pingpong

Setahun sekali setiap tahun selama bekerja di kantor yang sekarang ini (iya, ga ada kantor yang lain…) aku dengan sangat terpaksa menjadi atlet tenis meja. Bukan karena jago, tapi karena yang lain lebih ndak bisa. Err… lebih tepatnya ndak mau. Sedang aku, aku lebih suka yang begini dari pada ngadep berkas kerjaan…

Sebenarnya aku ya bisa-bisaan aja. Karena dulu Bapak sedia meja pingpong di rumah. Juga bet dan bolanya. Siapa saja boleh main, setiap hari, setelah jam tiga sore sampai maghrib. Kalau malam minggu habis maghrib sampai jam sepuluh. Dan yang datang lebih banyak lagi.

Rame banget waktu itu. Aku dan teman-teman sebaya. Adik-kakak angkatan satu-dua-tiga tahun. Dan seingatku, aku satu-satunya cewek yang tiap sore ikut nyabet bola, jejingkrakan dan bersorak.

Tidak bisa kuingat kapan tepatnya, keriuhan meja ping pong itu berangsur angsur hilang. Satu persatu dari kami kuliah di kota lain. Dan tidak ada adik-adik kami yang melanjutkan keasyikan yang menyehatkan itu. Pingpong mulai digantikan demam nintendo. Bahkan rokok dan alkohol…

Aku pernah bercita-cita, punya meja pingpong di rumah. Dan membebaskan anak-anak di lingkungan main setiap hari. Tapi rumah kami sungguh terlalu sempit untuk itu…

***

Aku sedang mengenang saat aku gegar otak karena kegeblag terpeleset ketika mengejar bola (ya, mungkin itu penjelasan kenapa aku ini sering error). Aku sedang mengenang game yang panjang: 21 dan bukan 11. Aku mengenang pindah bola yang setiap kelipatan lima dan bukan dua. Aku sedang mengenang deuce, last one, salah kamar, net.

Aku sedang mengenang mati ganti, ketika kami terlalu banyak dan main dengan set penuh akan membuat yang lain tidak kebagian waktu.

Aku sedang mengenang mas Ari. Mas budi. Wahyu. Parno. Ninu. Nanang. Gatot. Sipur. Dan adiknya Nanang itu, siapa? Didik? Ah bukan, Didik itu putranya pak Keman, adiknya Mbak Dwi.

Aku sedang mengenang kesenangan yang langka.

Apa kabar kalian?

Advertisements

12 thoughts on “pingpong

  1. aku juga dulu sempat ikutan latian ping pong di kantor tiap wiken. ternyata seru banget ya, dan lumayan bikin berkeringat hehe…

  2. aku adiknya mbak Dwi*halah* tapi pas generasiku meja pingpong sudah masuk ke gudang, lebih sering main badminton sama bapak di halaman depan rumah.

    mbak, kalo nyabet bola pingpong itu marem ga sih? habis bet nya kecil bener

  3. marem dooooong… panas itu kalo bolanya kena pipi. apalagi kalo betnya yang mencelat kena pipi =))

    • tega kamu jul, mosok kepribadianku error. tapi yo ndak papa lah, biar ndak ada yang nyamain πŸ˜€
      aku malah takut loh sama mata bola pingpong, kaya dipelototin gitu hihihi..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s