. itu wajar. emang capek kok ngurus anak. tapi secara keseluruhan menyenangkan…

    @nesya: ayo dong, bagi-bagi pengalaman menyenangkan🙂

    @julie: hm…. kedengarannya pengalamanmu lebih menyeramkan. tapi bener, kekuatan cinta ibu insya allah bisa mengatasinya…

  4. yes mbak, baby blues itu nggak enak. lingkungan yg nggak mendukung yg paling bikin nggak enak. tapi ya maju aja terus, anak itu bikin kita berani.

    *iki njuk critane aku meh berlangganan hihi*

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s