Perempuan dan Kemudi

Ketika di parkiran, terlihat seseorang sedang ungkag-ungkeg maju mundur untuk memarkirkan kendaraan, apa yang kamu pikirkan? Jika lantas yang keluar dari pintu pengemudi adalah perempuan, sering komentar yang muncul adalah: oh lah pantes, supirnya perempuan.

Di jalan kamu lihat mobil yang posisinya nanggung banget. Roda kirinya di lajur kiri, roda kanannya di lajur kanan. Yang di belakangnya dibikin repot mau nyalip dari sisi mana. Sembilan puluh persen kemungkinan pengemudinya adalah perempuan.

Beberapa waktu lalu di sebuah SPBU, ketika hendak keluar aku terhalang sebuah mobil sedan. Aku masih mencoba menunggu dan tidak membunyikan klakson, karena siapa tahu dia cuma sedang memasang sabuk pengaman, atau membetulkan letak duduk, atau apa. Tapi tunggu punya tunggu kok ndak bergerak. Mobil yang di belakangku mulai ndak sabar dan membunyikan klakson. Si sedan maju dan geser ke kiri sedikit. Trus berhenti lagi. Ealah, maksud gerakannya ini apa? Aku tetep ndak bisa keluar mlipir di samping kanannya, kecuali mobilku bisa miring 90 derajat. Akhirnya kuklakson juga. “Ini pasti supirnya perempuan,” kataku.

Seorang petugas pom mendekati sedan itu. Jendela terbuka. Dan, tadaaa… memang perempuan. Entah apa yang dia katakan. Tapi petugas pom memintanya pindah ke tempat yang tidak menghalangi mobil lain.

Ibit sempat bertanya, dari mana aku tahu supir mobil sedan itu perempuan. Kujawab, karena aku perempuan, dan aku tahu kebiasaan buruk supir perempuan.

***

Sampai saat ini aku belum berani naik motor matic. Padahal banyak yang bilang enak. Enteng. Kalo macet ndak capek nekem kopling (iya, aku pakai motor kopling). Aku pernah mencoba naik motor  matic, keliling blok aja. Tapi rasanya ngeri. Tangan kiriku terus-terusan menekam rem, karena terbawa kebiasaan nekem kopling. Kaki kiriku mencari-cari yang harus diinjak untuk pindah gigi. Padahal yang harus dilakukan cuma nge-gas dan ngerem aja. Remnya di tangan kanan kiri, entah kapan harus menggunakan yang mana. Kata si empunya motor, itu karena belum terbiasa saja.

Tapi entahlah, aku selalu merasa motor matic itu mengerikan. Bayangkan, sekali kamu ngegas kecepatannya akan terus bertambah,  makin lama makin besar angka percepatannya. Sulit mengurangi kecepatan dengan mendadak hanya bergantung kepada rem, kecuali sudah nemu slahnya. Sudah banyak teman yang nyungsep atau nabrak kendaraan di depannya karena gagal mengerem mendadak. Herannya mereka ndak kapok pakai matic.

Semakin ngeri, di mataku, ketika motor matic dikendarai perempuan. Aku perhatikan kebanyakan pengendara motor perempuan itu ngawurnya keterlaluan. Seperti abai dengan keberadaan kaca spion dan lampu sein. Nggendring aja dengan kecepatan tinggi. Nyelip sana nyelip sini, pindah pindah lajur semaunya, seolah di belakangnya tidak ada kendaraan yang sangat mungkin bisa menghantamnya. Nyalip dari kiri, langsung motong belok kanan. Di atas motor matic, kelakuan itu semakin menjadi-jadi. Kemarin lihat yang lebih ekstrim lagi. Naik tanjakan gombel, boncengan bertiga, dan ngebut. *merem*

Beda loh, dengan mereka yang pakai motor kopling. Aku perhatikan, perempuan yang pakai motor kopling lebih aware dengan sekitarnya. Dengan harus berkonsentrasi tambahan pada kopling dan pijakan persneling, bukan membuat mereka jadi tidak konsentrasi pada jalanan. Justru mereka lebih berhati-hati ketika hendak menyalip, membelok dan pindah lajur. Tingkat kengawurannya bisa berkurang hingga 90%. Oke, angka itu aku ngawur. Tapi benar-benar berkurang banyak pokoknya.

