Matinya Badut Kami

Badut itu datang ke kampung kami setahun sekali, seperti musim durian atau rambutan. Begitu dinanti. Sejak kuncup-kuncup bunganya mulai tumbuh, lalu mekar mabluk di sela-sela daun, menyebar wangi. Sebagian gugur menjadi bahan pasaran anak-anak perempuan. Sisanya melanjutkan penyerbukan, menjadi buah-buah yang bakal tumbuh membesar. Ketika tiba saat panen, semua orang sibuk memetik, memilah, mengikat. Lalu orang-orang dari luar daerah akan berdatangan. Membeli banyak untuk kulakan, atau sekedar seikat-dua ikat untuk langsung dimakan.

Ah. Tidak. Sebenarnya kami tidak pernah merasakan musim durian atau rambutan. Tidak ada yang bertanam pohon buah itu. Di sini orang lebih suka bertanam kecemasan, curiga, kegelisahan. Dan itu jelas bertentangan dengan kegembiraan menantikan buah durian dan rambutan. Kecemasan dan curiga tumbuh kapan saja di mana saja. Pada orang yang menemukan wangi parfum di baju suaminya. Pada guru yang kaget melihat murid yang biasanya bodoh tiba-tiba tinggi nilainya. Pada ibu-ibu yang melihat guru mengaji memangku anak perempuan mereka. Kegelisahan menjadi seperti benalu yang tumbuh subur bersama dua tanaman itu.

Kami merasakan ketidaknyamanan itu, tapi tidak bisa berhenti bertanam. Karenanya kami hanya menunggu badut itu datang setahun sekali seperti pembasmi hama. Oh, bagaimana kami tidak akan suka. Melihat mukanya saja kami sudah geli. Hidungnya yang bulat merah. Alisnya pendek kecil naik tinggi di dahi. Rambutnya warna-warni seperti pelangi. Perutnya besar bulat bersaing dengan pantat. Bajunya merah kuning biru dengan polkadot diameter sebesar tutup gelas. Sepatunya lebih dari lima puluh senti, tapi tetap saja dia lincah berlari ke sana kemari.

Tapi dari semua kelucuan itu, bibirnya yang selalu tersenyum lah yang membuat kami ikut tersenyum. Bibir yang seolah berkata, “Kenapa curiga? Kenapa cemas? Kenapa gelisah? Tersenyumlah bersamaku, mari berbahagia.”

Begitulah, setiap tahun sejak aku mulai bisa mengingat, badut itu datang membawa kegembiraan. Kedatangannya bisa didengar dari kejauhan. Gemerincing ringbell yang melingkar di pergelangan kakinya seperti menjadi musik riang yang mengiringi langkahnya. Senandung suara sembernya sama sekali tidak mengganggu telinga, tapi justru seperti menjadi panggilan bagi semua orang.

“Yuhuuuu…!! Aku dataaaang….!! Di mana kalian? Mari bersenang-senang!”

Maka semua orang akan keluar rumah menyambutnya. Laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, hingga kakek nenek. Meninggalkan apa saja yang sedang dipegang atau dikerjakan. Mengikuti ke mana pun badut itu pergi, seperti karnaval berkeliling kampung. Ikut bernyanyi, bertepuk tangan, berjoget. Badut itu akan berhenti di tempat-tempat tertentu untuk beratraksi. Di halaman masjid. Di lapangan bola. Di tengah jembatan. Di halaman gereja. Di halaman sekolah. Dia akan mengeluarkan berbagai alat dari kantong kumuh yang digendong di punggungnya. Naik sepeda roda satu. Bermain juggling. Aneka permainan sulap.

Dia bisa mengeluarkan payung warna warni dari kantong kecil berwarna hitam. Lalu membagikannya pada anak-anak perempuan yang berebut untuk mendapatkan. Dia bisa menuangkan susu dari gelas-gelas kosong, lalu memberikannya pada bayi-bayi dan balita. Kadang juga orang dewasa. Dia bisa memunculkan uang dari balik telinga siapa saja, lalu memberikannya pada ibu-ibu untuk belanja. Dia bisa mengeluarkan buket bunga dari saku bajunya, lalu dia berikan pada gadis-gadis muda. Begitu selama berhari-hari hingga semua orang mendapat bagian dari permainan sulapnya. Hingga semua orang lelah bertepuk tangan, lelah bernyanyi, lelah bersorak, lelah tertawa, lelah berteriak.

Badut itu akan melambaikan tangannya, lantas memberikan cium jauh yang dibalas oleh semua orang yang telah menyalin senyum dari wajah badut itu dan menempelkan di wajah mereka sendiri. Semua orang pulang menggenggam hadiah sulap di tangan kanan, dan kegembiraan di tangan kiri. Dari mulut mereka masih terdengar senandung lagu-lagu gembira yang dinyanyikan badut itu.

