Sebuah Pilihan

Untuk Prompt #20 di Monday Flash Fiction

Aku tahu mereka akan bertemu di sini. Seperti yang selalu diceritakan kepadaku setiap kali mereka usai bertemu.

Sudah satu jam lebih sepasang manusia itu berbincang. Wajah keduanya kusut dan tegang. Aku duduk di meja paling sudut, berpura sibuk dengan handphone di depan wajah agar tak dikenali, sambil terus mengawasi.

Aku tidak bisa mendengar perbincangan mereka. Tapi sepertinya sesuai yang kuharapkan. Tampak si perempuan menangis, tubuhnya berguncang. Lelaki yang sedari tadi tampak lebih banyak bicara sekarang diam. Membiarkan si perempuan terus menangis.

Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Lalu pergi.

***

“Jadi bagaimana?”

“Aku berhenti.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak mungkin meninggalkan Lintang. Dia menangis tadi malam, ketika kuceritakan semua padanya. Aku tidak tahu dia sedih atau marah. Mungkin campuran keduanya. Tapi dia masih memberiku satu kesempatan. Dan aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi.”

“Tapi… tapi… kamu tahu apa artinya itu?”

“Aku tahu. Aku akan kehilangan pekerjaan. Tak apa aku bisa cari lagi. Masih banyak orang yang membutuhkan sopir. Tapi kalau harus kehilangan Lintang, aku lebih baik mati. Aku tak mau lagi jadi mainanmu, sekedar pemuas nafsu.”

33 thoughts on “Sebuah Pilihan

  1. Tetep yaa, aku lebih suka tampilan blog yang lama, etapi ini juga bagus sih. *malah koment template”😀 Kalo FF mba Latree sih selalu kereeenn

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s