***

Sebagai perempuan aku menyadari sekali kekurangan ini: kengawuran perempuan di atas kendaraan bermotor. Karenanya dengan sadar pula aku selalu berusaha untuk tidak begitu, baik ketika mengemudikan mobil atau motor. Aku  juga belum tahu persis apa penyebab kelakuan pengemudi perempuan seperti ini. Mungkin ada hubungannya dengan kepekaan dan ketrampilan. Tapi entah berapa perempuan yang menyadari hal ini dan berusaha mengendalikan diri. Karena bagaimana pun ngawur di jalanan itu bahaya sekali, buat si pengemudi sendiri dan orang lain. Sungguh ngeri, karena seorang teman perempuan yang kutegur karena mengemudi dengan ngawur malah menjawab, “Tenang aja mbak, mereka tahu yang nyopir perempuan, jadi mereka pasti maklum.”

Gubrak. Dia menyadarinya dan hanya berharap orang lain maklum! Kamu berharap semua pengguna jalan akan maklum? Bagaimana kalau mereka juga berpikir sama denganmu, dan hasilnya seisi jalanan adalah pengemudi-pengemudi ngawur yang mengharapkan maklum dari orang lain?

***

Sungguh, mengemudi bukan sekedar tentang mengolah gas, rem dan kopling. Kamu butuh disiplin, kesabaran, toleransi kepada sesama pengguna jalan. Dan tentu saja, SIM. SIM beneran yang menjadi jaminan bahwa kamu berhak dan bertanggung jawab selama mengemudikan kendaraan bermotor di jalanan.

*)Gambar dipinjam dari sini http://spongebob.wikia.com/wiki/Patrick_Star

Advertisements

25 thoughts on “Perempuan dan Kemudi

  1. jujur saja aku juga ngeri melihat kombinasi matic – perempuan atau matic – remaja labil, kadang sering aku bengok sendiri di dalem mobil gegara melihat motor matic yang nyelipnya kebangetan, kayak mereka bisa menipis saja diantara dua mobil yang berjarak cukup dekat.
    dari kuliah aku naik motor kopling, baik mobil atau motor aku lebih suka manual / pake kopling, matic itu dalam mind set ku “controless” jadi sampai sekarang aku juga jarang sekali menggunakan motor matic yang ngedon di garasi rumah, paling banter ke tukang sayur depan kompleks, yess bojo saya memang suka banget serba matic 😐

  2. haha… bikin tulisan sekalian aja yuk 😛
    asri jangan ninggal jejak aja, direnungkan ini, kengawuran perempuan di atas kendaraan :p

  3. Hahaha mari mari sini para perempuan boleh les nyetir sama aku.
    kalo kata suamiku dalam hal nyetir aku gak ada perempuan2nya sama sekali :))

    • bagus lah Ka. aku juga berusaha meminimalkan gaya nyetir perempuan, tapi kadang tanpa sadar masih muncul juga =))

  4. eh, hmm, i drive safely sih kaya’nya, atret aku bisa, parkir pararel bisa, berhenti di tanjakan juga bisa, dan aku masih nggak ngerti apa beda perempuan dan laki dalam menyetir :p

  5. atret, parkir parallel, berhenti di tanjakan, itu akan dikuasai seiring bertambahnya jam terbang. tapi bahkan yang jam terbangnya sudah tinggi pun kadang tidak bisa meninggalkan gaya nyetir perempuan.

    kecuali yang sudah penuh kesadaran, gaya menyetir alami perempuan itu, kalau ndak ragu-ragu ya ngawur 😀

