Pintu Terlarang – Sekar Ayu Asmara (setelah membacanya)

7913866.jpg (168×250)

Sekar Ayu Asmara
Gramedia Pustaka Utama, 2009
(gambar dipinjam dari Goodreads.com)

Sampul dan teasernya mengundang penasaran. Sejak awal membacanya juga. Membuat aku sempat berpikir, sialan tenan, mau dibawa ke mana cerita ini?

Aku berusaha mengaitkan tiga tutur yang berjalan beriringan di buku ini.

Yang pertama adalah cerita seorang anak berusia 9 tahun yang mengalami penyiksaan dari kedua orang tuanya. Setiap kesalahan kecil berbuah siksaan kejam. Terlebih jika Bapak si anak datang, setiap Sabtu Minggu, teror makin horor bagi si anak.

Yang kedua, pasangan misterius Gambir, seorang pematung dan Talyda, wanita karier yang serba sempurna. Bintang Gambir sedang bersinar, patung-patungnya laris di setiap pameran yang disponsori Koh Jimmy. Talyda dengan segala idenya menunjang kesuksesan Gambir. Dan, suksesnya sendiri. Gambir dikelilingi sahabat-sahabatnya Rio dan Dandung, dua orang adiknya, dan ibunya yang anggun namun dominan, Menik Sasongko. Kehidupan Gambir dan Talyda sungguh sempurna. ‘Perfection, perfection, perfection.’ Detail di setiap keseharian yang digambarkan oleh penulisnya adalah tentang hal-hal ‘paling’ yang bisa diceritakan. Baju, tas, dan sepatu dari desainer dunia. Parfum berkelas. Cafe terbaik. Rokok ternikmat.

Gambir dan Talyda saling mencintai setengah mati. Namun ada sebuah rahasia yang disembunyikan Talyda, tentang sebuah pintu yang sama sekali tak boleh dibuka oleh Gambir. Menurut Talyda, jika Gambir melihat apa yang ada di balik pintu itu, hidup mereka akan hancur.

Kecintaan Gambir menguatkan dia untuk tidak melanggar larangan Talyda,  meskipun dia selalu terusik dengan keberadaan pintu terlarang. Terlebih ketika dia mulai mendengar suara-suara minta tolong dari balik pintu itu. Ketegangan semakin bertambah ketika Gambir mulai menemukan satu demi satu bukti ketidaksetiaan Talyda.

Yang ketiga, Ranti seorang reporter yang sedang melakukan investigasi untuk beritanya. Yang ini bisa langsung aku kaitkan dengan si anak dengan trauma siksa masa kecilnya. Karena pasien rumah sakit jiwa yang sedang diinvestigasi Ranti adalah seorang yang sejak berusia sembilan tahun telah masuk ruang isolasi karena kondisi kejiwaannya yang terganggu parah. Sejak usia sembilan tahun, selama 18 tahun, karena pada saat investigasi dia sudah berusia 27 tahun. Si pasien ini, diceritakan menderita depresi parah. Tidak bisa berkomunikasi. Memakai baju pengekang karena agresif. Satu-satunya benda yang bisa menenangkannya adalah pisau plastik yang diacungkan oleh dokter atau perawat. Hanya pisau, benda yang masih bisa dikenalinya.

Jadi sisi cerita Ranti ini membuatku berkesimpulan, cerita si anak dan penderitaannya itu adalah semacam flash back.

Satu benang merah yang mengaitkan sisi cerita Ranti dan Talyda adalah tokoh Dion yang fotografer humanis. Hanya saja bagi Ranti Dion adalah duda beranak satu, sedang Dion milik Talyda adalah seorang perempuan seksi dengan rok mini.

***

Begitu banyak pujian bagi buku ini. Untuk suspense yang disajikan dengan bahasa yang mudah dicerna. Oke, aku setuju. Untuk ending yang mengejutkan dan di luar dugaan. Aku juga setuju. Setuju bahwa ini di luar dugaan. Terkejut kok endingnya begitu. Suka? Tidak.

Tiba-tiba aku merasa seperti habis membaca flash fiction bergaya thriller dengan ending ‘ternyata cuma mimpi’. Dengan lubang besar ketidaklogisan. Huft… semoga yang kusampaikan ini bukan dianggap spoiler.

Begini. Seluas apa pengetahuan seorang anak berusia sembilan tahun pada 18 tahun hitung mundur dari tahun 2005 (awal terbitnya buku ini) – yang berarti itu tahun 1987? Seorang anak yang tertindas oleh kekejaman kedua orang tuanya. Dengan gangguan jiwa tingkat berat yang dideritanya. Yang pada usia sembilan tahun itu akhirnya masuk ruang isolasi dalam keadaan tidak dapat diajak berkomunikasi.

