Dudi sang Pahlawan

Hari pertama mengikuti #7HariMendingeng bersama @teguhpuja dan @alizarinnn

=================================================

Tangan kiri Dudi memegang erat tali kekang kudanya yang berlari kencang. Tangan kanannya menghunus pedang. Dia harus cepat-cepat sampai di menara tinggi dan menyelamatkan Sang Putri. Iya, sudah hampir dua minggu Sang Putri ditawan oleh penyihir jahat. Penyihir itu mengajukan permintaan yang aneh sebagai tebusan, jika ingin Sang Putri dibebaskan, yaitu telur ayam emas. Jika sampai sampai besok keinginannya tidak dipenuhi, Sang Putri akan dia kutuk menjadi ayam.

Tentu saja hal ini membuat Raja dan Permaisuri bingung. Para penasehat juga bingung. Di mana bisa mendapatkan telur ayam emas? Karena itu Raja membuat sayembara. Barang siapa bisa membawakan telur emas, dia akan mendapat hadiah yang sangat banyak.

Rakyat sama bingungnya. Tidak ada yang punya, atau tahu di mana mendapatkan telur emas. Karena itu Dudi nekat berangkat menuju menara tinggi tempat Sang Putri ditawan. Dia harus menyelamatkan Sang Putri dengan cara apa pun.

Menara itu sudah nampak di kejauhan. Tinggi dan dikelilingi pagar pohon berduri. Dudi memacu kudanya semakin kencang. Tanpa sadar ternyata di depan mata ada parit yang sangat lebar. Kuda yang dinaiki Dudi berhenti mendadak. Dudi terlontar ke depan dan…

…terbangun. Ternyata semua itu hanya mimpi. Dudi duduk dan mengedarkan pandangan ke padang rumput dan mulai mengawasi lagi domba-dombanya. Sebentar lagi senja, dia harus menggiring domba-domba itu pulang.

***

Begitulah keesokan harinya berulang lagi. Dudi memulai tugasnya lagi menggembala domba. Sang Putri aman berada di istana. Tidak ada penyihir jahat yaang menculiknya. Kerajaan tenang dan damai.

Dudi bosan dengan semua ini. Domba dan padang rumput yang tenang. Dia ingin sesuatu yang heboh. Dia ingin melakukan sesuatu yang membanggakan. Dia ingin menjadi prajurit, tapi tidak bisa karena umurnya baru sepuluh tahun. Atau menjadi pemusik istana. Tapi juga tidak bisa karena dia sama sekali tidak mengerti tentang musik. Yang dia tahu hanya tentang bagaimana menggembala domba. Menjaga mereka, dan mencarikan padang yang baik dan banyak rumputnya.

Menjelang siang, Dudi sedang duduk berteduh di bawah pohon. Pak Maman datang berjalan kaki seorang diri. Pak Maman adalah pemilik domba-domba yang digembalakan Dudi.

“Selamat siang, Pak…”
“Selamat siang. Bagaimana keadaanmu hari ini? Kulihat beberapa hari ini kamu murung.”
“Saya baik-baik saja Pak. Hanya saja, saya merasa bosan menjadi penggembala. Saya ingin melakukan hal yang lebih besar. Saya ingin menjadi prajurit, berperang, dan menjadi pahlawan…”

Pak Maman tertawa terbahak-bahak. Dudi merasa malu, dan menyesal sudah mengutarakan keinginannya. Pasti Pak Maman telah menganggap keinginannya itu berlebihan. Pasti di benaknya, Dudi tidak lebih hanyalah anak desa yang tidak bisa apa-apa.

“Dudi.. kenapa kamu merasa, menggembalakan domba itu membosankan dan tidak berguna? Tahukah kamu bahwa selama ini kamu sudah menjadi pahlawanku?”
“Saya? Pahlawan? Maksud Pak Maman bagaimana?”
“Dudi… Lihatlah domba-dombaku yang selama ini kamu gembalakan. Mereka gemuk dan sehat. Semua itu karena kamu. Kamu menggembalakan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Aku belum pernah menemukan penggembala sebaik kamu. Bahkan aku sendiri tidak bisa menggembala sebaik kamu. Dan aku juga tidak punya cukup waktu karena harus mengurus ladang pula. Itulah sebabnya kamu sudah menjadi pahlawanku, yang merawat dan menjaga domba-dombaku…”
“Jadi, maksud Pak Maman?”
“Ya… Kamu bisa menjadi berguna dengan banyak hal. Tidak harus menjadi prajurit yang berperang untuk bisa menjadi pahlawan. Asal kamu melakukan pekerjaanmu dengan bersungguh-sungguh, itu adalah hal besar, dan kamu bisa menjadi pahlawan…”

Dudi tersenyum gembira. Ternyata apa yang dilakukannya selama ini sudah membuat Pak Maman senang. Dia telah melakukan tugasnya sebagai gembala dengan sebaik-baiknya. Dan itu lebih berarti daripada menjadi pahlawan di dalam mimpi. Dudi berjanji, mulai hari ini dia akan menggembala lebih baik lagi.

15 thoughts on “Dudi sang Pahlawan

  1. Asalkan kita bersungguh-sungguh dan juga punya komitmen besar dalam pekerjaan yang kita lakukan, tanpa sadar kita sudah menjadi seorang Pahlawan.๐Ÿ˜‰

    Keren Mbak El.๐Ÿ˜€

  2. kadang melihat langit terus menerus membuat leher jadi pegal, nice story mba.. inspiratif๐Ÿ™‚

  3. hehe iya mi. kepala harus tengok kanan kiri dan nunduk juga biar ga pegel…
    makasih ya, sudah oret-oret… hihihi…

  4. mbak … ibit kok ndak ikut, aku penasaran pengen baca versi Ibit ;))

    errr … agak aneh juga baca cerita ini yang ditulis mbak La … biasane berdarah-darah :))) *ditendang*
    aku skip hari pertama mungkin hari kedua ikutan bhihihi

  5. makasih alizarin. sulit menulis yang begini. yah, seperti kata putrimeneng itu, terbiasa nulis yang berdarah-darah =))

    hayoh yuk, yang udah ikut workshop menulis dongenge, mana hasilnya? :p

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s