Cahaya

*terpantik puisi Yuli Bdn; ‘Semarang Nol Kilometer.

Entah sudah bulan ke berapa. Aku belum menghasilkan satu cerpen pun lagi. Tidak pula puisi. Tidak apa pun. Aku tidak bisa menulis apa pun.

Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kepalaku ditusuk-tusuk ingatan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.

“Biarkan rambutmu abu-abu. Aku lebih suka begitu…”

“Kupikir kamu akan suka kalau aku terlihat lebih muda.”

“Hey, rambut abu-abu tidak membuatmu terlihat tua. Mengecat hitam tidak membuatmu terlihat lebih muda… Kamu bagiku ya kamu. Aku tidak peduli kamu tua atau muda.”

Kurengkuh dia, kuacak rambut pendeknya  yang memang tak pernah disisir. Mata yang gelisah. Ujungnya basah. Bibirnya bergetar menahan.

“Cahya…”

Klik shut down dan kubiarkan laptop menutup sendiri program-program yang masih terbuka.

Pantai kehilangan angin. Matahari enggan membiarkan deretan pohon kelapa menebar kesejukan di teras villa. Seperti mobil yang rusak radiatornya. Otakku terbakar, berasap. Atau imajinasi? Atau hati?

***

Aku menemukannya di jalanan yang panas berdebu. Seorang gadis berambut pendek acak merah terbakar matahari, kulitnya legam. Celana pendek dan singlet, tanpa beha. Betapa tak peduli untuk melindungi tubuhnya dari sengatan matahari. Juga dari mata-mata liar dan otak nakal yang berfantasi tentang penthil  yang tersamar kaos tipis berwarna hijau lusuh.

Jemarinya lincah meriuhkan senar ukulele butut yang dikempitnya. Sambil mengunyah permen karet dia gumamkan lagu yang mungkin dibuat asal-asalan.Tapi setiap kata-katanya adalah kejujuran yang menyesakkan.

“Kata Tante Yuni kelak aku akan bekerja
Menjadi penjaga toko atau di pabrik ternama
Aku di sini hanya sementara
Menemani lelaki-lelaki tua
Yang kehilangan cara berfoya-foya
Sakit sekali waktu pertama
Tapi lama-lama aku terbiasa
Tak apa, duitnya lumayan juga
Sambil menunggu saat aku nanti benar-benar bekerja”

Kubuka jendela dan mengulurkan selembar lima ribuan, “Siapa namamu?”

“Cahya…”

***

Kubawa dia ke pondok tempat aku tinggal. Aku belum tahu apa yang bisa kuberikan. Yang kupikirkan setidaknya dia tinggal di tempat yang aman. Aku tidak tahu apa yang dihadapinya di jalanan. Karena dia sendirian, tidak punya gerombolan. Benakku dipenuhi bayangan mengerikan kekerasan yang mungkin diterimanya selama menggelandang. Dan kekerasan seksual, lebih keras dari yang dirasakan sebelumnya. Tapi barangkali lebih dipilihnya karena ada kebebasan di sana.

Kepalanya tunduk, tapi dia melihat ke arahku. Matanya curiga. Bibirnya katup rapat. Kakinya bersila, lututnya diayun cepat lebih dekat ke getar. Jari-jemarinya sibuk bermain bertaut satu sama lain.

“Aku ingin menolongmu”

“Itu juga yang dikatakan Tante Yuni”

“Aku bukan Tante Yuni”

“Tentu saja bukan. Tapi aku juga ndak kenal siapa Tante. Aku ndak tahu mau Tante apakan aku. Aku tahu banyak laki-laki danperempuan setengah tua. Bahkan yang lebih tua. Om-om dan tante-tante aneh. Permintaannya aneh-aneh. Kalau aku ndak mau nanti aku diadukan ke Tante Yuni. Lalu aku dimarahi, dipukuli, dijambak…”

“Cahya!”

Lututnya berhenti bergetar. Tangannya mencengkeram singlet lusuhnya.

***

Back space sampai habis. Aku tidak bisa melanjutkan. Tutup file.

Do you want to save changes to Document1? No.