Delapan belas tahun berada di ruang isolasi, bisakah dia  mendengar begitu banyak hal? Tentang universitas terbaik di dalam dan luar  negeri. Merk-merk mahal konsumsi kelas tinggi. Detil teknik mematung dan melukis. Hotel-hotel eksotis. Perselingkuhan. Percintaan penuh gairah. Obsesi.

***

Maksudku, ini novel. Novel itu panjang. Dia punya banyak ruang dan kesempatan untuk menjelaskan segala peristiwa dan kejadian dengan sekilas bahkan detil.

Aku belum nonton film yang digarap Joko Anwar berdasar novel ini. Tapi aku sudah baca-baca sinopsis filmnya. Dan ternyata Joko Anwar juga melihat berbagai kebocoran di novel ini. Lantas menambalnya dengan cerdas, menjelaskan segala ketidakmasukakalan yang berceceran di novelnya. Jadi beda dengan novelnya. Well  mungkin lebih baik begitu. Karena novelnya, ya begitu itu.

22 thoughts on “Pintu Terlarang – Sekar Ayu Asmara (setelah membacanya)

  1. Tonton filmnya, mbak.. beda kok hasil racikan Joko Anwar dari apa yg di bukunya. Aku sih suka banget! Apalagi ada Ario Bayu-nya ahihihihihihi…..

    Eh tapi versi novel itu sedikit banyak juga mempengaruhiku. Terutama tentang perfection dlm hal underwear. Gegara baca buku itu aku mulai membeli underwear sepasang. Buat apa tampil serasi sempurna di luar tapi dalamnya blang bonteng gak karuan. *macak Talyda*

  2. Tiba-tiba aku merasa seperti habis membaca flash fiction bergaya thriller dengan ending ‘ternyata cuma mimpi’.

    wkwkwkwkwkwk 😆 Ok. dengan satu kalimat itu saja aku langsung bisa tau gimana novel ini. Aku belom baca. Ga terlalu penasaran soalnya.
    Dan iya, aku juga paling sebel kalo ada FF yang endingnya “cuma mimpi” sebagai twist. I mean, oh come on, ini mah penulisnya ga mau mikir sama sekali wkwkwkwkwwkk…

    Beklah. Terima kasih spoilernya. :mrgreen:

  3. Filmnya asik banget sih. Nggak sempurna. Tapi ngalir mulus. Kuputuskan nggak akan baca novelnya, tetap menyukai versi layar lebarnya.

    • mendingan begitu. aku baca sinopsis filmnya. hal-hal yang menjadi pertanyaan dijelaskan, meski akhirnya Joko Anwar jadi nambah-nambahin cerita sendiri.

  4. Saya suka novel dan filmnya. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan.
    Saya setuju dengan banyak bolong dalam novel ini. Tapi kalau tidak salah, dari mana datangnya Gambir punya khayalan seperti itu adalah dari bacaan (majalah). Meski diisolasi, dia tetap diperbolehkan membaca (kalau tidak salah ingat).
    Yah walaupun begitu memang masih belum terjelaskan.
    Dan soal endingnya juga, memang agak mengecewakan ketika semua yang terjadi adalah khayalan. Penulis seperti ingin berlari dari ending yang sulit dan mengambil jalan mudahnya saja.
    Tapi isu dan isi yang diceritakan buku ini tetap membuat saya terpukai. Bagi saya, novel ini sendiri sangat filmis, sekalipun tidak pernah katakanlah diangkat ke layar kaca.

  5. Aku sempet baca tweet mba Latree semalem, eh ternyata tentang ini. Hehehe..
    Iya sih, 18 tahun diisolasi sejak umur 9 tahun pastinya nggak ada informasi apa-apa yang diperoleh ya? Setuju tentang ini. Saya malah pengen baca. #lho? 😀

  6. Btw, bagi saya masih logis kok, kalau Gambir punya pengetahuan yang seluas itu,
    Kan ada bagian cerita kalau si wartawan wanita sering ngasih majalah-majalah dan buku-buku ke Gambir selama dia diisolasi.
    Buku-buku dan majalah dari berbagai pengetahuan, disitulah Gambir berhalusinasi dengan semua hal yang dia baca di majalah-majalah dan buku itu. (Sorry Spoiler) :mrgreen:
    Btw, orang gila itu bukan berarti ga punya pengetahuan lho.

