Gratis.

Untuk prompt Lampu Bohlam #16 – gratis

===================================================

Pukul 16.05. Dian meraih tasnya lalu bergegas berangkat. Janji dengan Wiwid untuk ketemu di Kafe Melati jam 16.30. Walau sekedar temu kangen, dia tidak mau ngaret.

Sampai di sana ternyata Wiwid juga baru parkir.

“Haaaai…!” sapanya sambil mengunci pintu mobil. Dian meletakkan helm di spion motornya.

Wiwid memeluk Dian erat sambil cipika cipiki. Terlihat kegembiraan yang sangat, seperti juga yang sedang dirasakan Dian. Sudah lima belas tahun lebih mereka tidak bertemu.

“Ya ampun, kamu ga berubah ya, masih aja ceking begitu. Ga dikasih makan sama suamimu?” Wiwid memulai obrolan sambil memasuki kafe.

“Enak aja. Aku diet mati-matian ini. Jaga makan, olah raga. Biar udah punya anak body tetep oke, ndak mbedhah kaya kamu…” Lalu mereka tertawa bersama.

Mereka dulu teman sekamar kos jaman kuliah. Meskipun hanya beberapa bulan, karena Wiwid kemudian pindah ke kos yang lebih dekat dengan kampus. Sejak setelah lulus hampir tak pernah mereka berkomunikasi lagi. Keajaiban Facebook yang mempertemukan mereka. Sungguh sebuah kejutan bahwa ternyata, setelah bertahun Wiwid mengikuti suami keliling Indonesia, sekarang mereka tinggal satu kota.

Sore begitu meriah dengan cerita kenangan kegilaan masa muda. Dian sampai tersedak mengingat ketika mereka dimarahi ibu kos karena nekat memencet telpon yang sudah dikunci dengan menyusupkan lidi, sampai tagihan membengkak…

“Eh, kamu sekarang nulis ya? Bener kan? Yang kamu pasang di FB itu buku kamu?” tanya Wiwid.

“Iya… belajar nulis… Ada teman yang membantu menerbitkan…”

“Wow kereeen… eh, boleh dong aku dapat gratisan satu… buat mantan teman sekamar…” Wiwid terkikik sambil mencubit lengan Dian. Dian terdiam sejenak.

“Hm… boleh sih. Aku juga boleh dong, dapat gratisan tas daganganmu, satu. Buat  mantan teman sekamar…” Dian ikut ngikik dan gantian mencubit lengan Wiwid.

Wiwid terdiam. Matanya terbelalak. “What? Ah kamu Di. Tas daganganku itu biar KW tapi super. Bukan asal KW. Kulit asli, desain dijamin 100% mirip aslinya. Harganya yang paling murah dua juta… masa kamu tega minta gratisan?”

Dian mengemasi tasnya.

“Dan buku itu dikerjakan dengan tenaga dan pikiran. Nulisnya ga selesai setahun. Mau nyetak juga bayar orang untuk edit, layout, desain cover, beli kertas. Masa kamu tega minta gratisan?”

Wiwid terdiam.

“Eng… Aku harus pulang ni, jemput anakku pulang les sebentar lagi. Makasih ya ketemuannya. Aku yang bayar billnya, santai aja.”

Dian menyalami dan mencium pipi Wiwid yang masih terdiam. Membayar ke kasir, dan berlalu meninggalkan sore yang membuatnya tertawa getir.

13 thoughts on “Gratis.

  1. saya ikut2an ngakak aja deh wekekekekekekekeke, inih kayaknya curcol terselubung yah *naaah, ini dia namanya antara nyata dan fiksi yg masih diragukan *kaboooor :))))

  2. sing getir ki apane sihh?
    kan belum pada pesen minuman atau cemilan…

    mbak boleh minta tanda tangannya?
    “ini tanda tangan bikinnya harus sekolah 12 tahun lho, mosok kamu minta gratis?”
    bhahaha

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s