Kartu Pos

untuk #7 di Monday Flash Fiction
dan #5 – pulang di Lampu Bohlam

Your eyes
Your hair
Your uniform
are nice.

Kuamati lagi kartu pos yang baru kuambil dari bawah pintu. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat. Tidak ada namaku, tapi hanya aku yang tinggal di sini.

Tanpa sadar aku berjalan ke depan cermin.

Mataku kuyu setelah dari pagi menatap layar komputer. Rambutku acak-acakan, aku benar-benar tidak sempat sekedar bersisir. Senyum? Aku sudah tidak kuat lagi mengangkat sudut bibir. Seragam… Aku sama sekali tidak bangga dengan seragamku.

Siapa yang mengirim kartu pos ini? Yang mengagumi rambutku, senyumku, mataku, seragamku? Aku lebih banyak bekerja di ruangan. Hampir tidak pernah bertemu orang selain karyawan kantor. Paling-paling aku keluar ke kantin. Ketemunya ya mereka-mereka.

Kecuali. Di bus. Mungkinkah?

Aku mencoba mengingat-ingat, siapa yang selalu bareng denganku di bis, entah saat berangkat atau saat pulang kerja.

Sama sekali tidak ingat. Aku tidak pernah memperhatikan penumpang lain.

Kulempar kartu pos ke kasur. Juga badanku.

***

Tanggal merah di hari Jumat. Libur tiga hari. Lumayan, bisa pulang tilik Ibuk.

Aku turun dari angkot, berjalan setengah tak sabar melewati gang menuju rumah.

“Mas Pram!”

Sebuah suara memaksaku menoleh.

“Sudah terima kirimanku?” dia bertanya sambil tersenyum manis.

“Ki… Kiriman?”

“Kartu pos… Aku tanya alamat Mas Pram ke Ibuk. Kemarin aku minta tolong Mas Panijo yang sok bersih-bersih kebon itu untuk ngirim ke kantor pos…” dia mengerling.

“Su.. Sudah Tante… Terima kasih… Eh… Anu… Permisi… Saya… Saya ingin segera ketemu Ibuk…”

Dia mengerling lagi. Aku lari.

Ternyata dari Tante Linda, tetangga rumah yang berusia 57 tahun, dan sudah tiga belas tahun menjanda.

ana randha umure seket pitu…
wis meh padha karo yuswane Ibu…

Advertisements

15 thoughts on “Kartu Pos

        • bhahhaha ya nggak curang juga sik, tapi kurang sesuai sama promptnya aja. kalo promptnya hanya gambar kartu pos aja ya luru2 aja. mungkin bisa dijelaskan si tante2 itu gimana bisa berubah jadi laki2 pas lagi ke kantor posnya :p

  1. Wedeuw, udah tua masih gaul. Coba kalo tulisan di kartu pos itu di translate ke boso Jowo wkwkwk… lebih kena deh.

    Bagian anehnya mbak >> tiada nama pengirim dan alamat, artinya berusaha menyembunyikan identitas. Tapi ketika ketemu mas Pram, malah duluan mengaku kalau dia yang kirim 😀
    Atau ada alasan logisnya yah?

    • jelas ada. supaya terasa misterius, bikin penasaran… daaaaan surprais!!

      hal seperti itu kan manis…

  2. ahaaaa ternyata yang diharapkan tak seindah angan 😀 hihhihihh kartu pos yang ga ada identitas pengirim menandakan secret admirer berats 😀
    o ya mbak, utk prompt 7 ku, aku ikutin ke lampu bohlam juga yah.. makasih sarannyaa ^.^

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s