Alibi

Untuk Monday Flash Fiction Prompt #11: Nota

Rima memandangi secarik nota yang dia temukan bersama lembaran kusut ribuan dan lima ribuan dari saku jaket suaminya. Seperti yang biasa dia lakukan, Rima memeriksa semua saku sebelum mencuci pakaian. Disimpannya nota itu di saku cover kulkas, lalu melanjutkan mencuci. Pikirannya tak bisa lepas dari nota itu.

Rima merasa terlempar ke tahun sembilan puluhan. Mendengar lagu tentang sepotong karcis Bina Ria. Lalu bertanya-tanya: Kamu ke sana dengan siapa? Gambir? Jakarta? Bukankah kemarin kamu pamit ke Surabaya? Tanggal dan waktu yang tercantum di nota itu… Saat itu harusnya kamu masih di Surabaya. Itu kalau kamu benar ke Surabaya. Sebenarnya kemarin kamu ke mana? 

Malam ini di meja makan, Rima memberanikan diri bertanya pada Ridho.

“Aku memang ke Jakarta. Tidak jadi ke Surabaya. Maaf kemarin aku lupa memberi tahu”

“Lupa? Atau sengaja? Acara meeting di Surabaya, bisa ujug-ujug dipindah ke Jakarta begitu? Lalu kenapa itu dua gelas jus? Kamu sama siapa?”

“Tapi memang seperti itu. Aku waktu itu bukan berdua, berlima malah. Dari Yogya berangkat bareng. Kebetulan cuma aku dan Said yang pesan jus. Yang lain pesan minuman di kafe sebelah. Kamu boleh telpon Said. Atau Rifki. Erlan. Hendri. Tanya mereka kalau kamu tidak percaya.”

“Aku tidak punya nomor mereka…”

Ridho mengulurkan handphone-nya, “Nama mereka semua ada di situ.”

Ridho berdiri meninggalkan Rima dan selembar nota dan handphone, terdiam bersama di meja makan. Mungkin Ridho memang berkata jujur. Tidak mungkin dia berani serta merta menyuruh mengecek tentang nota ini kepada teman-temannya. Dia tidak punya waktu untuk mengabari dan meminta mereka untuk menjawab yang sama seandainya Rima bertanya. Atau… atau mereka sudah dikode dan diwanti-wanti sebelumnya?

Ragu-ragu Rima menekan nama Said. Baru dengan Said dia pernah bertemu, satu kali.

“Maaf Mas Said, kemarin meetingnya ndak jadi di Surabaya?”

“Oh iya. Loh, Ridho ndak cerita?”

“Cerita kok Mas. Makanya dia bilang ndak bisa carikan pesenan saya. Ya sudah, terima kasih ya Mas. Maaf mengganggu…”

Rima menutup handphone lalu segera menyusul Ridho ke kamar. Hatinya lega. Kekhawatirannya tidak terbukti.

Di seberang sana Said masih bicara, “Iya. Meetingnya dibatalkan. Mau digabung dengan meeting area bulan dep… halo… halo? Mbak Rima? Ah, sudah ditutup… Haha. Ya sudah. Perempuan. Soal ga bisa beliin pesanan sampai ngecek begini, huhu…”

***

to: 081325xxxxxx

sayang, besok2 sblm kita berpisah kamu periksa aku dulu ya. jgn sampai ada jejak yg bisa bikin rima curiga. kmrn dia nemu nota kafe tempat kita ketemu. untung aku berhasil meyakinkannya dg alasan lain. dan jgn lagi mindah2 tempat ketemuan mendadak begitu yah. ribet. love you.

sent.

Ridho meletakkan handphone  dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Entah apa yang dikatakan Said sehingga Rima berhenti curiga. Dia tidak mau menelisik, nanti malah gantian Said yang curiga. Biar saja. Yang penting besok lagi dia harus lebih hati-hati.

49 thoughts on “Alibi

  1. selingkuuuuh ohhh selingkuuuuh begitu indahnyaaaaa *genjreng*
    jadi nama taufiq di nota itu nama kasir gitu ya, habisnya kalau makan, aku biasa dibayarin sih😀
    hapus draft dulu hehehe..

  2. Iiiiih, kok tepat banget sih pakai nama Ridho hahaha…
    Ridho dalam duniaku itu pencinta wanita, hatiku sampai kebas tiap kali dia cerita soal wanita-wanitanya😀

  3. sayang, besok2 sblm kita berpisah kamu periksa aku dulu ya. jgn sampai ada jejak yg bisa bikin rima curiga. kmrn dia nemu nota kafe tempat kita ketemu. untung aku berhasil meyakinkannya dg alasan lain. dan jgn lagi mindah2 tempat ketemuan mendadak begitu yah. ribet. love you.

    nanti malah gantian Said yang curiga.

    Jadi Said enggak kompakan dong?

    Hihiii, lebih manis cerita selingkuhnya daripada punyakuh

  4. untung gag ada nota di kantong celana suami,yang ada duid *halaah* hihiihihi
    gemes banget sama yang selingkuh gini, pengen gampaar >.< *amit2 dah*

  5. mestinya si Said nelpon balik dan jelasin lagi, ah ga cerdas juga nih si Said! Ridhonya minta dikeplak. Dan entah kenapa, baca nama Ridho, yang kepikiran itu lelaki putih tegap tinggi berewokan dan berbulu dada. Hahahhaha😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s