UN dan depresi

Sebenarnya sudah males mau ngobrolin masalah ini. Sudah terlalu banyak yang bicara. Bahkan pakar pendidikan, pakar kurikulum dan pakar-pakar lain. Aku ini apa toh?

Aku cuma seseorang yang pernah mengikuti EBTANAS yang kira-kira sama dengan UN sekarang; dan punya anak yang sedang bersiap menghadapi UN bulan depan.

Sudah beberapa tahun ini melihat. Kadang sekilas, kadang lebih dekat. Tentang bagaimana UN sudah menjadi momok bagi murid SD, SMP dan SMA kelas akhir. Betapa stres murid dan guru bersiap menghadapi UN. Sampai ada yang rela curang demi mendapat nilai tinggi. Ironis, sampai yang jujur bahkan menderita dan diusir dari kampung tempat tinggalnya.

Mengikuti tweet pak guru Sawali tempo hari tentang UN ini, aku heran apakah pembuat keputusan tidak mempertimbangkan hal-hal itu?

Nilai minimal 4,0 dianggap mengabaikan potensi siswa. Misal siswa A dpt nilai 9 (BI, Bing, IPA). Mat dapat 3,9. Rerata 7,73. Siswa tdk lulus. KTSP yang akomodatif terhadap kultur lokal, seharusnya tak perlu penyeragaman UN. UN sekadar alat pemetaan mutu.

Ketegangan berlebihan akibat sistem UN yg dicitrakan sbg momok. mau belajar jujur pun mesti dikawal. UN bisa menjadi “character building” jika kejujuran jadi entry point. Keteladanan elite negeri sangat dibutuhkan. UN jadi kompleks karena maraknya gaya hidup instan dan pragmatis. Hasil lebih diutamakan ketimbang proses.

Tahun ini aku menjadi saksi betapa persiapan menghadapi UN telah menjadi beban berlebihan pada Ibit. Setiap hari ada pelajaran tambahan. Pulang masih dibawain PR segunung yang kalau tidak dikerjakan akan menghasilkan hukuman. Aku sampai bilang, kalau capek banget PRnya ndak usah dikerjakan semua, sekuatnya saja. Tapi bukan Mbak Ibit kalau mau menjalankan saran untuk mbeling begitu.

Beberapa hari yang lalu dia sempat nyeletuk, ‘aku muak dengan sekolah.’ Mungkin saat itu dia sedang dalam posisi terendahnya, capek, jenuh dengan segala latihan soal. Berulangkali dia mengeluhkan wali kelasnya yang setiap hari mengajak (kalau tidak boleh dibilang memaksa) siswa untuk berkutat dengan Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Setiap hari disuruh membawa buku pelajaran sesuai jadwal, tapi yang dibahas selalu cuma tiga pelajaran itu. Halooo…. ini gimana???

***

Sejak Senin kemarin Ibit menjalani UKK. Dalam keadaan sakit. Yah.. (mudah-mudahan) cuma batuk pilek biasa. Entah sakitnya karena apa. Kecapekan? Stress? Aku tidak memaksanya belajar terlalu keras. Well, pada dasarnya aku memang tidak pernah memaksa belajar terlalu  keras, mengingat aku sendiri jaman sekolah nyaris tidak pernah belajar… Bahkan untuk tiga pelajaran yang sudah tiap hari diuplek-uplek itu, aku sarankan untuk tidak usah belajar, baca sekilas saja. Istirahat. Sounds wrong? Sounds bad? Biar. Aku tidak mau dia sakit lebih parah. Terlebih kalau sakitnya sampai ke jiwa; obatnya lebih susah.

Serius. Jangan dikira anak SD tidak bisa stress. Pernah dengar kisah, seorang anak kembar yang gantung diri karena prestasi sekolahnya tidak sebagus kembarannya? Atau yang bunuh diri karena tidak ranking satu? Betapa menyedihkan. Seorang teman senamku adalah dokter jiwa. Dia punya pasien murid kelas enam SD, yang depresi karena persiapan UN. Betapa mengerikan.

