Bukan Cinta Buta

Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Setidaknya menurutku begitu. Aku tidak bisa mengerti bagaimana wajah tampan bisa mencuri hati. Atau bagaimana tatap mata lembut bisa menggetarkan dada.  Aku tidak bisa mengerti bagaimana suara rendah bisa terdengar melindungi, lalu membuatmu ingin menyusup di bawah ketiak si empunya suara.

Bagiku wajah tampan hanyalah sedikit keindahan yang tidak terlampau penting. Tatap mata, tutur  kata, suara, hanyalah gaya masing-masing pemiliknya. Dan semua itu tidak cukup untuk bisa membuat aku jatuh cinta.

Tunggu. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang bisa membuatku jatuh cinta. Aku bisa kagum pada lelaki yang berwawasan luas dan tahu tentang banyak hal. Aku kagum pada lelaki yang bisa bermain musik. Aku kagum pada lelaki yang peduli pada orang lain. Tapi jatuh cinta?

Jatuh cinta itu mestinya membawa sejuta warna. Mawar lebih merah. Langit makin biru. Senja makin jingga. Udara menjadi sejuk. Atau hangat. Di setiap langkahmu tumbuh bunga di kanan kiri jalan. Bermekaran. Wangi.

Aku belum menemukan lelaki yang membuat dunia berubah seperti itu. Hidupku penuh warna, seperti biasanya. Nyaman. Seperti biasanya.

Sampai malam itu.

Aku runtuh. Dadaku terasa penuh. Tubuhku bergetar. Lumpuh. Aku seperti dihipnotis. Dalam hening bersepuh cahaya lampu halogen 500 watt. Hanya desah gemericik marakas air yang rasa mengalir dalam darah. Tubuh bertelanjang dada semerah tembaga, bergerak perlahan namun memancarkan energi. Atau menguras? Karena aku ikut merasakan lelah yang diungkap dalam gerak lelaki itu. Terangsang.

Aku meledak bersama teriakannya di akhir gerak.

***

Seperti orang bodoh aku menawarkan diri kepada ketua panitia untuk menyerahkan tanda mata padanya. Hal yang biasanya aku paling enggan. Aku ingin menyampaikan segala kedahsyatan yang kurasakan selama pertunjukan. Begitu banyak yang ingin kusampaikan. Berjejal memenuhi rongga mulut sampai kerongkongan. Bahkan sampai ke dada.

Di belakang panggung. Dia sendirian sedang duduk menyeka keringat. Wajah tampannya menoleh, mencuri hatiku. Tatap lembutnya menyapu wajahku yang kutahu seketika tersipu, menggetarkan jiwa.

“Hai…”

Suara rendahnya terdengar melindungi. Membuatku ingin meringkuk dan berlindung di peluknya.

Amplop seberat  paling-paling  sepuluh  gram itu, mendadak terasa menjadi sepuluh kilo di tanganku. Gemetar aku menyodorkannya, dan meminta tanda tangan di kuitansi. Tangannya menyentuhku ketika mengembalikan pulpen. Ya Tuhan. Rasanya seperti mau pingsan.

“Siapa namamu?”

Ah petir!

“Ra… Raras…”

“Hey…  kamu sakit?”

“Tidak… saya… euh…”

Aku sakit. Olehmu.

“Kamu pucat. Mungkin kamu kecapekan mengurus acara ini, ya?”

Aku mengangguk saja. Harusnya aku mengucap terima kasih lalu pergi. Tapi kaki enggan diajak beranjak. Kata-kata masih berdesakan di mulutku, tapi tak satu pun berhasil keluar.

“Ada lagi yang harus kulakukan?”

“Sudah… Sudah… saya… ingin…”

Lelaki itu mengambil hand phone di sampingnya, meraih bahuku dan menarik aku dekat dengannya.

“Senyum…” katanya sambil mengambil foto kami. Kali ini aku ingin benar-benar pingsan dan rubuh di pundaknya. Tapi nyatanya aku masih tegak meski tanpa daya.

“Nanti aku kirim fotonya buatmu. Mau di-bluetooth sekarang? Atau email? Whatsapp? Kamu pakai BBM?”