Sampai beberapa hari.

Karena kemudian hadiah-hadiah itu akan habis atau rusak. Orang-orang mulai sibuk kembali bertanam kecemasan. Istri-istri yang bertanya-tanya karena gaji yang diberikan oleh suaminya berkurang jumlahnya. Suami-suami yang merasa tidak terpenuhi hasratnya. Anak-anak yang diabaikan. Remaja-remaja yang bertarung dengan gairah yang meledak. Tangga lipat di samping rumah hilang, dan tiba-tiba tetangga ujung desa punya tangga yang sama. Ada yang membeli motor mahal edisi terbaru, sementara yang begitu menginginkannya belum juga punya cukup uang dan permohonan kreditnya ditolak. Ada seorang bapak yang terlihat memboncengkan perempuan muda tidak dikenal.

Gumam mulai terdengar di sana sini, membicarakan Si Anu dan Si Itu. Teriakan dan pertengkaran mulai terdengar di rumah-rumah. Gelas piring dan perabotan dilempar. Suami-suami memukul istri. Anak-anak menangis. Remaja-remaja pergi dari rumah. Tetangga saling tuding beradu mulut. Tuduhan-tuduhan dilemparkan. Pembelaan diteriakkan.

Tapi tak ada yang peduli. Tak ada yang ingin berhenti. Seperti biasanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua dibiarkan saja, Toh nanti datang Si Badut yang akan menghapus semuanya. Demikian juga penghiburan yang kutanamkan dalam kegelisahanku sendiri menyaksikan semua kekacauan. Sampai suatu sore seorang gadis kecil datang padaku.

“Kapan badut itu datang?”

“Hey? Kenapa kau bertanya begitu, anak kecil? Dia pasti datang, jangan khawatir.”

“Kapan? Kapan dia mengajak kita bernyanyi, bergembira, bermain sulap, bermain akrobat. Supaya Pak Guru berhenti marah-marah. Supaya Bapak dan Ibu berhenti bertengkar. Supaya aku dan adikku berhenti berebut mainan. Kapan badut itu datang? Bukankah seharusnya dia sudah datang?”

Baru kusadari bahwa keadaan telah menjadi begitu buruk. Dan benar, telah setahun berlalu sejak terakhir kali badut itu datang. Kegembiraan dan kebahagiaan telah habis tergerus. Sementara curiga dan cemas tumbuh subur bersama gelisah yang merambat dan mengurung rumah-rumah. Menyekap penghuni-penghuninya.

“Kau benar.  Seharusnya dia sudah datang…”

Aku diam cukup lama, bertanya-tanya apa yang terjadi, dan kenapa badut itu belum datang.

“Ayo kita cari dia,” gadis kecil itu menyadarkanku.

“Apa? Mencari dia? Ke mana?”

“Ke mana saja. Kamu sudah tua. Kamu pasti sudah lebih banyak mendengar dan mengetahui dari arah mana biasanya dia datang. Ayo kita cari dia…”

Gadis itu terlihat begitu putus asa. Dan aku, aku baru menyadari bahwa meskipun telah puluhan kali bertemu dengan badut itu, aku sama sekali tidak tahu dari arah mana tepatnya dia biasa datang.

“Aku… aku tidak bisa mengingat dari mana badut itu datang, maaf…”

Dia menunduk. Terlihat kecewa dan putus asa.

“Tapi aku mau menemanimu mencari dia. Ayo kita cari dia.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Kamu ingin kita mulai dari mana?”

Maka mulailah kami berdua berjalan menyisir setiap sisi luar kampung.

“Hey!” teriak ibu gadis kecil itu ketika melihat kami berjalan ke luar kampung, “mau kau bawa ke mana anakku? Mau kau jual kau jadikan pelacur? Awas ya, kulaporkan kau pada polisi!’

Gadis kecil itu bersembunyi di belakangku penuh ketakutan melihat ibunya datang sambil bercincing daster.

“Tidak, Bu. Anakmu memintaku menemaninya mencari badut…”

Mendadak raut mukanya yang tegang melunak. Tangannya tak lagi berkacak. Seperti teringat sesuatu dia mengusap dahi.

“Iya, badut itu. Ke mana dia? Kenapa belum datang juga? Aku ingin ikut mencari.”

Bertiga kami melanjutkan pencarian. Di sudut jalan dekat masjid kami mendengar teriakan seorang laki-laki, “Hey, mau ke mana kalian? Apakah kalian peselingkuh yang hendak melarikan diri? Awas kuadukan pada suamimu!”

“Terserah, adukan saja. Baguslah kalau kamu bisa menemukan di mana suamiku. Sudah berhari-hari tak pulang. Aku mau menemani anakku mencari badut. Seharusnya dia datang dua tiga bulan yang lalu.”

