Indonesian Idol, Sinetron dalam Kemasan Lain.

Aku takjub dengan kesukaan penonton televisi Indonesia akan drama. Drama bukan sekedar sebagai ‘a play’, tapi sebagai suasana yang menguras emosi. Lihatlah sinetron yang masih saja menjadi sajian andalan. Penggemarnya akan terkuras emosinya, ikut gemas pada si jahat, ikut marah, ikut menangis. Yang tidak suka juga ikut terkuras emosinya, ‘ini tontonan apaaaah!?’ lalu mematikan televisi.

Meskipun bukan jenis penoton setia yang tidak pernah absen, aku menganggap diriku sendiri cukup full mengikuti Indonesian Idol 2012 mulai dari audisi sampai tersisa tiga besar di babak spektakuler. Aku mengerti sekali pentingnya mengemas acara ini lebih dari sekedar ajang kompetisi, tapi juga sebagai hiburan, dan tentu saja, cari uang. Itu sebabnya aku berusaha maklum meskipun kadang keki dengan peserta audisi lucu-lucu yang bisa sampai ke hadapan para juri. Mereka sengaja diloloskan dari saringan awal untuk lucu-lucuan. Bahkan kurasa ada yang sengaja disiapkan untuk. Kalian percaya Ashanty ikut audisi? Atau sekelompok bule gila yang membawakan Alamat Palsu versi Inggris?

***

Tapi aku mulai gerah dengan drama, kalau tidak mau disebut settingan, ketika pemilihan 12 kontestan yang masuk babak spekta. Aku yakin bukan hanya aku yang keberatan ketika Khanza bisa masuk spekta. Gayanya menyanyinya mirip Citra? Juri berharap akan ada Citra selanjutnya?

Ada tidak yang memperhatikan, Daniel keceplosan? Waktu itu baru ada 11 kontestan yang ditetapkan, tidak termasuk Febri. Tapi Daniel menyebut nama Febri, meskipun kemudian dia berusaha mengalihkan perhatian orang. Setelah itu, dengan gaya sok penuh pertimbangan, pura-pura pakai musyawarah dan bisik-bisik, juri memanggil Febri.

Akting yang payah.

***

Peserta yang berguguran di awal-awal babak spekta sepertinya memang sudah semestinya. Aku tidak melihat keistimewaan Khanza, Belinda, Rio, Ivan, Sandy dan entah siapa lagi itu. Mereka terlalu biasa. Ketika Rosa keluar dan bukan Yoda, itu juga tidak mengejutkan. Rosa tidak terlalu istimewa, dan Yoda banyak penggemarnya.

Mari kubahas khusus soal Yoda ini. Dia fenomenal karena Agnes selalu memujinya. Kataku, Agnes mengagumi Yoda karena kemasannya. Sementara Ahmad Dhani melihat lebih jauh ke dalam, ke potensi yang dimiliki Yoda. Aku memahami keduanya. Di mataku gaya ‘cool’ Yoda itu menggemaskan, dan itu adalah senjata untuk tetap melaju sampai 5 besar. Tapi lebih dari itu, aku juga melihat Yoda punya gaya nyanyi dan suara yang tidak biasa. Awalnya aku berharap, selama di karantina dia belajar banyak dan ‘sesuatu’ yang dia punya di dalam dirinya bisa meledak keluar. Ternyata dia masih begitu saja, tetap dengan keahliannya lupa lirik, dan bahkan lepas nada. Entah apa yang mengungkungnya. Mungkin sifat pemalunya (terbawa karena ndeso-nya), atau mungkin seperti kata @frawan: beban di dalam dirinya yang ingin menjadi idol, sehingga tidak bisa merdeka sebagai rocker.

Sean dan Regina, sudah tidak perlu diragukan teknik vokalnya. Plus kelebihan yang dimiliki Sean, suaranya yang khas. Mereka tahu pasti bagaimana mengolah dinamika, nada dan emosi. Tapi sepertinya, semakin ke sini mereka justru terlihat terlalu percaya diri, merasa sudah bagus karena selalu dipuji, lantas menyanyi jadi sedikit lepas kendali. Dan celakanya, kadang juri tidak mau mengakui ini, dan tetap saja bilang, ‘bagus, bagus.’

Dengan ciri khas masing-masing, Febri dan Dion bernyanyi dengan enjoy, santai, menjiwai sekaligus menikmati. Seperti kata Ahmad Dhani, keduanya cuma beda di bulu. Dan itu yang membuat Febri keluar lebih dulu: karena Dion lebih seksi.

***

Seperti tidak cukup dengan drama yang disajikan setiap minggunya, Daniel yang mengulur-ulur waktu untuk sekedar mengumumkan siapa aman, siapa tidak aman, sampai siapa yang keluar. Bertele-tele dan membosankan. Tapi mungkin banyak yang bertahan nonton karena penasaran, atau karena tidak punya kerjaan. Puncak drama itu terjadi ketika juri menggunakan hak veto, dan lima besar bisa tampil dua minggu.

Tepat ketika acara pengumuman di lima besar yang terdahulu dimulai, aku mematikan tivi dan bilang ke suamiku, ‘Ayo turu Mas, hari ini ndak ada yang keluar. Hak veto juri akan dipakai hari ini.’ Si empunya acara butuh memperpanjang masa tayang, lumayan buat nambah-nambah pemasukan dari iklan. Kupikir Yoda atau Febri yang akan menikmati veto. Tapi ketika melihat tayangan ulangnya aku ngakak sekaligus muak.