“Whatsapp saja…”

Aku meninggalkannya sambil berjingkrak bersorak dalam hati. Aku belum mengatakan apa pun. Tapi dia pasti tahu betapa aku mengagumi penampilannya malam itu. Aku bahkan tidak berpikir untuk foto bareng atau bertukar nomor telepon. Tapi dia memberikannya!

Setelah malam itu hidup lebih berwarna. Mawar lebih merah. Langit makin biru. Senja makin jingga. Udara menjadi sejuk. Atau hangat. Di setiap langkahku tumbuh bunga di kanan kiri jalan. Bermekaran. Wangi.

***

Aku tidak mudah jatuh cinta. Jadi ketika aku merasakannya, aku yakin pasti aku benar-benar jatuh cinta.

Sapaan di pagi siang sore malam walau sekedar teks, membuat ingin selalu tersenyum, bahkan di saat-saat ketika biasanya aku menggerutu. Ketinggalan bus trans. Kecipratan air sisa hujan di pinggir jalan. Kehabisan pulsa di saat harus menelpon dosen. Tidak ada hal menyebalkan. Semua hanya terasa menggelikan.

“Aku ingin ketemu kamu sore ini, bisa?”

Ugh…

“Aku ada kuliah sampai jam tujuh.”

“Aku jemput jam tujuh?”

Ugh…!

Aku tidak ingin membayangkan apa pun. Hatiku berkelap-kelip seperti lampu jalanan yang mulai menyala ketika Bayu membawaku berkeliling di dalam mobilnya. Cerita tentang kuliah hari ini hanyalah basa-basi seperti pembicaraan-pembicaraan sebelumnya. Tidak penting bicara tentang apa, yang penting kita bicara. Agar aku bisa terus mendengar suaramu yang perkasa. Melihat matamu yang teduh.

Malam belum kehabisan bahan obrolan. Bayu menepikan mobil dan berhenti di pinggir jalan. Tak perlu bertanya ‘kenapa?’ ketika yang terjadi adalah apa yang sedang kita harapkan.

Mendadak lampu-lampu sepanjang jalan yang kami lalui masuk ke kabin mobil. Berpendar menyilaukan. Aku memejam. Membiarkan keindahan mengaliri sekujur tubuh. Membiarkan gairah bergemuruh. Membiarkan diriku luluh. Oleh lumat bibir yang selalu mengalunkan suara yang menenangkan itu. Membiarkan ragaku jatuh. Dalam rengkuh tangan kokoh yang menopangku.

“Maukah kau kuajak ke sanggarku?”

Ugh…

“Untuk apa?”

“Aku ingin menari hanya buatmu…”

Dan aku akan menari bersamamu…

Yang dia sebut sanggar adalah sebuah rumah kayu berhalaman lumayan luas. Aku bisa menangkap bayangan pohon kamboja. Ada banyak pohon lain yang tidak bisa kukenali hanya dengan semburat lampu taman. Bayu membuka pintu, menyalakan  lampu, dan mempersilakan aku masuk.

Sebuah ruang yang lapang. Ada beberapa alat musik perkusi berjajar rapi di pojokan. Dua sisi dindingnya adalah cermin penuh.  Di sudut yang lain ada sebuah meja konsol, dan beberapa foto berpigura di atasnya. Bayu. Bersama seorang perempuan cantik. Dan dua orang anak.

Bayu meraih tanganku, mengajakku berdiri menghadap salah satu dinding cermin itu. Dia memeluk pinggangku dari belakang, meletakkan dagu di bahu kananku tanpa menekan.

“Kau lihat? Kau cantik…”

Aku diam. Bibirnya mulai mengecup leherku.

“Siapa perempuan di foto itu?”

Bayu berhenti.

“Istriku.”

“Kenapa kau masih mengajak aku ke sini?”

“Kenapa memangnya?”

Bayu membalikkan tubuhku. Mendekap erat. Mencoba mencium lagi.

Tak ada lagi aliran deras dan gemuruh itu. Tersumbat oleh bayangan istri Bayu. Dan dua anaknya. Bayu membiarkan aku melepaskan diri. Tapi kemudian menarikku lagi.