  6. kalo saya kok malah kebalikannya ya, mbak…lbh suka motor matic drpd motor manual yg pake kopling. mskipun matic pake gas, tp lbh cpt motor manual. kl dipake ngebut, motor manual juara deh. yah, mskipun ngebutnya kdg2 gak disengaja. pglmn saya naik motor manual slma > 7 tahun (dr prtama kali naik motor). mulai dr motornya yg lecet dimana2, saya jg sering lecet (meskipun gak parah2 amat, smpe yg terakhir diserempet truk dr belakang wkt d perempatan lampu merah. thanks god, untungnya saya cuma luka ringan, tp akhirnya motor manual itu dijual.
    akhirnya slma 2 th terakhir saya beralih ke motor matic bekas pny adek saya dan rasanya kcptn lbh terkontrol. alhamdulillah, gak prnh kena kecelakaan gede gt. prnh sih jatuh 2x, tp jatuh gara2 slh sndiri..hihihi. bkn yg nabrak atau nyungsep gt. enak, motor matic lbh seimbang kl dinaiki, berkesan feminin, kalo di jalan macet gak pegel nginjek kopling(enak bgt g gampang capek), trus kl bawa brg2 yg berat jg bnyk spacenya.
    eh, skrg malah kl naik motor manual saya suka agak kagok gt. suka lupa kl tgn itu bwt rem depan..hehehe. yah, smuanya memang kmbali pd msg2 orgnya. saya dulu pemuja motor manual krn kemampuan ngebutnya, tp skrg berpindah hati ke motor matic 🙂
    coba deh, kl yg biasa naik motor manual beralih ke motor matic seterusnya.
    bnrn, enak deh 😀

    • Exactly. Suka motor manual karena kemampuan ngebutnya. Dan suka matic karena enak dibawa waktu macet. Dan feminin atau macho itu soal lain. Seimbang? Semua kendaraan diciptakan seimbang, karena dia harus stabil dinamis ketika dibawa jalan. Kecuali Vespa model lama, mungkin, yang berat kanan karena mesinnya di kanan bodi.

      Semua kembali ke selera. Tapi menurutku begini lho. Secara teori, motor yg manual, dengan atau tanpa kopling, menaikkan kecepatan secara spontan tapi bertahap. Artinya pada gigi satu, kecepatan maksimumnya terbatas. Mau gas digeber segede apa, maksimal kecepatannya, misalnya, 20km/jam. Di gigi 2 maksimal berapa. Begitu seterusnya. Makin tinggi giginya, makin tinggi batas kecepatan maksimumnya. Yg bikin dia cocok buat balap, karena tarikannya spontan. Ditambah gas langsung lari.

      Bedanya dengan matic, dia ndak bisa dipercepat spontan. Kecepatannya naik pelan, tapi ndak punya range batas kecepatan tertentu. Jadi selama gas ditambahkan ya dia tambah laju aja. Melepas gas tidak langsung mengurangi kecepatan. Dan pada kecepatan tinggi, kadang rem tidak cukup untuk membuat motor berhenti pada jarak yg dibutuhkan (pendek). Ini yang kubilang bisa bikin nyungsep. Kadang kendaraan di depan kita ngerem mendadak, dan dengan sendirinya kita juga harus. tapi sulit, dengan matic yang sifatnya seperti itu.

      Soal space, memang matic memberikan lebih banyak ruang. Tapi kuingatkan, membawa banyak barang di antara kedua kaki ketika mengendarai sepeda motor adalah salah satu perilaku berkendaraan yang membahayakan, karena mengganggu kebebasan kaki. Di sini motor manual jadi lebih menjaga keamanan. Bawa barang sekuat kamu nggendong di ransel, atau kalau mau pasang bagasi yang kaya rice cooker itu. Kaki dan tangan tetap bebas menjalankan tugasnya.

      Soal kecelakaan yang berkali-kali, maaf kalau kuhubungkan itu dengan perilaku alami perempuan dalam berkendara yang cenderung berani tapi kurang perhitungan, kalau ndak mau dibilang ngawur. Novi dulu memilih manual karena lebih asyik dibawa ngebut kan? Hehe… Dan sekarang setelah pakai matic jadi lebih terkontrol? Tentu saja. Bukan karena matic atau manual saja, kurasa. Sifat kendaraan tidak berubah. Bukan soal yang manual atau yang matic yang mebih mudah dikontrol. Tapi perilaku pengendaranya yang berubah, menjadi lebih mengontrol diri. Pengalaman disruduk truk pasti akan membuat kita lebih berhati-hati. Pelajaran kadang memang harus dibayar mahal. 😉

      Selamat berkendara, dan keep safe driving ya…

  7. aku juga lebih nyaman bawa motor biasa, bukan yang matic. Tapi ya memang masih kerepotan kalo harus bawa yang berkopling. Sejauh ini sih sudah berusaha untuk berhati-hati, tapi ya namanya manusia (apalagi pengemudi wanita) memang kadang ada khilafnya. Penggunaan sepatu cantik apalagi ber-heels sekaligus jadi peringatan buat pengendara lain. Kalo ketutup helm ama jaket besar kan ga ketauan cowo atau cewe yang ada di balik kemudi. Bukannya manja, saya cuma memanfaatkan privilege sebagai wanita.

