HARTA KARUN RAMLI

hari kedua mengikuti proyek #7HariMendongeng bersama @Teguhpuja dan @alizarinnn

=============================================================

Busan membuka lembaran peta di tangannya. Kertas itu adalah peta yang menunjukkan letak harta karun yang disimpan oleh Ramli, ayah Busan dan Rojak. Ibu mereka telah meninggal ketika melahirkan Rojak. Ramli membesarkan keduanya sendiri hingga mereka dewasa.

Sebelum meninggal, Ramli telah memanggil kedua anaknya dan bercerita, bahwa sesungguhnya dia telah menyimpan harta di suatu tempat rahasia untuk diwariskan kepada Busan dan Rojak. Dan telah menjadi keputusan Ramli untuk memberitahukan keberadaan harta itu kepada anak-anaknya pada waktunya. Peta itu telah dititipkan kepada Dadung, paman Busan, agar diberikan kepadanya jika Ramli meninggal.

Busan percaya penuh apa yang dikatakan ayahnya. Hari-harinya setelah pemakaman Ramli dipenuhi keinginan untuk segera menggali harta itu. Rojak sebenarnya tidak percaya cerita itu. Tapi dia tetap menghormati ayahnya, dan mengikuti keinginan Busan untuk mencari harta itu.

Menurut peta itu, harta karun Ramli terletak di tengah lahan yang sangat luas di kaki gunung di sisi selatan. Berdiri di satu sisinya, kamu tidak akan bisa melihat sisi yang lainnya. Lahan itu selama ini hanya dibiarkan begitu saja. Dipenuhi semak dan tanaman liar dan menjadi sarang ular dan binatang lainnya.

Rojak duduk di hadapan Busan yang mulai mencoba menerjemahkan tanda-tanda dan petunjuk yang tertera.

“Kurasa kita harus mulai dari titik ini, sebuah pohon beringin tua yang di bawahnya ada sumber airnya. Lalu berjalan ke utara sebanyak seratus langkah. Kita harus menggali di situ, untuk menemukan petunjuk selanjutnya,” Busan terus menggumamkan bacaannya. Rojak hanya mendengarkan.

Keesokan harinya mereka berangkat ke tanah lapang itu berbekal sabit dan cangkul. Pohon beringin itu terletak agak di tengah. Ternyata perlu waktu dua hari untuk membabat semak agar bisa mencapai pohon beringin itu. Belum lagi membersihkan bagian yang harus dilalui seratus langkah ke utara. Setelah hampir setengah hari menggali, cangkul Busan terantuk sesuatu yang keras. Ternyata benar, ada sebuah peti di dalamnya. Gemetaran Busan dan Rojak membuka peti itu. Di dalamnya ada peta lagi. Gambarnya mirip dengan peta pertama yang diberikan olah Dadung. Perbedaannya adalah letak titik yang harus digali selanjutnya.

Hey, tapi ada selembar kertas. Ternyata itu selembar surat.

“Selamat, kalian telah menemukan petunjuk berikutnya. Sebelum melanjutkan mencari petunjuk selanjutnya, tanamlah pohon durian di lubang bekas menggali peti pertama ini. Pohon itu harus kalian jaga dan rawat, dan tidak boleh mati sampai kalian selesai mencari petunjuk.”

Busan dan Rojak berpandangan. Sepertinya tidak akan mudah pekerjaan mereka mencari harta peninggalan ayah mereka ini. Tapi mereka tidak patah semangat. Sampai dua bulan berikutnya, mereka telah menemukan sepuluh petunjuk. Itu berarti mereka telah menggali sepuluh kali. Dan setiap kali selesai menggali, selalu ada surat yang isinya sama, yaitu untuk menanam dan merawat pohon.  Selain terus  mencari dan menggali, tidak lupa mereka terus merawat pohon-pohon yang mereka tanam. Mereka menyiram tanaman mereka dengan air sumber di bawah pohon beringin.

Setelah lima tahun berlalu, Busan dan Rojak telah menggali lebih dari seratus kali. Mereka berdua mulai lelah dan bosan, karena peti yang mereka temukan selalu berisi hal yang sama. Busan mulai putus asa.

“Kita menggali satu kali lagi, Kak. Jika tidak ada hasil yang berbeda kita berhenti saja,” kata Rojak.

“Baiklah.”

Di galian terakhir, ternyata tidak ada lagi peta. Masih ada surat, tapi berbeda isinya.

“Aku senang kalian masih bertahan sampai di titik ini. Aku bangga pada kalian yang tidak patah semangat. Lihatlah kembali semua pohon yang telah kalian tanam dan rawat selama ini. Semoga kalian mengerti maksud harta karun yang kutinggalkan kepada kalian berdua.

Ayah”

Busan dan Rojak berdiri, mengedarkan pandangan ke tanah lapang yang telah mereka jelajahi selama lima tahun ini. Semak dan tanaman liar telah bersih. Berganti pohon aneka buah yang terawat. Telah banyak yang dihasilkan. Pisang, pepaya, rambutan, kelengkeng, kelapa. Semua hasil kebun itu telah diurus oleh Dadung sementara mereka menggali petunjuk dan merawat tanamannya.

Busan dan Rojak mendatangi Dadung dan menunjukkan hasil galian terakhir mereka. Dadung tersenyum dan bertanya, “Apakah sekarang kalian sudah mengerti maksud ayah kalian?”

“Kami mengerti, Paman. Kami harus bekerja keras kalau ingin mendapatkan hasil. Kerja keras yang nyata,” jawab Busan.

Dadung masuk ke dalam kamar, dan keluar membawa sebuah peti kecil, persis seperti yang mereka temukan di ladang. Peti itu dibuka di hadapan Busan dan Rojak. Kedua kakak beradik itu terbelalak melihat isinya. Peti itu penuh dengan uang.

“Ini hasil penjualan buah-buahan yang sudah dipanen dari kebun kalian,” kata Dadung, “aku menyimpannya sampai kalian selesai mengikuti petunjuk ayah kalian. Sekarang ini milik kalian. Mulai hari ini, kalian harus hidup mandiri dan tidak tergantung padaku lagi. Dan terserah kalian, apa yang akan kalian lakukan dengan uang dan segala pohon buah yang sudah kalian tanam…”

Busan dan Rojak berterima kasih kepada Dadung. Mereka menggunakan uang itu untuk membeli ternak. Ladang mereka tetap dirawat dan dipelihara, dan menghasilkan lebih banyak lagi buah-buahan. Hasil penjualannya, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga ditabung. Keduanya menjadi petani buah yang kaya raya.

Busan dan Rojak bersyukur memiliki ayah yang bijaksana. Harta karun yang ditinggalkan sungguh sangat berharga, lebih dari semua kekayaan yang mereka peroleh dari hasil ladang, yaitu pelajaran untuk bekerja keras dan pantang menyerah.

3 thoughts on “HARTA KARUN RAMLI

  1. Sebuah pesan yang sangat arif. Selain mengingatkan kita akan pentingnya memelihara bumi, tersirat makna bahwa harta karun itu sebenarnya tergantung dari keinginan dan usaha kita masing2 untuk mendapatkannya

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s