Satu Nama

Lama ndak posting cerpen, keseringan posting ndak jelas… Nulis cerpen lagi, biar afdol kalau ada yang nyebut ‘cerpenis’
==========================

Tahun pertama perkawinan mestinya bermandi tawa bahagia, bertabur bunga. Tapi nyatanya sesekali aku masih berenang air mata. Kukira dengan menikah, aku bisa memiliki dia seutuhnya. Tapi kutemukan di matanya begitu banyak nama, bahkan di saat kami sedang bercinta. Aku sudah menutup semua pintu dan jendela. Tapi ada nama yang tak henti berkeliaran, tak bisa kuhindari ketika kami di luar sedang berjalan-jalan…

***

“Ini dompet siapa yang belikan?”

“Tina”

Dan kubelikan dompet baru untuknya.

“Ini ikat pinggang pemberian siapa?

“Laili”

Dan kubelikan ikat pinggang baru untuknya.

“Ini kaos oleh-oleh dari siapa?”

“Nana”

Dan kubuang kaos bergambar tempat wisata itu.

Juga ikat pinggang pemberian Laili. Dan dompet yang dibelikan Tina. Aku menghapus semua foto bergambar perempuan di laptopnya. Yang sendiri, yang berdua dengannya, yang rame-rame.

***

“Siapa perempuan itu?”

“Bukan siapa-siapa”

“Kamu pilih aku atau dia?”

“Aku pilih kamu”

“Kamu tidak boleh menghubunginya lagi”

“Tidak akan”

“Jangan permainkan aku kalau kamu mencintaiku”

“Aku mencintaimu”

“Buktikan, nikahi aku”

“Ayo menikah, sekarang”

Kurelakan tabunganku demi bisa membawanya terbang ke luar negeri. Kuberikan bulan madu terindah yang bisa kuberikan. Resmi menjadi suami istri. Dengan rumah pemberian Papa untuk kami tinggali.

***

Pada surat-surat tanpa nama aku bertanya, kepada siapa kah mereka pernah dikirimkan?

Aku didera paranoia. Menanam curiga di kepala sepanjang hari. Bersiap untuk mimpi buruk di malam hari. Dan terbangun dengan kebencian menusuk hati di pagi hari. Pada nama yang masih muncul di hari-hari pertama kami bertemu. Nama yang bagiku tak lebih dari pelacur penyuka raba-raba, pengemis  cinta. Yang menantang setiap caci yang kuludahkan di wajahnya.

Nama yang tak berhenti muncul sampai hari ini. Karena aku melihatnya di mana-mana. Tertawa. Memeluk orang-orang. Bernyanyi. Melacur, seperti sebelumnya. Dan dicintai banyak orang. Aku mual.

***

Benarkah ini cinta, hingga aku rela memberikan segalanya, bahkan meletakkan segala kemegahan yang telah terbiasa menjadi diriku?

Lalu  kusadari bahwa semua ini hanyalah soal harga diri. Bahwa aku lebih baik darinya, lebih layak dicinta. Betapa sakit jika ternyata aku harus tersisih oleh perempuan cela itu. Perempuan munafik sok malaikat sedang sesungguhnya dia iblis. Segalanya kuberikan pada laki-laki yang kukira kucintai dan mencintaiku sepenuh hati. Sebuah pembuktian. Pembuktian yang tidak mungkin ada pembuktian yang lebih jauh lagi: menikah.

Bahkan jika akhirnya laki-laki ini menjadi milikku, aku tak tahu apakah benar seluruh hatinya untuk diriku. Masihkah ada satu nama, satu nama itu?

Advertisements

10 thoughts on “Satu Nama

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s