Masjid Setitik Cahaya

Empat tahun terakhir ini, setiap lebaran aku berkunjung ke rumah pembantuku, biasanya sekalian mengantar dia pulang, karena jalurnya bisa dilewati sekalian kami pulang mudik. Sebenarnya kampung pembantu kami ini secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Tapi secara geografis letaknya lebih dekat ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Untuk sampai ke kampungnya, kami melewati Kecamatan Gantiwarno, yang diguncang gempa dahsyat tahun 2006 lalu.

Awal kami mulai berkunjung ke sana dulu, masih ada sisa-sisa gempa. Beberapa rumah yang masih belum direhab dan runtuhan di sana sini yang belum sempat dirapikan. Ada dua bangunan baru yang menarik yang kami lalui. Yang pertama adalah sebuah sekolah dasar yang dibangun dengan biaya sumbangan dari pembaca koran Suara Merdeka. Nama sekolahnya pun ‘SD PEMBACA SUARA MERDEKA’.  Sekolah itu dibangun sebagai bantuan kepada masyarakat korban gempa.

Bangunan menarik lainnya adalah sebuah masjid yang dibangun di Desa Pacing. Masjidnya kecil dan bentuknya unik. Beberapa kali lewat, baru kemarin aku dan suami menyempatkan mampir dan sholat dhuhur di sana. Pengin sih tanya-tanya tentang masjid itu, tapi tidak ada siapa pun yang bisa ditanya. Embak juga ndak pernah sholat di situ, karena ada masjid yang lebih dekat dengan rumahnya.

image_1Tampak Luar Masjid ‘Setitik Cahaya’

imageMihrab Masjid

photoPuisi Rusli Lutan yang ditulis di atas prasasti, dipasang di halaman masjid. 

Nama masjid itu tidak seperti nama masjid pada umumnya yang memakai bahasa Arab. ‘Setitik Cahaya’, sama dengan judul sebuah puisi di prasasti yang dipasang di luar masjid. Puisi yang ditulis oleh Rusli Lutan untuk korban bencana gempa Mei 2006. Aku sendiri belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Setelah googling, baru kutahu rupanya beliau adalah alumni Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, dan sudah menulis buku “Pembaruan Pendidikan Jasmani Di Indonesia”.

Berikut puisi yang terpahat itu:

SETITIK CAHAYA

Sunyi kelam malam
Tangis memelas
Bayi minta cahaya
oh… oh kembalilah

Luluh luka
Mengambang rasa
Menangkap hampa
Bayang-bayang dalam pecahan kaca
Kerap lenyap gelap tiada
Tapi terpulang pada-Mu jua

Cicipi getir geram air mata
Menyirami bumi
Membasuh cakrawala
Riuh bocah
Purnama jenaka
Pelangi menari di kaki Merapi
Oi, besok embun bening kembali

Puisi yang penuh harapan setelah bencana yang begitu mengenaskan. Sekarang, lebih 6 tahun setelah bencana, memang hampir tidak terlihat lagi sisa kepedihan masa itu. Setitik cahaya telah berpendar terang.

Advertisements

6 thoughts on “Masjid Setitik Cahaya

    • yang lebih menarik perhatianku sih bentuknya. karena nama masjidnya tidak terpampang seperti banyak masjid pada umumnya. ya ditulis di prasasti itu aja.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s