Glenak Glenik Klenik Pating Clekunik

Langit sore menguning. Sebentar lagi memerah. Lalu ungu. Hijau. Gelap.

Jinem timpuh di lantai teras sambil mengupas kacang tanah. Mbah putrinya sudah tidak bisa lagi menekuk kaki lebih kecil dari sudut siku, dia duduk di dingklik plastik yang bisa dibawanya ke mana saja dia ingin duduk. Berdua mereka mengobrol menunggu maghrib.

Akhir pekan begini adalah salah satu dari sedikit kesempatan Jinem melepaskan diri dari stress pekerjaan di kantor. Salah satu, yang belum tentu bisa terlaksana. Walaupun secara teori kantornya hanya lima hari kerja, buktinya sering saja dia harus tetap masuk di hari Sabtu, bahkan Minggu. Senang rasanya akhirnya bisa menjenguk Simbah, setelah hampir dua bulan hanya bisa telpon-telponan.

“Kasihan Triman,” kata Mbah Putri.

“Kenapa Mbah?”

“Sudah beberapa hari ini muntah darah.”

“Woh, sudah di bawa ke dokter?”

Wis. Halah, dokter bisa apa, wong sakitnya Triman itu dibikin orang…”

“Itu kata dokternya?”

“Ya bukan, kata Kyainya.”

“Lha kata dokternya apa mbah?”

Lha mbuh…”

“Hah, kok lha mbuh to. Kalau memang diperiksakan ke dokter ya tanyakan ke dokternya, dia itu kenapa. Dan harus bagaimana. Minta obat apa…”

“Itu bukan penyakit biasa Nem, wong kalau muntah ember-emberan…”

Jinem tertawa. Memangnya darah manusia itu ada berapa ember? Kalau Kang Triman muntah darah berember-ember pasti keringlah badannya. Dan mati. Tapi dia tidak tega berkata begitu.

“Kamu kok malah ketawa to Ndhuk?”

Nah kan. ‘Harusnya aku diam saja,” pikir Jinem.

“Jadi, Triman itu kan sekarang di bagian keuangan, di kantornya. Nah itu katanya bikin Kirno iri. Lalu Kirno ngirim penyakit itu…”

“Itu juga kata kyainya?”

“Bukan… Itu kata orang-orang. Kyainya ngga nyebut nama…”

Jinem berdiri. Mengempit tompo berisi kacang yang sudah dikupas. Tangan kirinya membawa tas kresek berisi kacang yang belum dikupas, tangan kanannya menjinjing tas kresek berisi kulit kacang.

“Heh, kamu mau ke mana Nem?”

“Mandi, Mbah. Bentar lagi maghrib.”

“Kamu ngga mau tahu keadaan Triman?”

“Mau, tapi bukan dari Simbah. Besok saya tilik ke sana saja. Biar jelas ceritanya. Dan bukan asal tuduh main santet.”

Jinem masuk meninggalkan Mbah Putri.

“Nem… Nem…! NEM….!”

***

Siang panas. Jinem masih jengkel dengan Mbah Kakung yang menebang pohon mangga di barat kamarnya. Hatinya habis ketika pulang mendapati kamarnya padhang njingglang karena kehilangan keteduhan pohon mangga itu. Dia sempat mengomel panjang. Menjelaskan –meskipun tidak yakin Simbah mengerti- soal kemampuan pohon menurunkan suhu udara hingga empat derajat celcius. Membantah argumen Simbah, yang ketakutan pohon itu bakal ambruk menimpa rumah.

Untung pohon mangga di halaman depan belum sempat tercium arit Mbah Kakung. Sebenarnya tanah sedang kering. Dia bisa ndheprok tanpa takut kotor. Tapi tetap saja dia mengalasi pantatnya dengan selembar daun jati kering yang lumayan lebar.

Mbah Putri duduk di atas dingklik merahnya, dekat di sampingnya. Ada Mbah Tum juga, membantu mengupas kacang. Mbah Tum adalah tetangga di barat rumah.

“Di bawah pohon gini lebih adem ketimbang di dalam ya Ndhuk. Jan, panase kaya neraka.”

“Emang simbah pernah ke neraka?”

“Hush…”

Jinem melanjutkan mengupas kacang tanahnya.

“Kasihan Mardi,” kata Mbah Putri.

“Kenapa dengan Lik Mardi?”

“Baru saja selesai operasi, harus operasi yang lain lagi.”

“Operasi apa Mbah?”

“Kakinya patah, ketabrak motor. Baru selesai operasi kaki, gantian perutnya yang harus dioperasi.”

“Perutnya kenapa?”

“Perutnya mengeras seperti batu. Dan katanya nyeri sampai ke ulu hati.”

“Katanya, itu karena Mardi ditabrak dari belakang. Dadanya natap gerobak yang sedang didorongnya…” Mbah Tum yang dari tadi diam, menyahut.

“Yang kena gerobak dadanya atau perutnya?” tanya Jinem.

“Haah… mbuh dadanya apa perutnya,” sahut Simbah, “itu tu sebenarnya si Mardi kena kiriman nyasar…”

“Kiriman apa Mbah?”

Mbah Tum melirik Mbah Putri, lalu melanjutkan mengupas kacang.

“Jadi… Mertuanya Mardi itu kan sukses dagangnya di pasar. Nah saingan bisnisnya mengirim sakit itu ke dia, maksudnya. Tapi mleset, malah kena Mardi…”

“Itu kata siapa Mbah?”

“Kata orang-orang…”

“Dan kata dokter apa?”

“Mbuh. Ya pokoknya penyakit dalam, gitu.”

Jinem menghela napas.

“Orang yang nabrak Mardi itu, mau menanggung biaya operasi kakinya. Tapi kalau harus menanggung operasi lanjutannya, sampai sembuh, dia ndak mau. Katanya mending dipenjara tujuh tahun,” lanjut Simbah.

“Ya iya lah. Dia kan cuma bertanggung jawab atas kaki Lik Mardi yang patah karena ketabrak dia, bukan santet yang mleset!” kata Jinem sambil berdiri. Dia mau wudlu. Sholat. Perkara santet menyantet ini bikin dia pengin pingsan.

Mbah Tum terbelalak. Simbah memandang ke langit, puas sudah menceritakan semua ini..

Advertisements

6 thoughts on “Glenak Glenik Klenik Pating Clekunik

  1. hayah amel bisa aja… ada yang bosen loh gaya ceritaku ini hihihi…

    kalo pengin bisa nulis mengalir begini coba deh ikut kelas aerobic yang reebok. hm… sounds ridiculous ya, tapi sepertinya ada hubungannya kok 😀

    • masih Ka. dan ga tertarik blas diajak ngomong rasional. mungkin buat mereka lebih asik membicarakan yang klenik, ada unsur intriknya juga…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s