Entrok. Ibuk. Ibu. Ibu. Ibu.

Aku selalu suka membaca tentang ibu. Ibu yang baik. Ibu yang ‘jahat’. Ibu yang kejam. Ibu yang penuh kasih. Kebetulan bacaan edisi minggu terakhir ini adalah tentang ibu. Dan keduanya tentang ibu yang luar biasa. Maksudku, kalau kamu baca Nayla-nya DJenar Maesa Ayu, itu kan juga tentang ibu. Ibu yang ‘jahat’. Dan aku mengerti kenapa bisa ada ibu yang seperti itu. Dulu banget aku baca ‘Dua Ibu’-nya Arswendo Atmowiloto. Kekuatan Ibu yang dahsyat. Dan aku juga mengerti kenapa ada ibu yang seperti itu. Sayang aku tidak membuat catatan untuk dua buku itu. Kalau mau bikin sekarang juga sudah terlalu lama lewat, banyak yang sudah menguap. Jadi aku bikin catatan kesan yang masih segar saja…

Ibuk. Iwan Setyawan. Gramedia Pustaka Mandiri. 2012

Dengan bahasa yang sederhana, semakin tergambar kesederhanaan keluarga Ibuk ini. Iwan sangat beruntung, karena’Ibuk’ adalah ibu yang luar biasa. Penuh cinta, penuh perjuangan, penuh pengorbanan, penuh pengabdian. Segala ibu yang diharapkan oleh seorang anak. Aku sudah tahu, membaca buku ini pasti akan menitikkan air mata.
Kalau sampai aku menitikkan air mata, bukan melulu karena apa yang diceritakan Iwan. Aku justru teringat ‘Ibuk’-ku sendiri. Ibuk-ku kurang lebih seperti Ibuk-nya Iwan ini. Mungkin hidup keluarga kami tidak seberat Ibuk dan anak-anak. Tapi sama, membesarkan 5 anak dengan kehidupan yang mungkin bisa dibilang, di bawah seadanya.

Bagaimana pun, setiap anak selayaknya mencintai, menghargai dan menghormati ibunya. Paling tidak, karena telah mengandung selama sembilan bulan, dan bertaruh nyawa melahirkan (aku lupa ini kata-kata siapa, tapi aku sangat setuju).

Entrok. Okky Madasari. Gramedia Pustaka Utama. 2010

Membaca ini seperti membaca pikiran setiap anak. Dan juga Ibu. Seperti kata Spice Girls di lagunya, ‘mama’. Mungkin memang seperti itulah yang banyak terjadi di dunia. Ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk anak. Tapi anak justru menilai apa yang dilakukan Ibu, salah, karena tidak sesuai dengan harapannya. Dan itu karena keduanya gagal untuk saling memahami. Entah karena komunikasi yang tak bagus, atau ego masing-masing yang mencegah untuk bisa menyelami pikiran orang lain.

Lebih dari sekedar bicara tentang ibu, entrok kuat menyoroti cara pandang masyarakat tertentu yang picik dan penuh prasangka buruk. Terlebih dengan ‘suasana’ yang sengaja diarahkan begitu oleh penguasa pada masa yang diceritakan di buku ini.

Aku suka gaya bercerita Okky yang lugas dan sederhana. Aku banget, rasanya. Mungkin bercerita dengan dua penutur yang bergantian adalah ide menarik, tapi pada bagian tertentu aku merasa Ibu dan Yayuk hanya saling mengulang cerita. Tapi overall aku suka. Suka.

Advertisements

5 thoughts on “Entrok. Ibuk. Ibu. Ibu. Ibu.

    • ‘Ibuk’ itu based on true story, menginspirasi dan memotivasi. di situ letak bagusnya. tapi sebagai karya sastra, dari segi penuturan, bahasa dan cerita; menurutku lebih bagus ‘Entrok’. ini menurutku loh ya…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s