Kemut-kemut yang Akhirnya Hilang

Kata orang, kalau anaknya ujian, emaknya ikut belajar. Kalau anak cari sekolah, emaknya yang stress.

***

Untuk soal ujian, memang aku masih berusaha menemani anak-anak belajar. Terutama Ar dan Ir yang masih banyak semaunya. Kalau Ibit sih, ndak terlalu. Rasa tanggung jawabnya bahkan lebih besar dari aku.

Ketika tiba saat Mbak Ibit mendaftar SMP, barulah aku kemut-kemut. Bukan soal nilai, tapi soal piagam yang bisa dilampirkan. Jadi, calon siswa yang berprestasi (dibuktikan dengan lampiran piagam kejuaraan minimal tingkat kabupaten) akan mendapatkan poin tambahan. Kebetulan Ibit pernah memenangi dua lomba tingkat kabupaten yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten. Pada saat selesai lomba, Ibit hanya mendapat duplikat piala. Piagamnya, kata Kepala Sekolah, disimpan di sekolah, nanti akan diberikan ketika akan mendaftar ke SMP.

Bagiku masuk akal. Mungkin pihak sekolah takut kalau piagam diserahkan ke anak malah ketlingsut atau hilang.

Cerita punya cerita, sehari menjelang pendaftaran, Ibit meminta piagamnya. Ternyata tidak ada. Besoknya, hari pertama pendaftaran, Bapaknya Ibit yang  datang ke sekolah, meminta piagam Ibit. Guru yang mengantar Ibit lomba merasa belum menerima piagam dari panitia. Lalu telponlah dia ke sana kemari. Jawabannya sungguh membingungkan. Untuk lomba yang satu, panitia merasa sudah membagikan piagam. Tapi barangnya di mana? Lomba yang satu lagi, piagamnya belum dibikin. Halo…. padahal ini lomba sudah berlangsung sekitar setahun yang lalu!

Sampai hari ketiga pendaftaran, tidak ada kabar dari sekolah. Ibit meminta aku datang menemui Kepala Sekolahnya. Ini agak aneh, karena biasanya dia justru melarang aku datang ke sekolah untuk komplen ini itu. Takut aku bakalan berapi-api. Kali ini, katanya, dia butuh aku datang dan boleh berapi-api, karena menganggap sekolahnya sudah keterlaluan mengabaikan piagamnya…

Jadi kemarin aku datang ke sekolah. Berusaha tenang. Hasil penelusuran dari pihak sekolah adalah sebagai berikut: Pihak panitia di Kabupaten sudah mengeluarkan piagam yang diserahkan kepada Dinas Kecamatan. Tapi pihak Dinas Kecamatan bilang belum menerima. Ketika dikonfirmasi lagi ke Kabupaten, panitia di Kabupaten malah uncal-uncalan tanggung jawab.

Aku minta tolong bagaimana caranya Ibit tetap bisa mendapat piagamnya. Dibuatkan surat keterangan atau gimana. Setelah sepik sepik bu guru dengan pihak Kabupaten, keputusannya adalah, akan dibuatkan piagam lagi. Resmi.

***

Hari ini pagi-pagi, alhamdulillah piagamnya sudah jadi. Hatapi katanya, pihak panitia baru bisa mengantar piagamnya ke sekolah jam 10. Plis deh. Ini hari terakhir, dan pendaftaran akan ditutup jam 12.00 WIB. Sedang piagam yang katanya mau dibawa ke sekolah jam 10 itu, belum dilegalisir.

Panas. Panas. Panas.

Dengan keras, tapi mohon maaf, aku minta tolong bagaimana caranya supaya piagam itu bisa diberikan lebih pagi, karena kami masih harus mengurus legalisir foto copy lagi. Aku bilang, kalau sampai terlambat dan belum clear sampai penutupan pendaftaran, aku akan ‘mengadu ke masyarakat’. Kalau perlu, aku mau menghadap sendiri ke kabupaten. Tapi untunglah ndak perlu. Pihak sekolah bersedia mengambilkan.

***

Agak menyesal juga aku pakai main ancam. Tapi kalau ndak gitu, mungkin pihak sekolah ndak berusaha lebih keras untuk mendapatkan piagam itu lebih pagi. Alhamdulillah akhirnya Ibit masih sempat mendaftar, dengan berkas selengkap yang diinginkannya.

Sebenarnya, piagam itu cuma berkas tambahan. Kalau hasil tes masuknya bagus, dan nilai rapor yang menjadi bahan pertimbangan penerimaan memenuhi, insya Allah bisa diterima. Tapi kan ndak tahu ya… saingannya nanti dari banyak SD, dan pasti banyak anak pintar. Rasanya memang lebih mantap kalau ada back up tambahan poin dari piagam. Dan buat anak yang nilainya pas-pasan, point tambahan ini pasti sangat berarti…

Harapanku sih, ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Buat si berhak menerima, pastikan piagamnya itu memang ada. Buat pihak sekolah, selain memastikan piagamnya ada, pertimbangkan lagi apakah menyimpan piagam di sekolah memang lebih baik daripada diberikan kepada siswa.

***

Eh tapi lucunya… kok piagamnya juara lomba macapat dan rebana? Hayah. Kan Ibit ikutnya lomba macapat dan menyanyi tunggal. Haha kacau. Gurunya pasti stres banget takpleter habis-habisan. Ya sudahlah, toh yang bisa dicantumkan cuma satu kejuaraan. Ibit inginnya yang lomba menyanyi. Tapi kalau harus mengurus piagam lagi ndak bakalan sempat. Toh menurutku, banyak orang bisa menyanyi, tapi belum tentu bisa nembang🙂

7 thoughts on “Kemut-kemut yang Akhirnya Hilang

  1. Bwahahaha, macapat dan rebana? Padahal macapat dan menyanyi…😆
    Wis, sing penting piagamnya dapet ya, Bun.. Lain kali jangan mau disimpen di sekolah, Bun. Kalo perlu di-copy sik kalo mau disimpen di sekolah.:mrgreen:

  2. bener mbak, pengalaman, besuk kalo anakku dapet piagam mending jauh-jauh hari kuurus dulu, nanti ndak nasibnya sama kayak aku
    *dadi wae durung wes mikir anake entuk piagam :|*

  3. iya… aku juga nyesel pake mengancam. lha tapi aku kan mikir waktu yang udah mepet, dan pihak sekolah yang sepertinya ga mikir sejauh itu. ujung-ujungnya aku juga minta maaf sih karena udah keras begitu, sampai bikin ibu kepala sekolah pucat pasi :doh:

    kok jadi keder omwarm? bukannya dari dulu udah tahu aku ini menyeramkan? :p

  4. eerrr emang dirimu menyeramkan ya mbak *asli aku mendadak keder juga* selama ini malah mikir sampeyan itu orang yang paling simple, ndak suka langsung bilang suka juga langsung komentar …😐 brarti aku salah respon :)))

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s