Entahlah kalau terdengarnya aku tidak mendukung atau menyemangati anak untuk belajar. Mungkin aku yang tidak mengerti beratnya kurikulum pelajaran jaman sekarang. Aku hanya berusaha menjaga hidup anakku tetap seimbang meskipun memang saat ini harus lebih fokus untuk persiapan UN. Menurut Ibit, selama beberapa kali try out dan UTS dan ulangan-ulangan yang lain, teman-temannya tidak boleh main. Diberi les tambahan. Tapi aku tetap membiarkannya nonton tivi sebentar. Boleh tetep ikut main petak umpet sama teman-temannya. Boleh baca novel dan majalah. Aku tanya apakah dia mau les, tapi dia ndak mau. Ya sudah.

Dia takut tidak bisa masuk tiga besar. Aku sudah berkali-kali bilang, bahwa tidak masalah jika sekali-kali dia ranking empat, tujuh, atau dua puluh sekali pun. Tapi ya memang anaknya yang punya target begitu. Bahkan untuk try out pun dia bikin nadzar, mau puasa kalau masuk tiga besar. DOH!
***

Seingatku, jaman sekolah dulu, persiapan EBTANAS hanya dengan tambahan jam pelajaran di jam ke-0. Ada sih tambahan PR. Tapi tidak seberat sekarang. Teman-temanku ikut les. Aku tidak. Selain tidak ada anggaran, aku sendiri setelah mencoba ikut les sebulan, merasa jenuh. Jadi aku memutuskan untuk belajar sendiri, dan yakin selama aku memperhatikan apa yang disampaikan guru, cukuplah.

Kalau sekarang ada berkali-kali try out, dulu cuma ada satu kali Pra EBTANAS. Dulu kelulusan ditentukan dengan nilai ijasah. Yang penting nilai PMP tidak boleh kurang dari enam. Nilai Ebtanas Murni (dari pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PMP dan Bahasa Inggris) dipakai untuk mendaftar sekolah tingkat selanjutnya.

Dua – tiga tahun lalu, kelulusan ditentukan dari nilai UN. Nilai lain selama bertahun-tahun sekolah, diabaikan. Lha ngapain harus sekolah? Tahun ini katanya, 40% nilai ijasah masih diperhitungkan, 60% sahamnya masih dipegang nilai UN.

Mungkin aku yang terlalu bodoh dan tidak bisa memahami dasar pemikiran para penentu kebijakan. Karena kalau mereka yang bodoh, masa iya bisa jadi penentu kebijakan. Betul?

Advertisements

5 thoughts on “UN dan depresi

  1. penentu kebijakan, pembuat kebijakan, pemroses kebijakan
    semuanya ajaib, bikin soal, bikin program semau2nya
    saya nggak yakin itu dibikin setelah melalui survei, riset dan proses yg komprehensif,

    satu standar nilai untuk semua kondisi siswa dan sekolah di seluruh penjuru negeri yg beragam ini ?

    tapi mbuh lah, mereka2 lebih pinter, atau sok pinter wes, smoga saja keadaan ini tak abadi 😀

  2. lha iya. mosok yang berangkat sekolah dianter pakai mobil, ruang kelas ber-AC, fasilitas lengkap plus internet, standarnya sama dengan yang berangkat sekolah nyebrang kali, kelasnya bocor dan hampir rubuh, dan listrik pun belum ada?

    semoga anak-anak kita selamat dari bahaya kebijakan ajaib ini.

  3. Ibit keren targetnya!
    Btw, aku kemarin liat di TV katanya standar minimal kelulusan udah bisa 4 ya?
    *agak bingung mesti seneng apa sedih* tapi setidaknya UN gak jadi patokan 100% buat kelulusan ya.. coba jaman aku dulu, anak pinterpun bisa aja dinyatakan tidak lulus karena “kebentur sial” sama nilai tertentu x(

  4. sungguh, biarpun aku blm punya anak, tapi merasa cukup seram dengan kondisi anak-emak yang dialami kakak-kakakku, seperti bukan UN tapi seperti perang melawan apa entah ga jelas musuhnya,

    aku dulu juga termasuk yang belajarnya ga konsisten, belajar kalau mau, bermain tiap hari, baca komik wajib dibanding baca buku pelajaran.

    ah embuhlah mbak, semoga ada solusi dari semua ini

  5. @Nieke: iya. entah standar itu berdasarkan apa. buat sebagian orang angka itu mungkin rendah. tapi bagi banyak siswa, itu target yang tinggi untuk mata pelajaran tertentu. makanya jadi terasa tidak adil, seperti kata pak sawali itu…
    @yuyuk: mudah2an pas anakmu sudah santai lagi kaya jaman kita 😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s