    *digetok helm*

    • Nah, pakai hi-heel waktu naik motor itu apa ndak ribet? ndak bisa aku.
      heh, tetep ya, memanfaatkan ‘keperempuanan’. cerdas! *getok helm*

      • kalau wedges kan tetep stabil, mbak.. Malah enak, kalau biasanya saya harus agak jinjit buat jaga keseimbangan, kalo pake heels garek napak wis nyandak.

  8. Hmmm aku bisa nunjukin betapa ngawurnya laki2 kalau menyetir, dan mungkin jumlah laki-laki yang tidak ‘becus’ nyetir di jalan jumlahnya 2 kali lipat perempuan. hanya, orang maklum karena mereka laki2: agresif. tapi agresif pun menimbulkan bahaya kan?

    • nah ini dia komen yang ditunggu2 =))

      iya, laki2 agresif, dan perempuan ndelah. sama bahayanya. tapi menurutku agresifnya laki-laki masih pake perhitungan. dan mereka didukung fisik yang lebih kuat untuk mengontrol berat kendaraan.

      laki2 yang tidak becus jumlahnya 2x lebih banyak dari perempuan? mungkin karena jumlah pengemudi laki2 di jalanan memang lebih banyak daripada perempuan…

      lagi pula, yang kuomongkan ini juga bukan ‘semua perempuan ngawur’ kok. cuma pada umumnya. tapi banyak juga perempuan yang ngati-ati. dan bukan bilang semua laki-laki oke nyetirnya 😀

      • aku mau jawab, karena hmmmm laki2 yang tidak peduli jauh lebih banyak dari pada perempuan. laki2 yang hmmm lebih banyak dari perempuan yang bodoh. laki yang hmmm lebih banyak dari perempuan yang nggak cerdas.

        😀 aku mau dikampleng sak dunia ya hahahaha 😛

        • haha… rauwis uwi iki. perlu jenis kelamin ketiga biar bisa netral menilai laki laki dan perempuan :))

  9. saya motor bisanya otomatis krn lebih enteng, kalo mobil alhamdulilah manual (real (wo)men use three pedals) hahha.. nyetir transmisi otomatis ngeri main jalan aja mobilnya.
    hahhaha dl sy paling susah jg diajarin parkir, tp nyetir itu learning by doing. makin banyak latian makin baik.
    kalo yg jalannya nanggung.. hmmh.. ini pengaruh jam terbang deh. pria jg sama, tp persentase kejadian pd wanita bahkan yg sdh lama nyetir memang lbh sering terjadi.
    ayo para wanita budayakan smart driving!!
    thanks 😀

  10. wahahaha….saya perempuan, ada pengalaman nyetir mobil manual, matic, dan motor bebek. DAN saya juga sering mengeluh “PASTI PEREMPUAN” ketika berada di jalan raya kendati berada dalam kendaraan umum. Entah mbak2, ibu2, oma2, yang mulai berkendaraan skitar 5 tahun terakhir (padahal saya juga ga lama2 amat mulai berkendara) sering terlihat sembrono atau malah tidak terampil. Ditambah lagi mendengar obrolan di kalangan para perempuan “pake matic saja!” nyatanya menambah jumlah perempuan dengan cara berkendara serupa. Yah, otak para pria memang kebanyakan punya desain lebih oke dalam masalah mengukur ruang dan kecepatan.

    TAPI, memang akhir2 ini lebih banyak yang berkendara dengan seenaknya. Selip-selip sampai menyerempet pengguna jalan lainnya, mengebut membahayakan orang lain, kemudian juga, berkendara dengan tidak tahu ataupun pura-pura tidak tahu aturan (misalnya seenaknya masuk dari jalan kecil ke jalan lebih besar dengan cara memotong kendaraan yang sedang berjalan lurus –woow bahaya sekali dan melanggar aturan dasar lalin–).

    Jujur saja, secara umum, ketika melihat orang sekitar (baik perempuan maupun lelaki), yang mulai dengan belajar manual-bergigi cenderung lebih hati-hati dalam berkendara. (loh awalnya tentang perempuan, kenapa kututup dengan matic-manual ya?)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s