Perempuan Kopi – Dewi Nova: Sebuah Bingkisan Berisi Kecemasan.

image

Perempuan Kopi
Dewi Nova
Air Publisher
2012

————-
Aku selalu tertarik membaca tulisan perempuan. Ingin tahu isi kepala perempuan lain. Ingin tahu bagaimana mereka menyampaikannya kepada orang banyak. Membaca ‘Palang Bambu Daun Sirih’ cerita pertama di buku ini, aku kagum pada kepedulian Dewi, yang bicara sampai hal-hal sebesar perang saudara di Aceh. Maksudku, lihatlah aku, yang lebih suka bercerita tentang hal-hal yang dekat di kehidupanku. Ibu-ibu yang tidak kuat beli susu untuk anaknya, perempuan muda yang menggugurkan kandungan, pemuda yang patah hati, kesetiaan. Terasa jadi sepele cepethe.

Tapi membaca halaman-halaman berikutnya aku dibikin gusar. Tentang lesbi, tentang perundangan berdasar Islam di NAD, tentang free sex yang (katanya) bertanggung jawab. Cara berceritanya membuatku resah. Aku nyaris berhenti, kalau saja tidak ingat janjiku untuk membacanya sampai selesai. Bahkan catatan yang dimaksudkan menyentuh tentang kepedihan di perbatasan Burma-Thailand, yang mestinya menjadi hal besar, telah menjadi tawar. Aku melanjutkan membaca sampai selesai dengan gusar yang bertambah-tambah. Entah aku yang lebay, atau memang ini goal Dewi. Cerita-cerita di dalam buku ini mengkampanyekan lesbi dan freesex sebagai hak asasi, yang bukan hanya tidak boleh dipersalahkan, tapi juga harus diperjuangkan. Maksudku, banyak cerita tentang lesbi, homo, waria; yang sebatas cerita, paling jauh adalah mengajak untuk tidak menghakimi, bertoleransi, membiarkan orang dengan pilihan mereka. Tapi bukan ajakan untuk membenarkan, apalagi membela.

***

Toleransi itu bukan pembenaran. Aku bertoleran pada pilihan orang. Bahkan yang oleh masyarakat umum dihujat dan dicacimaki. Tapi bukan membenarkan. Apalagi mengajak untuk membenarkan. Apalagi mengajak membela. Jadi benar kata Sandra Palupi, buku ini menebar kecemasan. Yang mestinya bisa menjadi kewaspadaan. Bahwa apa saja bisa terjadi di sekitar kita tanpa kita duga. Bukan sekedar anak atau ibu yang menjadi lesbi, atau suami istri yang tidak setia. Bisa saja kekasih kita tiba-tiba mati. Rumah kita terbakar. Pesawat yang kita tumpangi jatuh dan hilang…

Tapi terus terang, kecemasanku adalah isi buku ini sendiri.

4 thoughts on “Perempuan Kopi – Dewi Nova: Sebuah Bingkisan Berisi Kecemasan.

  1. belum baca dan sepertinya tidak akan membaca🙂
    Saya lebih memilih buku yang membuat saya sadar apa yang terjadi bagaimana saya terhadap kejadian itu dan bagaimana memahami orang lain.
    Sukanya yang sederhana saja gak ribet hihihi

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s