Orang itu berlari mendekat.

“Badut itu. Benar. Kenapa dia belum datang? Bolehkah aku ikut mencari bersama kalian?”

Kami bertiga berpandangan, lalu mengangguk nyaris bersamaan.

Demikianlah kami terus berjalan. Setiap orang yang melihat akan bertanya, lalu ikut mencari bersama. Iring-iringan semakin panjang seperti karnaval. Hanya saja kali ini tidak ada yang bertepuk tangan atau bernyanyi. Yang ada adalah wajah-wajah muram putus asa.

Setelah berhari-hari pencarian, kami berhenti di tempat terakhir yang ingin kami kunjungi, karena tidak tahu lagi harus ke mana mencari. Tempat pembuangan akhir sampah. Gunungan berbau busuk itu membuat hampir semua orang enggan mendekat. Gadis kecil itu berjalan sendiri memanjat timbunan sampah hingga ke puncak tertinggi. Lalu melihat ke segala arah.

“Itu! Itu dia di sebelah sana!”

Dia berlari ke arah yang ditunjuk. Semua orang mengikutinya dan mendapati badut yang kami cari-cari. Dia sedang duduk di atas sebuah ban bekas. Berdiam diri tidak melakukan apa pun.

Gadis kecil berjalan ke depannya, menyentuh tangannya, dan berbicara lirih.

“Badut yang baik hati, kenapa kau tidak datang ke kampung kami lagi?”

“Untuk apa?”

“Kami membutuhkanmu, untuk membuat semua orang tersenyum lagi.”

“Ya, agar kami bisa sesaat melupakan kekecewaan pada istri-istri kami,” sahut seorang lelaki.

“Ya, dan kami juga bisa sesaat melupakan kekecewaan pada suami-suami kami,” sahut seorang perempuan ketus.

“Agar kami bisa sesaat berhenti curiga,” sahut yang lain.

“Agar kami bisa berhenti cemas…”

“…berhenti berteriak…”

“…berhenti mencaci…”

“…berhenti…”

“DIAM!!!!”

Badut itu tiba-tiba berteriak dan berdiri.

“Coba lihat bajuku. Lihat rambut palsuku. Lihat sepatuku. Tidakkah kalian perhatikan? Warnanya tidak secerah dulu. Bukan sekedar pudar tapi lusuh. Seperti aku. Aku lelah berusaha membuat kalian tersenyum dan tertawa. Sementara kalian sendiri sibuk bertanam kecewa dan kemarahan. Kenapa tidak kalian sendiri saja yang mencoba bertanam tawa?”

Badut itu melepas wignya. Berjalan meninggalkan kami. Dan seperti dulu-dulu ketika dia datang untuk bernyanyi, semua orang mengikuti. Badut itu terus berjalan tidak peduli. Lalu berhenti di pinggir kali.

Perlahan dia berbalik ke arah kami.

“Lihat. Lihatlah sekali lagi. Aku bahkan tidak punya senyum yang tersisa untuk diriku sendiri.”

Setelah itu dia terjatuh. Terpejam.

Aku mendekat, meraba nadi.

“Dia mati.”

Pekik tertahan terdengar dari mulut-mulut yang sedari tadi diam.

Gadis kecil mengusap wajah badut itu. Dan baru kuperhatikan, lengkung bibirnya terbalik.

======================

Cerpen ini ditulis untuk ikut memeriahkan PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

Advertisements

24 thoughts on “Matinya Badut Kami

  1. Bagus…
    Entah mengapa baca cerpen ini jadi kaya dejavu dan iya plotnya mirip pemburu air matanya Noviana Kusumawardhani
    Cuma di cerpen ini yg diangkat yah si Badutnya..

    Endingnya si badut mati keren 🙂

    • oya? terus terang aku belum baca cerpen itu sebelumnya. barusan gugling dan nemu. sudah kubaca. lalu aku mencoba mencari di mana letak miripnya.

      barangkali, kalau mau dibilang mirip, ini soal urutan kejadian yang memang lazim. ibarat orang makan, di mana mana urutannya sama: menyendok, menyuap, mengunyah, menelan.

      terima kasih sudah membaca, anyway.

  2. ada pesan yang dalam di cerita ini…tentang orang-orang yang gelisah dengan dirinya sendiri lalu berharap ada orang lain yang datang membuat mereka sejenak melupakan masalah. sayang sekali, tokoh badut tetap dibuat jadi misteri hingga dia mati…

    • walah. aku juga masih terus belajar mbak uniek…
      pokoknya nulis aja terus. kan nanti lama-lama jadi bagus….
      makasih ya sudah mampir 🙂

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s