Sean mendapat voting terendah? Kalian percaya? Aku tidak! Ada ngga sih bukti otentik tentang hasil voting? Aku ingin percaya kata-kata seorang teman yang berteori, bahwa para pendukung kontestan yang sudah keluar kemudian mendukung kontestan lain selain Sean sehingga begitulah hadilnya. Terlalu khayal. Dan apakah para juri, juga produsernya, berpikir bahwa penonton akan maklum dan rela jika Sean yang diselamatkan oleh hak veto?

Buatku sih enggak banget. Kalau hasil votingnya murni seperti itu, kalau Sean harus keluar, ya keluar aja. Sejauh ini, ini adalah bagian drama yang paling menyedihkan, Sean yang sampai blokekan disanjung puji, harus dipertahankan dengan hak veto.

***

Dan setelah itu Indonesian Idol tak lebih adalah lucu-lucuan sepenuhnya. Febri keluar, disusul Dion. Aku suka Febri, tapi tebakanku persis seperti itu. Meskipun banyak yang bilang Yoda nyanyinya jelek, tapi masih lebih banyak lagi yang suka dengan wajah imut dan gondrong kriwilnya. Aku percaya banyak hal bisa dipelajari untuk mengembangkan diri di karantina, tapi sepertinya Yoda tidak belajar apa-apa.

Agnes, Anang dan Ahmad Dhani akan terus menemani Daniel dan sisa kontestan, bermain sinetron berjudul Indonesian Idol.

Benarkah kompetisi ini bergantung pada sms yang masuk? Yakin? Bagaimana dengan drama lima besar dan hak veto itu? Terserah mau dibilang apa. Sampai detik ini aku belum pernah satu kali pun mengirim sms dukungan. Mereka yang melakukannya pasti cinta banget kepada idolanya, atau banyak duit buat buang-buang pulsa. Sementara produser terus menyiapkan kantong untuk menampung keuntungan yang masuk, sambil terus berpikir drama apa yang akan ditampilkan minggu depan. Kita tonton saja, kalau masih mau. Tinggal menunggu, Regina atau Yoda yang keluar lebih dulu.

18 thoughts on “Indonesian Idol, Sinetron dalam Kemasan Lain.

  1. Aku berhenti nonton Indonesian Idol karena keseringan dapet tugas jaga rumah sakit.๐Ÿ˜€

    Tapi aku setuju Indonesian Idol itu terlalu banyak dramanya. Nyaris mirip AFI yang dulu. Sampek bosen nontonnya. Kenapa harus dibikin drama sih? Menurutku tanpa harus dibikin drama pun acaranya sudah laris dan tetap bagus.

    • Aku juga ga full nonton kok, tapi ngikuti perkembangan.
      Lha iya, ga usah pakai drama tuh udah bagus. Makanya agak kesal juga. Mosok acara begini yang dipikrin masih juga para penggemar sinetron hahaha…

  2. sabar mbak, sabar..๐Ÿ˜€
    kalau menurut pendapatku sih, indonesian idol itu memang bukan hanya untuk memilih siapa yang beneran pinter nyanyi tapi juga siapa yang penggemarnya paling banyak. Dan kita memang nggak bisa mendikte selera orang, dengan cara apapun. pada satu tulisan di koran yang pernah kubaca ada kalimat seperti ini : bukankah memang sudah banyak, penyanyi yang oke tapi penggemarnya sedikit? dan itu wajar saja, sah sah saja. sementara boyband-girlband yang suaranya pas-pasan itu justru penggemarnya membludak. itu juga sah-sah saja. Mungkin lebih ke penonton indonesian idol itu sendiri sih yang harus bijak menyikapi.

    kalo soal yoda, suaranya mungkin bisa lebih bagus lagi kalau bisa lebih maksimal, menurutku dia begitu karna sedang campur aduk, ya capek, ya nggak pede, ya beban.. dan hak veto itu nggak adil. sekian.

    *dowomen yo*๐Ÿ˜€

    • Iya sih, aku ngerti prinsip bahwa ini bukan soal bagus-bagusan, tapi soal banyak-banyakan yang suka. Makanya meskipun aku suka Febri aku rela dia keluar karena aku tahu dia terlalu spesifik.
      Tapi drama lima besar dan hak veto itu bikin aku ragu, sistimnya murni begitu. Aku jadi mikir, bahwa si empunya acara terus mempelajari perilaku penonton dan pendukung. Selama sesuai dengan skenario mereka akan biarkan, tapi jika kurang sesuai, mereka lakukan manipulasi. Ini lebih buruk dari sekedar menambahkan drama…

      *postinge diwo, komene dowo, balese dowo*

  3. Yang keluar lebih dulu Yoda. Percaya deh.
    Ah soal settingan, drama dsb-nya itu emang keliatan sih tapi so far masih enjoy.
    Yo wis dinikmati aja
    *peres saputangan masih sedih Dion keluar*

    • Begitulah. Sekarang menikmatinya bukan sebagai sebuah kompetisi, tapi panggung hiburan. Terserah siapa yang nyanyi :p

      *pukpuk*

  4. Jauh sebelum Indonesian Idol sesi ini, dramanya sudah berasa. Ketika lagi waktu di Indonesia Idol pertama. Ketika akan memilih yang masuk babak spekta, mereka memutuskan untuk memasukan 10 orang saja. Peserta yang terakhir masuk adalah Karen pada saat babak “hak istimewa”. Ga taunya, Indra Lesmana masuk dan malah mengumumkan selain Karen yang masuk, ternyata Lucky ikutan masuk

  5. aku udah mulai ngerasa indonesian idol itu acara settingan semenjak indonesian idol 3 Si Ikhsan yg jadi pemenangnya,,
    hueeekkkk gak bangetttt..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s