(ISI) TAS

*untuk prompt #2 di Monday Flash Fiction*

“Haduh Sri….!!”

“Ya?”

Yuyuk menarik tas yang dipakai Sri. Membolak-balik. Menelusuri tepian jahitan. Meneliti ujung retsleting.

“Ini tas apaaaah???”

“Tas punggung…”

Sekarang tangan Sri yang ditarik. Sri didudukkan di sofa di sudut kafe tempat mereka janjian ketemuan. Kedua pergelangan tangan Sri dipegangi. Matanya melihat mata Sri penuh marah. Atau iba? Ah entahlah.

“Besok aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku, yang…”

Dia diam.

“Yang?”

“Yang akan menertawakan tasmu”

“Karena?”

“Karena mereknya tak jelas!”

“Maksudmu apa? Ini jelas sekali. Kamu baca ini tulisan di plat oval yang ditempel di tutup tasnya. Di setiap tarikan retsletingnya juga ada…”

***

Sri mengikuti Yuyuk. Dia tersenyum kepada mbak-mbak penjaga toko. Sri juga.

“Tas punggung mbak…” kata Yuyuk pada si mbak.

Si mbak menunjukkan beberapa tas punggung. Modelnya keren-keren. Bahannya kulit asli lembut. Jahitannya halus. Bahkan kain puringnya pun terlihat mewah.

“Berapa harganya mbak?” tanya Sri.

“Yang ini tiga juta, setiap pembeli akan mendapatkan sertifikat”

“Sertifikat keaslian?”

Yuyuk ngakak. Si mbak tersenyum tertahan. Sri bingung.

“Sertifikat KW Super. Yang asli harganya bisa lima kali lipatnya Mbak. Lebih, malah. Tapi jangan khawatir. Orang tidak akan bisa bedakan ini dengan aslinya. Cuma outlet pemilik merek otentik yang bisa membuktikan ini imitasi. Orang nggak akan mau kan, repot ngurus sampai segitunya?”

***

Sri menimang-nimang tas branded itu. Bentuknya cantik sekali. Terbuat dari kulit sintetis yang diemboss berwarna putih dengan aksen kulit sintetis bertekstur kulit ular. Berkali-kali dia menimang lalu menaruhnya kembali, lalu kembali mengambil dan menimangnya lagi. Pikirannya kacau. Kemarin Yuyuk akhirnya membelikan tas itu buatnya, untuk dibawa ke acara galang amal nanti, karena dia keukeuh tidak mau membeli tas di toko itu.

Sri beranjak dari tempat tidur dan berangkat.

Suasana di acara galang amal itu lebih mirip suasana pesta. Orang-orang hilir mudik dengan gaun-gaun cantik anggun mempesona. Rambutnya diombak-ombak. Sepatu dan tasnya serasi dengan gaunnya. Tasnya. Iya. Setiap lengan menyandang tas yang lebih menyolok dari pemiliknya. Sri melihat Yuyuk di tengah, sedang bercakap dengan dua perempuan cantik, memegang gelas ramping berisi sekitar, paling-paling, 50 ml minuman entah apa.

Sri mendekat.

Yuyuk memandangi Sri dari atas ke bawah. Kemeja kotak-kotak. Sabuk besar. Jeans fit. Boots sebetis. Lalu menggelengkan kepala. Menarik Sri ke pinggir ruangan dan berbisik, “Kamu telat banget sih. Eh, kamu mau ikut galang dana apa nangkep banteng?”

Sri cuma nyengir.

Terdengar announcer mengumumkan hasil pengumpulan dana.

“Nah, malah sudah diumumkan, kamu belum masukin sumbangan. He, mana tasmu?”

Sri tersenyum.

“Alhamdulillah, dari pertemuan kali ini kita bisa mengumpulkan dana untuk kita sumbangkan ke Panti Asuhan. Alhamdulillah, jumlah sumbangan kali ini adalah… LIMA JUTA TUJUH RATUS LIMA PULUH RIBU RUPIAH!”

Dan disambut tepukan meriah dari puluhan perempuan yang ada di ruangan.

Sri mengangkat tangan.

“Err… maaf. Saya terlambat. Belum ikut menyumbang. Masih bolehkah?”

“Oh tentu… tentu… Mari ke sini… Mbak… maaf, Mbak siapa?”

Sri mendekat.

“Oh, panggil aja Sri. Err.. jadi sumbangannya saya serahkan ke siapa?”

Sang announcer menyodorkan kotak kardus yang dilapis kertas kado motif batik. Di dalamnya ada lembaran puluhan sampai seratus ribuan yang sudah terpilah-pilah rapi.

Sri menarik tas plastik hitam kusut dari saku belakang celana jinsnya. Perlahan dia buka ikatan dan lipatannya. Dikeluarkan semua uang yang ada di dalamnya. Dua puluh lembar ratusan ribu rupiah.

“Langsung saya masukkan saja?”

Advertisements

37 thoughts on “(ISI) TAS

  1. hahaha… di jakarta sini berasa banget tuh betapa orang dilihat dari penampilannya. terutama kalau kita masuk ke tempat-tempat tertentu yang memang mencitrakan diri sebagai lokasi elite. jadi berasa upik abu di tengah sebuah peragaan busana dengan catwalk seluas keseluruhan bangunan.

  2. aku ngakak karena ada “yuyuk” di situ… 😆 … entah kenapa. Mungkin Sri tau kenapa… *berlalu masih sambil ngakak*

    Mbak Laaaaaaaaaa… aku jadi ga pede bikin sekaraaaaaaaaang!!!

  3. Salut buat Sri ..

    O ya di kalimat : Kulihat Yuyuk di tengah, sedang bercakap dengan dua perempuan cantik, dst
    apa tidak sebaiknya “kulihat” diganti dengan “Sri melihat” ya?
    Betul nggak ya?

  4. Mak Latree……, bagus ceritanya. Alurnya jelas. Emang enak si Yuyuk dikerjain sama Sri. Aku suka Sri yang sederhana dan berhati mulia, tidak menyia-nyiakan pemberian. Gak egois dan gak glamor2an. Yeee….tas branded dijual dibawah harga beli dan uang disumbangkan. Melongo, melongo deh lo Yuk…………..

    • hehe… menulis saja terus mbak. jangan lupa banyak membaca untuk referensi. nanti akan menemukan cara bercerita yang asyik…
      salam kenal 🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s