The Coffee Shop Chronicles; kopi rasa campur aduk

The Coffee Shop Chronicles
21penulis
nulisbuku.com

***
image

Ketika mulai membaca buku ini, rasa penasaranku langsung tergugah. Bagaimana 21 orang akan bercerita dengan sudut pandang yang berbeda tentang sebuah coffee shop? Sampai tiga – empat judul masih asik. Tapi makin ke belakang ada sebuah kejenuhan.

Terus terang aku tidak mengikuti bagaimana proses 21 penulis ini saling menyahut. Yang jelas masih banyak tulisan yang terasa hanya mengulang cerita sebelumnya, tapi diceritakan oleh tokoh lainnya. Misalnya Firah yang mengulang cerita Raina. Dan Rahul mengulang cerita Noshi.Β  Juga tentang situasi yang sama yang diceritakan berulang di banyak cerita. Aku sampai hapal tentang ‘pasangan kekasih yang perempuannya memakai rok kuning dan menautkan jari di bawah meja.’

Pasti ada banyak meja di sebuah coffee shop. Kubayangkan sebenarnya masih ada tokoh dan konflik yang bisa diciptakan ketimbang hanya mengulang cerita yang sudah ada dari sudut tokoh yang berbeda. Buktinya banyak ide cemerlang yang muncul dengan menghadirkan ‘drama’ seorang perempuan borju, nenek penjual kopi, gelas yang bercerita, a runaway bride…

Munculnya ide-ide keren itu bisa membuat aku bertahan dan ingin terus membaca sampai selesai.

Menulis dengan tulisan lain sebagai pancingan, memang tidak mudah. Kita cenderung terpaku pada scene dan alur yang sudah ada. Padahal akan sangat menarik jika kita bisa ‘datang’ sebagai pengunjung kafe yang ‘merdeka,’ tidak terganggu oleh apa yang sedang terjadi di meja lain, bebas dengan pikiran dan kejadian di benak kita sendiri.

Atau memang sudah disepakati, semua cerita harus berkaitan? Sepertinya tidak ya. Karena bule gila itu cukup merdeka dan asik. Di cerita itu tidak dibahas lagi tangan bertaut di bawah meja, tapi toh dia tidak kehilangan benang merah yang mengaitkan semua cerita dengan coffee shop-nya.

Hal yang sepertinya masih kurang diperhatikan, adalah logika cerita. Kita boleh ngayal sengayal-ngayalnya, tapi khayalan hendaknya bisa diterima di dalam tubuh cerita itu sendiri. Kita boleh bercerita tentang suatu tempat seolah kita pernah benar-benar pernah berada di sana. Tempat yang nyata, ada, dan banyak orang tahu. Jika memang sudah pernah, akan lebih mudah bercerita. Jika belum, mungkin perlu sedikit observasi agar tak terlalu jauh melenceng dari kenyataan. Observasi tak harus dengan mendatangi langsung. Bisa dengan bertanya pada yang tahu. Atau bahkan sekedar googling. Serius, ini sepele tapi mengganggu. Memangnya Malioboro itu terkenal dengan kafenya? Ada berapa kafe sih di sana? Atau malah, ada kah kafe di sana?Β 

Cerita terakhir yang mestinya jadi gong malah terasa hambar.
Aku bukan penggemar kopi, dan tidak tahu banyak tentang proses pembuatan aneka minuman berbasis kopi. Tapi bagaimana bisa Noshi menyerahkan begitu saja kafenya kepada si nenek tua? Mungkin kopi hitam buatan si nenek itu istimewa. Tapi kafe itu menjual frappe, dan latte, dan cappuchino, dan kopi model lainnya. Aneh aja.

Sebenarnya semua cerita asik dan menarik ketika dibaca terpisah. Tapi mana kala mereka dibaca sebagai rangkaian kisah berkautan dalam sebuah chronicle, jadi timbul ganjalan seperti yang kurasakan itu. Hal yang mungkin tidak diperkirakan pada saat menulis.

However, buku ini sudah menemaniku dan lumayan menggerus bosan yang menjeratku bersama selang infus di tanganku ini. Ringan dan menghibur. Mudah-mudahan kesaksianku ini tidak menyurutkan semangat menulis teman-teman semua. Ayuk menulis terus, pasti makin bagus.

Advertisements

10 thoughts on “The Coffee Shop Chronicles; kopi rasa campur aduk

  1. @yuska, terima kasih sudah membaca review ala kadarnya. Aku hanya menceritakan pendapatku setelah membaca TCSC. Syukur kl bisa diterima sebagai masukan… Maaf kl ada kata-kata yang kurang berkenan ya…

    @angki, ho oh ki, digigit nyamuk aja sampe musti ditujes2 lagi πŸ˜€

  2. itu di atas penulisnya ya ?
    ya sampeyan sih terlalu mikir pas bacanya
    pasti sangar kalo jd editor

    tapi asik juga membaca kritikan sampeyan ini
    lebih menarik sepertinya dibanding membaca bukunya *eh

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s