Bergelas-gelas kopi. Berbatang-batang rokok. Berpuluh perjalanan ke sana kemari. Mencari-cari kepekaan yang ketlingsut entah di mana. Aku tahu aku berada di mana. Tapi rasanya seperti tersesat. Dadaku dirobek-robek perasaan bersalah dan rasa malu karena tega menyakiti demi membela gengsi. Bahkan meskipun aku sadar aku juga menyakiti diri sendiri.

Perapian yang membara. Aku yang diam. Kamu yang diam. Malam yang diam. Hanya gemeretak kayu dimakan api. Dan berisik di kepala kita sendiri-sendiri. Dingin ketinggian membekukan semesta. Tapi tidak kita. Bara itu di dada.

Kamu merangkak ke  tungku perapian. Mengambil batang kayu terbesar yang sedang berkobar dan membenamkannya ke dalam abu, mematikan api.

“Kenapa kamu matikan?”

“Apa kita masih memerlukan perapian?”

Kurengkuh dia, kusibak rambut pendeknya yang mulai menutupi mata. Mata yang gelisah. Napasnya hangat. Bibirnya bergetar menahan.

“Cahya…”

Angin menghembus melewati pintu yang kubiarkan terbuka. Tidak ada jaket. Tidak syal. Hanya kaos oblong dan celana pendek. Dan sisa bara di dada yang tak cukup menghangatkan. Dingin ketinggian membekukan otakku. Atau imajinasi? Atau hati?

***

“Tante kejam”

“Di sini tempatmu”

“Aku tidak mau”

“Aku tidak bisa membiarkan kamu tetap bersamaku”

“Tapi aku mau!”

“Tidak boleh! Kamu pikir siapa kamu? Ngotot mau ikut denganku?”

“Tante yang memungut aku dari jalan. Kupikir Tante malaikat penolong. Ternyata Tante sama saja dengan Tante Yuni! Tante menganggap aku ini barang, bukan manusia. Tante pikir bisa memperlakukan aku semaunya. Tante sama saja dengan tante-tante yang lain. Perempuan aneh! Tante jahat!”

“Aku memberimu pekerjaan yang dijanjikan Tante Yuni-mu itu, yang dia cuma janji-janji dan tidak ditepati sampai kamu minggat. Aku tidak pernah memintamu melakukan hal-hal aneh. Aku tidak menghamburkan uang di depanmu. Aku tidak membelimu.”

“Tante membeliku! Tante membayar semua kesenangan dariku dengan memberiku pekerjaan. Tante munafik!”

“Aku tidak membeli apa pun darimu. Kamu tidak mengerti. Aku minta maaf kalau aku keliru memperlakukanmu. Kamu… kamu… Aku… aku…”

Kucengkeram kedua tangannya yang tak henti memukul dan mencakar. Mukanya tunduk. Tangisnya ngguguk.

Setelah setahun lebih hidup di jalanan, dia bukan lagi gadis 13 tahun yang diambil Tante Yuni dari orang tuanya dan dijanjikan pekerjaan di Batam. Dia gadis dengan kejujuran dan harapan yang telah dikoyak-koyak, yang secara liar dan alami mengenal cinta dan birahi sejati. Kecerdasannya tak bisa dibatasi. Kemauannya  tidak bisa dikendalikan. Jalanan telah menempanya menjadi kuat dan keras.

Aku. Perempuan setengah tua yang sok pahlawan. Selama ini tidak pernah peduli dengan kesendirian. Lalu mendadak dijajah rasa iba dan merasa  bisa menjadi orang tua buat seorang gadis malang. Sok ingin menyelamatkan. Sok tahan dengan gejolak kebinatangan.

“Aku mencintaimu, Tante…”

Kutinggalkan Cahya bersama Bu Maryam. Dia akan menjadi orang tua baginya. Bukan aku.  Masih kudengar teriak dan caci makinya kepadaku.

Kututup pintu mobil dan pergi, “Aku juga mencintaimu…”

***

Cahya, cahaya
Tapi aku buta dalam terang, sayang
Maka tinggalkan aku dalam gelap, lagi
Dan jadilah cahaya bagi dirimu sendiri.

Advertisements

9 thoughts on “Cahaya

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s