Kancil Kehabisan Akal

Hari ke-4 mengikuti #7HariMendongeng bersama @teguhpuja dan @alizarinnn

====================================================

Seisi hutan sudah tahu, Kancil adalah binatang yang cerdik. Dengan kecerdikannya dia berhasil menyelamatkan diri dari berbagai mara bahaya. Juga menyelamatkan binatang lain dari ancaman binatang lainnya.

Binatang hutan sering meminta nasehat Kancil. Harimau si Raja Hutan bahkan meminta Kancil untuk menjadi penasehatnya. Sebagai imbalannya, Kancil mendapat hadiah persediaan makanan yang melimpah. Dia tidak perlu lagi repot mencari makan. Setiap hari pekerjaannya hanya diam di rumah bermalas-malasan. Hanya sesekali dia berjalan keluar ketika dia merasa bosan di rumah, atau ketika dipanggil sang raja karena ada masalah.

Karena banyak makan dan jarang bergerak, Kancil menjadi gemuk. Makin lama makin gemuk, dan dia semakin malas melakukan apa pun. Dia benar-benar hanya makan dan tidur sepanjang waktu.

Hari ini Kancil harus menghadap Raja Hutan. Raja butuh bantuannya untuk menyelesaikan pertikaian Monyet dan Kalong yang berebut pepaya di pinggir hutan. Dengan malas Kancil bangun dan berjalan keluar dari rumah. Dulu ketika masih berbadan kecil dan lincah, perjalanan ke istana ditempuhnya hanya dalam waktu setengah hari. Sekarang dia tidak bisa berjalan cepat. Badannya terasa berat. Sudah setengah hari berjalan, Kancil baru dapat separuh jalan.

Kancil terengah-engah. Ditambah matahari yang semakin tinggi, membuat Kancil semakin kegerahan.

“Aku harus beristirahat dulu. Kalau tidak aku bisa pingsan…” pikir Kancil dalam hati.

Dia lalu berhenti di bawah sebuah pohon randu tua yang teduh. Angin sepoi-sepoi meniup mata Kancil, membuatnya menjadi mengantuk. Dalam kedaan setengah tertidur, Kancil mendengar suara menggeram. Dengan berat Kancil membuka matanya setengah, betapa terkejut dia melihat apa yang ada di depannya. Kantuknya mendadak hilang, dia langsung berdiri tegak. Itu Buaya si Raja sungai.

“Selamat siang, Kancil,” kata Buaya sambil menyeringai.

“Oh, hai, Buaya. Apa kabar?”

“Baik… baik sekali, Kancil. Hanya saja, aku sangat lapar…”

“Oh ya? Hm… tapi… tapi aku harus menghadap Raja sekarang. Kau tidak bisa memakanku, nanti Raja bisa murka…”

“Benarkah? Jadi aku harus menunggu kamu kembali dari istana?” tanya buaya.

“Ya, begitulah. Mungkin nanti aku bisa meminta kepada Raja untuk memberikan makanan kepada kalian.”

“Wow, kedengarannya menarik. Apa kamu juga akan menghitung jumlah kami lagi?”

Jantung Kancil berdebar semakin kencang. Dari semak semak di sekitarnya munlai bermunculan buaya-buaya lainnya.

“Uuh… Eh… Tidak… Tidak perlu. Aku masih ingat jumlah kalian. Empat puluh tujuh kan? Eh bukan… Eh… Berapa ya? Tujuhpuluh empat?” Kancil mulai gemetaran…

“Tidak… Kami tidak sebanyak itu… Saat ini kami cuma bertujuh. Dan kami sangat lapar…” kata Buaya.

Kancil menelan ludah, berusaha berpikir keras mencari akal untuk melarikan diri. Sementara itu buaya-buaya lain semakin mendekat. Geraman mereka semakin keras.

“Sepertinya teman-temanku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kamu terlihat jauh lebih gemuk sekarang. Kurasa cukup untuk sekedar mengganjal perut kami. Kamu tahu, aku punya sakit maag… Aku tidak mau maagku kambuh… Sakit sekali, kau tahu…”

Kancil benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Saat ini yang melintas di kepalanya hanya satu: lari. Maka lari lah dia, meninggalkan para buaya. Kancil sungguh heran. Para buaya itu tidak langsung mengejarnya. Mereka hanya tertawa keras terbahak-bahak.

Kancil sempat mendengar buaya itu berbicara sambil tertawa, mereka tertawa karena melihat Kancil berlari terseok-seok membawa badannya yang kegemukan. Dia tidak peduli. Hanya terus berlari dan berlari. Walaupun dadanya serasa mau pecah, tetap dipaksanya berlari ke istana.

Para buaya tertawa berguling-guling sampai sakit perutnya. Ketika mereka sadar, Kancil sudah tidak terlihat lagi…

***

Kancil tiba di istana sudah agak sore. Keringatnya bercucuran. Napasnya tinggal satu-satu.

“Kenapa kamu Kancil? Kamu seperti habis dikejar buaya?” tanya Raja Hutan.

Kancil duduk di hadapan Raja.

“Ah, tidak Paduka. Hamba hanya merasa sangat gemuk akhir-akhir ini. Itu tidak baik untuk kesehatan. Jadi saya datang ke sini sambil berlari, itung-itung sekalian berolah raga…”

“Oh, begitu. Baiklah… istirahat lah sebentar. Baru nanti kau bantu aku melerai monyet dan kalong..”

“Baik, paduka…”

Kancil beristirahat dan minum air yang disediakan. Dia harus menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Dalam istirahatnya, Kancil berjanji dalam hati untuk tidak bermalas-malasan lagi. Dia tidak mau badannya semakin gemuk dan susah bergerak. Badan yang terlalu gemuk itu tidak baik untuk kesehatan. Dan kebiasaannya bermalas-malasan juga bisa membuat otaknya malas berpikir…

Advertisements

3 thoughts on “Kancil Kehabisan Akal

  1. Ini temanya kenapa lemak? … *lirik bodi sendiri* :)))

    Mbak tapi tetep endingnya menyisakan pertanyaan y bikin penasaran khas dirimu wekekeke jadi nanti berhasilkan kancil melerai kalong dan monyet berebut pepaya? Kita nantikan di seri kedua

  2. wahahaha… iya… tiba-tiba aku sadar, dongeng ini bisa jadi sangat sensitif buat sebagian orang.
    hihihi… tapi mau bagaimana lagi… memang begitu lah kenyataannya *dilempar lemak oleh para pembaca*

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s