“Aku menyayangimu…”

Mata itu. Mata teduh itu. Kenapa aku sekarang justru merasa terganggu?

“Aku mau pulang, Bayu. Mungkin sebaiknya aku tidak  menemuimu lagi.”

“Tak ada yang salah jika kita saling mencintai, Sayang. Lihat aku lagi. Kau tidak akan mendatangi aku dengan gemetar malam itu, kalau kau tidak merasakan apa yang kurasakan.”

“Apa yang kau rasakan?”

“Persis seperti yang kau rasakan. Menemukan keindahan ketika kita saling berpandang.”

Aku runtuh. Dadaku terasa penuh. Tubuhku bergetar. Lumpuh. Aku seperti dihipnotis. Membiarkan Bayu menari hanya untukku. Dan aku ikut  menari bersamanya. Setiap geraknya mengalirkan energi. Sekaligus menguras. Aku meledak bersama erangannya di akhir tarian.

***

Aku tidak mudah jatuh cinta. Maka ketika aku jatuh cinta, kupikir aku berhak memberikan segalanya. Tidak ada yang salah jika kita saling mencintai, katamu. Karenanya kubiarkan kejadian itu berulang berkali-kali. Karena aku mencintaimu. Dan katamu  kau mencintaiku.

Tapi rasanya ada yang keliru. Aku membayangkan perasaan perempuan itu. Istrimu. Dan kedua anakmu.

Dan setiap pertemuan berikutnya menjadi ambigu. Kita telah merancukan cinta dan napsu. Pada kecup perpisahan selanjutnya aku semakin yakin ini tidak boleh dilanjutkan. Semakin lama aku semakin yakin aku harus melepasmu. Tidak peduli betapa erat kau mendekap, aku tahu aku harus pergi.

Getar hand phone yang kesekian kali. Sekilas kalimat melintas di layar.

“Bolehkah aku menemuimu besok sore?”

Ah. Aku ingin menemuimu. Aku ingin kau bawa lagi berkeliling melihat lampu. Aku ingin kau menari lagi hanya buatku. Aku ingin menari lagi bersamamu.

Dengan enggan kuketikkan sebaris kata, ‘Tidak, jangan temui aku lagi.’ Kirim.

Kurasa lebih baik begitu. Aku lebih suka langitku sendiri  menjadi kelabu. Ketimbang aku harus menaburkan awan di langit sesama perempuan. Biar bunga-bunga yang tumbuh oleh langkah bersamamu mati. Ketimbang aku harus menginjak-injak bunga yang ditumbuhkan di tanah orang.

Getar hand phone lagi. Panggilan darimu. Getarkan terus. Aku tidak akan menyambutnya jika itu darimu.

Ada luka yang semakin menganga setelah goresan-goresan kecil yang menumpuk sebelumnya. Oleh rasa bersalahku sendiri yang membiarkan jiwa hanyut oleh kata-kata dan sentuhanmu. Ada sepi menusuk. Oleh hilangnya keindahan warna-warni yang pernah kau sapu di hari-hariku. Malam ini biar aku berjalan sendiri melihat kelap-kelip lampu jalanan. Aku tahu mereka tidak bisa menghiburku. Entah pula kapan lukaku akan mengering. Tapi aku tidak ingin membiarkannya tergores lebih dalam.

Sebuah rombong rokok yang buka 24 jam. Perempuan setengah baya yang menungguinya, duduk terkantuk berteman radio butut.

“Bu, rokoknya satu…”

Si ibu tergagap dari kantuknya. Membuka kaleng rokok buatku. Kutarik korek yang tergantung dengan tali rafia di samping pintu.

Aku tidak mudah jatuh cinta. Dan jika harus jatuh cinta lagi, aku tahu aku harus lebih hati-hati.(Des 2013)

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Bukan Cinta Buta

  1. Terkadang kita lupa mana hal yang benar atau tidak karena tertutup rasa suka. Mematikan rasa iba (pada istrinya) dan melumpuhkan logika. Dan kemudian terjebak dalam hubungan yang banyak dibilang karena ‘suka sama suka’.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s