    Saya pernah baca beberapa informasi yang menjelaskan kalau tingkat kecerdasan seseorang yang gila, adakalanya juga sama dengan tingkat kecerdasan seseorang yang tidak gila.
    Yang membedakan adalah tingkat “kewarasan”,
    Seperti halnya kasus Rian Jombang yang membunuh banyak orang, dia gila ga? Tapi dia ga bodoh, dia manusia normal yang juga sekolah dan berpendidikan.

    Saya sih masih menyukai karya Sekar Ayu Asmara ini, meskipun memang ada beberapa hal tak logis, tapi hal tak logis itu saya rasa masih tepat pada kadarnya.
    Saya ga menyanjung novel ini sebagai sebuah novel spesial, tapi saya menyukai novel ini, yah, pendapat personal aja mbak :mrgreen:

    Filmnya yang dibesut oleh Joko Anwar juga meraih penghargaan di festival film internasional di Busan kalau ga salah. Dan saya suka banget ama akting Fahri Albar sebagai Gambir disini.

    Btw, Sekar Ayu Asmara punya gaya khas dalam nulis novel. Kalau penasaran, coba aja baca karya Sekar yang lain, Doa Ibu dan Kembar Keempat. Nanti pasti tahu gaya khas-nya dia itu apa.
    Yah, ini pendapat personal saya sih, karena memang saya suka cerita-cerita bergenre seperti karya-karya Sekar Ayu Asmara dan seperti film-fim Joko Anwar. :mrgreen:

    Btw, meskipun berupa halusinasi semata, saya memperoleh beberapa poin di novel ini:
    1. Begitu pentingnya kasih sayang orang tua ke anaknya. Apa yang terjadi di umur dini, sangat mempengaruhi perkembangan mental seorang anak, jika yang terjadi adalah seperti kejadian Gambir, tentunya rasa traumatik itu akan sulit hilang.

    2. Kekerasan di dalam rumah tangga, yang sering terjadi di Indonesia. Sekar ingin mengangkat tema itu, untuk mengingatkan kita, bahwa hal itu benar-benar realita di Indonesia, dan apa dampaknya untuk perkembangan mental seorang anak. (Kisah si Gambir kecil dan kisah si Wartawan wanita)

    3. Menjadi seseorang yang teguh pendirian itu penting. (Gambir yang terlalu mudah dikendalikan oleh istrinya, di dalam halusinasinya.)

    4. Orang-orang terdekat kita, orang-orang yang sangat kita percaya, justru mereka adalah orang-orang yang palih mudah menyakiti dan menusuk kita dari belakang. (Pengkhianatan Ibu, Istri dan Sahabat Gambir, di dalam halusinasi Gambir.).
    Halusinasi ini sebenarnya muncul dari traumatik bawah sadar pikiran Gambir. Semua orang meninggalkan dia, tak ada yang bisa dia percaya, orang-orang menganggap dia gila dan diisolasi. Ini merupakan wujud depresi Gambir di dunia nyata, tak ada siapapun di sampingnya, dia sendirian menghadapi segala tekanan ini, dia merasa semua orang mengkhianatinya. Akhirnya, rasa depresi di dunia nyata itu dia bawa ke dunia khayalannya.

    5. Dia tak bisa mengakhiri depresinya di dunia nyata, akhirnya dia melampiaskannya ke dunia khayalannya. Dia mengakhirinya dengan menghabisi satu persatu pengkhianat itu di dalam halusinasinya. Dia melampiaskan, dia hanya bisa jadi pemenang jika di dunia khayalannya, karena dia tak mungkin bisa menang di dunia nyata.

    Begitulah mbak opini saya,
    sorry jadi menuh-menuhin kotak komen :mrgreen:
    Sorry banyak spoiler. :mrgreen:

    • terima kasih sudah mampir.

      sebelum berkomentar, selain membaca postingan dengan seksama ada baiknya juga membaca komentar2 yang sudah masuk sebelumnya.

      maaf ya mas, aku ndak mau menambah komen spoiler untuk menjelas2kan kepada sampeyan.

      dan soal pesan moral, terus terang aku jarang membicarakannya. bagiku pesan moral bukan hal yang harus ditekankan. pembaca dewasa (ini novel dewasa) bisa menangkap hal yang harus diserap dan ditinggalkan.

      terima kasih 🙂

  7. saya memang penggila psychovthriker jadi buku ini
    kesukaan saya. filmnya juga kerennn..
    Endingnya mirip2 shutter island

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s