Timun Emas dan Raksasa (Remake)

Tema hari ke-6 di #7HariMendongeng adalah remake. Menceritakan kembali dan memodifikasi dongeng yang sudah ada. Aku memilih remake dongeng ini. Bagi yang belum pernah mendengarnya bisa di baca di sini.

==============================================================

Pada jaman dahulu kala (yak akhirnya aku pakai kata-kata ini) hiduplah seorang perempuan pencari kayu bernama Ni Titi. Dia tinggal sendirian di pinggir hutan. Hanya sesekali dia pergi ke desa untuk menjual kayu, dan uangnya dipakai untuk berbelanja kebutuhan yang tidak tersedia di hutan.

Suatu hari dalam perjalanan pulang dari menjual kayu, dia dihadang oleh seorang rasaksa. Dia takut bukan kepalang.

“Hai, perempuan tua. Beri aku makan!”

“Wahai Raksasa yang baik. Aku hanya punya beberapa ekor ikan asin yang barusan kubeli di desa. Apakah ini akan membuatmu kenyang?”

“Haaaah… tentu saja tidak! Aku tidak makan ikan asin. Aku makan manusia!”

Ni Titi semakin gemetaran. Sepertinya dia akan menjadi santap siang rasaksa ini.

“Hua hahahahahaha…!” Raksasa tertawa mengguncang tanah tempat Ni Titi berpijak, “jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Kamu kurus dan sudah tua, tidak enak! Beri aku anakmu. Pasti dagingnya lebih empuk…”

“Tapi Rak, aku tidak punya anak. Aku hidup sendirian…”

“Oh benarkah?”

Raksasa lalu memberikan sebutir biji mentimun.

“Kamu tanamlah biji mentimun ini. Rawatlah dengan baik. Nanti kamu akan mendapatkan bayi. Enam tahun lagi aku akan kembali mengambil bayi itu.”

Raksasa itu kemudian pergi meninggalkan Ni Titi.

***

Enam bulan sudah sejak hari itu. Biji mentimun yang ditanam Ni Titi sudah tumbuh dan berbuat lebat. Ada satu buah mentimun yang ukurannya lebih besar dari mentimun yang lain. Warnanya keemasan. Ni Titi memetiknya, lalu membawanya pulang. Dengan hati-hati dibelahnya mentimun itu. Ternyata di dalamnya ada bayi perempuan yang cantik. Betapa senangnya Ni Titi. Dengan penuh kasih sayang dirawatnya bayi itu, dan diberi nama: Timun Emas.

Tak terasa enam tahun berlalu. Sang Raksasa datang untuk meminta bayi itu.

“Rak, lihatlah bocah mungil ini. Dia begitu kecil, apakah akan bisa mengenyangkan perutmu? Kenapa tidak kau tunggu berang lima tahun lagi? Saat itu dia akan cukup besar untuk kau santap…”

“Baiklah. Tapi kau jangan cari alasan lagi jika aku datang lima tahun lagi nanti…”

Raksasa itu pun pergi. Ni Titi memeluk Timun Emas dengan penuh  kasih sayang. Dia tidak ingin kehilangan bayi yang telah dianggap anaknya sendiri itu.

Timun Emas yang sempat mendengar pembicaraan Ni Titi dengan Raksasa menjadi sedih. Dia terus mencari akal bagaimana caranya agar dia tidak dipisahkan dari Ni Titi dan menjadi santapan Raksasa. Timun Emas menemui seorang pertapa di hutan. Setelah menceritakan kisahnya, Timun Emas meminta tolong kepada Pertapa untuk menyelamatkan diri dari Raksasa.

Pertapa memberikan tiga buah kantong kecil kepada Timun Emas. Dia harus melempar kantong itu kepada Raksasa, jika nanti Raksasa itu mengejarnya. Timun Emas harus melempar sesuai urutan yang tertulis di kantong itu.

***

Akhirnya hari itu pun tiba. Raksasa datang menagih janji Ni Titi. Akhirnya Ni Titi berkata jujur saja kepada Raksasa.

“Rak… maafkan aku. Aku tidak tega memberikan Timun Emas sebagai santapanmu. Dia anak yang baik dan penurut. Dia rajin membantuku. Apakah kau tega memakannya? Makanlah aku saja…”

Raksasa menghentakkan kakinya dengan keras. Dia sangat marah karena Ni Titi mengingkari janjinya.  Ni Titi dan rumahnya sampai terlempar ke udara.

“Kamu mau mengingkari janji? Kalau memang aku ingin memakanmu, pasti sudah kulakukan sejak dulu. Bukankah sudah kubilang, dagingmu tidak enak? Jadi mana Timun Emas? Suruh dia keluaaaar….!”

Ni Titi tidak sanggup memanggil Timun Emas.  Tapi Timun Emas mendengar semua percakapan itu. Dia keluar sambil membawa tiga kantung pemberian pertapa.

“Wahai Raksasa. Maafkanlah ibuku. Aku tahu bahwa aku terjadi dari biji mentimun pemberianmu. Tapi Ni Titi yang telah menanam dan merawat tanaman itu, juga merawat aku. Aku tidak keberatan menjadi santapanmu. Tapi aku tidak ingin membuat Ni Titi bersedih jika harus berpisah denganku…”

Kata-kata Timun Emas begitu lembut dan menyentuh hati. Raksasa berlutut dan meraih Timun Emas dengan tangannya. Ni Titi menutup mata, tidak sanggup jika harus melihat Raksasa memasukkan Timun Emas ke mulutnya.

“Hm… Apa yang kamu bawa itu, gadis kecil?” tanya Raksasa.

“Ini adalah kantong pemberian pertapa. Aku tidak diberi tahu isinya. Aku hanya disuruh untuk melemparnya sesuai urutan angka yang tertulis, jika ingin melarikan diri darimu. Isi kantong itu akan menghalangimu mengejarku”

“Lalu kenapa tidak kau lempar kepadaku?”

“Karena aku juga tidak mau mencelakaimu, Raksasa…”

(terdengar suara pembaca: “Oooooo………”)

Hati Raksasa meleleh mendengarnya. Dia tidak tega memakan Timun Emas. Diletakkannya kembali Timun Emas di samping Ni Titi.

“Baiklah Ni Titi. Aku tidak akan memakan Timun Emas. Dia anak yang baik. Tapi aku ingin meminta ganti atas biji mentimun yang pernah kuberikan padamu,” kata Raksasa.

“Apa itu, wahai Raksasa?” tanya Ni Titi.

“Jagalah Timun Emas dengan baik. Itu saja.”

Ni Titi dan Timun Emas memeluk kaki Raksasa dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya.

“Terima kasih, Raksasa,” kata Timun Emas,”datanglah kemari kapan saja kamu suka. Aku akan memasak makanan yang enak dan banyak untukmu, supaya kau tidak perlu lagi makan manusia…”

Raksasa senang sekali mendengar tawaran Timun Emas. Sejak itu mereka bersahabat dan hidup bahagia…

Advertisements

10 thoughts on “Timun Emas dan Raksasa (Remake)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s